Tampilkan postingan dengan label NKKBS Bagian Pertama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NKKBS Bagian Pertama. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 November 2017

Review | Melancholic Bitch: “NKKBS Bagian Pertama” (2017)

 Dari: TelingaKiri

Melancholic Bitch: “NKKBS Bagian Pertama” (2017)

 

Happy families are all alike; every unhappy family is unhappy in its own way.

— Leo Tolstoy

SAYA selalu mengidentifikasi September sebagai bulan horor di Indonesia dan pada tahun ini semakin bertambah seram dan panas: (1) pihak TNI-AD [Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat] menginisiasi pemutaran kembali dan menggelar beberapa acara nobar [nonton bareng] film horor klasik-legendaris berjudul Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI [1984] garapan Arifin C. Noer; (2) beberapa ormas [organisasi massa] menyerang dan membubarkan secara paksa acara musik Asik Asik Aksi di kantor LBH Jakarta yang dianggap memiliki agenda untuk menyebarkan komunisme. September adalah bulan di mana berbagai macam narasi yang ada sejak pertengahan ‘60an sampai sekarang bertemu — narasi yang tumbuh dan berkembang di dalam warung-warung kopi pinggir jalan, tempat rapat partai politik, studio film, ruang diskusi kolektif, kelas-kelas sekolah, sampai bioskop — yang kemudian menggeliat, menyelinap, dan menjelma menjadi wujud-wujud yang berbeda dari ormas sampai berbagai macam catatan kecil di dalam buku pelajaran sekolah. NKKBS Bagian Pertama, album ketiga Melancholic Bitch yang dirilis pada 9 September kemarin, merupakan salah satu produk dari berbagai narasi tersebut. Kata-kata yang ditulis menggunakan pena atau apa pun adalah senjata yang bisa mengalahkan pedang atau bedil, dan pena yang digunakan Melancholic Bitch untuk menulis album ini sangatlah tajam.

NKKBS atau Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera adalah istilah / jargon yang menjadi fondasi di mana rezim Orde Baru pimpinan Soeharto membangun program KB (Keluarga Berencana) yang menggambarkan konsep keluarga ideal bagi masyarakat Indonesia. Melalui KB, secara teoretis Soeharto ingin membatasi keluarga Indonesia hanya dengan dua anak — dan program KB ini menjadi undang-undang pada tahun 1992, sementara semangatnya (keluarga kecil setara dengan jaminan kemakmuran kehidupan harian) menjadi merek dagang yang diobral di sana-sini pada saat itu. Program KB menjadi salah satu program andalan rezim pimpinan Soeharto yang bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional dan, pada saat yang bersamaan, memasukkan ideologi politik Orde Baru sampai unit terkecil masyarakat. Negara menyusup sampai ke ranjang tempat orang-orang bercumbu. Melancholic Bitch menghidupkan kembali kredo yang ganas ini dengan mengabadikan akronim dari jargon tersebut (NKKBS) sebagai nama untuk album ketiga mereka.
Konsep album ini cukup garang untuk sebuah rekaman musik — sejarah kelam, masa kanak-kanak, keluarga — namun tidak terlalu asing bagi Melancholic Bitch. Pada tahun 2009, misalnya, Melancholic Bitch merilis album bertajuk Balada Joni dan Susi: sebuah cerita pendek romantis dalam kemasan kritis tentang pasangan kekasih yang hidup dengan susah-payah. Lahir pada akhir ‘70an, Ugoran “Ugo” Prasad — sama seperti nama-nama yang tercantum dalam kredit album NKKBS Bagian Pertama: Yossy Herman Susilo, Yennu Ariendra, Richardus Arditya, Nadya Hatta, dan Danish Wisnu Nugraha — dibesarkan pada zaman rezim Orde Baru masih berkuasa, melakukan observasi pada kenangan dan pengalaman hidup masa kecilnya untuk kemudian mengubahnya menjadi sebuah konsep album yang garang dan ciamik.
Pada trek Aspal, Dukun, sebuah potongan album yang riang dan bersemangat, gambar yang terlukis dalam liriknya tampak buram dan kelam, atau bahkan absurd pada awalnya, namun melalui visi Ugo, lagu ini terasa benar-benar berakar pada kenyataan (“Aspal sampai di kampung terujung. Ini pasti jimat orang kota.”) yang mengisahkan tentang pembangunan desa-desa pada zaman Orde Baru yang malah melahirkan kecemasan dan masalah baru bagi masyarakat desa.
Dan hal semacam itulah yang bisa saya dapatkan dari lagu-lagunya Melancholic Bitch. Kehadirannya yang terputus-putus merupakan primer yang bagus, dan liriknya selalu berhasil merangsang otak untuk berpikir (atau dalam kasus saya setelah mendengarkan lagu-lagunya: membuka aplikasi browser di ponsel-cerdas dan berselancar untuk mencari tahu serta memastikan referensi dan maksud yang ada di dalam lagu-lagunya). Meski berusaha untuk tidak terkesan seperti surat panjang-lebar yang bertele-tele, Ugo menulis lirik-liriknya dengan samar-samar untuk membikin siapa saja yang mendengarnya berpikir dua kali dalam mencerna kata-kata yang ada di dalamnya.
Nomor propulsif Dapur, NKK/BKK mengolok-olok sebuah peraturan yang ditetapkan oleh rezim fasis Orde Baru pada tahun 1977 bernama NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus / Badan Koordinasi Kemahasiswaan) yang ditandai dengan masuknya militer ke kampus-kampus serta dihapuskannya Dewan Mahasiswa, dan lirik lagunya terdengar cukup rumit yang berhasil menyulitkan saya untuk memahami makna konkret yang ingin disampaikannya pada kesempatan mendengarkan yang pertama: seorang “ibu berubah kupu-kupu” di dapur, ada bayi yang lahir prematur dan kemudian “dimakan anjing”; lalu, untuk beberapa alasan, tentara menyerang dan mengepung kota. Menguraikan maksud dari lirik-lirik yang ditulis oleh Ugo membutuhkan waktu yang tidak sebentar, namun hal itu merupakan aktivitas yang sangat menyenangkan ketimbang menonton sekumpulan orang bebal melakukan hal-hal konyol di televisi atau membaca ujaran kebencian dan hinaan di kolom komentar media-sosial.
Ada juga referensi lain yang dimasukkan oleh Melancholic Bitch di lagu-lagu dalam album NKKBS Bagian Pertama ini: sistem pendidikan yang konyol dan penuh cacat di materi 666, 6; memori dan pengalaman kolektif menonton film propaganda dalam trek Bioskop, Pisau Lipat; kenaikan harga komoditas kebutuhan pokok di nomor Cahaya, Harga; kampanye program diet Empat Sehat Lima Sempurna dalam materi Selat, Malaka; serta hantu-hantu masa kecil, guru PMP (Pendidikan Moral Pancasila), dan Babinsa (Bintara Pembina Desa) di trek Normal, Moral.
Namun tema yang paling penting di album ini adalah keluarga, sebuah unit terkecil dalam tatanan kehidupan sosial masyarakat. Selat, Malaka menyusun ulang kisah Tan Malaka untuk menceritakan tentang anggota keluarga yang pergi meninggalkan rumah, bertemu dengan sebuah ideologi, dan kemudian melahirkan anak-anak revolusi “Empat Sehat Lima Sempurna” yang “kini sudah pada mati sempurna”. Dengan irama yang memabukkan dan melenakan, Trauma, Irama bercerita tentang seorang pelarian yang merindukan rumah dan ibu di kampung halaman setelah mengalami teror dan siksaan mengerikan yang tidak bisa dijelaskan. Titik Tolak, Pelarian menindak-lanjutinya dengan penegasan yang memilukan tentang nasib tidak bisa pulang ke rumah.
Secara musikal, ini merupakan salah satu album musik yang penuh dengan energi liar cum aneh dan mengancam yang pernah saya dengarkan: Trauma, Irama mengajak untuk menyelami kedalaman vokal Ugo, Selat, Malaka memamerkan denting piano yang menari-nari, Normal, Moral dengan ingar-bingar suara gitarnya yang meliuk-liuk. Beberapa lagu diakhiri dengan sembrono, terkadang diselingi suara piano atau organ gereja yang menggelisahkan. Musiknya menyajikan kemarahan yang mematikan dan memberikan penghinaan yang memuaskan di bagian yang tepat, dan di sisi lainnya mengabarkan kesedihan memilukan yang menyesakkan dada. Sialan!
NKKBS Bagian Pertama adalah rekaman musik yang dinamis dan manis, serta mampu melampaui harapan yang disematkan di pundaknya. Melancholic Bitch selama ini dikenal sebagai grup musik yang selalu punya konsep unik, nyeleneh, dan artistik, yang selalu mengajak penggemarnya untuk bersabar dalam penantian. Masa-masa penantian itu selalu mampu ditebus oleh Melancholic Bitch dengan kejutan yang menggelora dan menyenangkan, dan hal itu berbicara tentang kualitas band ini. Album ini bukan cuma sekadar media untuk mengabarkan bahwa Melancholic Bitch masih ada: NKKBS Bagian Pertama merupakan karya estetis dan autentik dari salah satu penulis musik terbaik yang pernah ada di Indonesia yang mencoba menceritakan kembali kenangan masa kecilnya saat hidup di zaman yang doyan mengubah teror menjadi narasi (dan ilusi) melenakan. Jahanam!  [ѧ]
* * * * *
— Daftar lagu NKKBS Bagian Pertama
1) Normal, Moral
2) Cahaya, Harga
3) 666, 6
4) Selat, Malaka
5) Dapur, NKK/BKK
6) Bioskop, Pisau Lipat
7) Aspal, Dukun
8) Trauma, Irama
9) Titik Tolak, Pelarian
10) Peta Langit, Larung
11) Lagu Untuk Resepsi Pernikahan

Selasa, 17 Oktober 2017

Review | Nylon Magz

Radar &;Music & On Stage: Melancholic Bitch…

By Vinny Vindiani on October 17, 2017
Kombinasi ambient yang tepat antara hujan, tata panggung serta cahaya magis. Membuat konser Melancholic Bitch di Rossi Musik terasa dramatis, khusyuk lagi intim.
Oleh: Alfian Putra Abdi.

Malam yang dingin setelah Selatan Jakarta baru saja diguyur hujan, dan di dalam mesin penyejuk masih berfungsi normal. Sayangnya Ugoran Prasad tidak bisa melakukan kebiasaannya ketika manggung. Dia terjebak pada sekat ruang beratap. Tapi bukan itu alasannya, dia hanya mau turut merasakan apa yang dirasakan kumpulan orang di depannya. “Nggak adil juga yaa. Di sini (saya) klepus..klepus.. di sana (kalian) diam saja,” ujarnya berusaha menepis kecewa tidak bisa merokok.
Melancholic Bitch (Melbi) secara umum ditafsir sebagai band alternatif rock dengan lirik yang imajinatif. Padahal Melbi lebih dari itu. Melbi sudah berubah status menjadi sekumpulan begundal pemupuk rindu. Akan bergelar penjahat, jika mereka tidak juga melangsungkan konser atau minimal gigs.
Selang empat tahun dari konser Menuju Semesta yang mereka garap di Bandung dan Jakarta dalam rangka merayakan ­re-Anamnesis. Mereka menetaskan satu karya seni suara bertajuk NKKBS Bagian Pertama di tahun ini. Sehingga ada alasan bagi para pendengarnya menagih bertemu.
“Sudah lama sekali tidak bertemu,” sapa Ugo. “Terima kasih sudah datang,” yang kemudian berlanjut memainkan sederet nomor di album terbarunya, secara runut. Sebenarnya malam itu cocok untuk bersantai setelah ditempa rutinitas. Orang-orang justru memilih berkumpul di Rossi Musik Fatmawati untuk memanen rindu pada Melbi.
Kombinasi ambient yang tepat antara hujan, Melbi yang dramatis, dan tata panggung serta cahaya magis. Membuat konser Melbi terasa khusyuk lagi intim. Malam itu Rossi Musik lebih condong sebagai titik temu sekte rahasia ketimbang gedung pertunjukan. Melbi mengenakan busana serba gelap berdominasi hitam, posisinya menyerupai diaken yang siap mengantarkan para jemaat – yang jumlahnya tak seberapa itu – untuk menyimak khotbah.

Setelah cukup menunggu, para jemaat Melbi diberikan suguhan “Departmental Deities and Other Verses” dari album Anamnesis, yang dibawakan minimalis dengan vokal Ugo dengan iringan piano Nadya Hatta sebagai introduksi. Sebelum semua trek dalam album NKKBS Bagian Pertama digelontorkan secara runut.
Semua masyuk menyelami runtunan sejarah dan peristiwa yang Melbi paparkan dalam bentuk audio yang dramatis juga emosional. Lagu-lagu itu ibarat firman, siapapun yang hadir tidak mau ketinggalan momentum untuk melantunkannya. Menciptakan paduan suara dan dentum dansa yang keluar begitu saja tanpa komando siapa.
Suasana menjadi sakral dengan tata panggung sederhana namun praktis. Titik berdiri personil diatur berjarak dengan ruang gerak-laku yang cukup dan lokatif, memungkinkan penonton bisa menikmati satu persatu personil dengan atraktif. Bisa juga disebut mistik dengan terpajangnya patung berkerudung terpal yang berdiri di belakang panggung selama pertunjukan berlangsung.
Konser itu menjadi terkesan keramat, dengan minimnya interaksi antara penampil dan penonton. Semuanya seperti sudah khusyuk pada lagu-lagu yang dilantunkan Melbi.
Melbi memang sudah berpredikat band mitos, lantaran jadwal manggung yang tidak menentu, bahkan dalam hitungan tahunan. Menjadi salah satu orang yang hadir di Rossi Musik, menjadi malam yang nyaris mendekati mitos. Beruntungnya malam itu benar nyata terselenggara. Tentu akan dikenang oleh siapapun yang ada di sana.
Tembang-tembang dari album Anamnesis dan Balada Joni dan Susi menjadi pamungkas malam itu. Sebelum akhirnya Melbi melanjutkan perjalanan ke Bandung dan kembali ke Yogyakarta sebagai pemupuk rindu yang ulung.

Senin, 16 Oktober 2017

Foto | ShutterBeater Limunas XI Trauma Irama, Melancholic Bitch



Liga Musik Nasional ke XI, menyiarkan “TRAUMA, IRAMA” oleh kelompok musik Melancholic Bitch. Auditorium IFI Bandung, 14 Oktober 2017.

Limunas XI: “Trauma, Irama” dibuka oleh Jason Ranti.
Silakan klik link berikut untuk lebih banyak foto: ShutterBeater





Minggu, 15 Oktober 2017

Review | [Ulasan Konser] Limunas Trauma, Irama : Mitos Itu Benar- Benar Nyata!

 Dari GilaNada


Ini konser apa ulangan bahasa Indonesia?
Malam Minggu (14/10), Bandung macet dan aku tak henti memaki situasi. Klakson mobil saling bersahutan, ada juga yang memaki angkot yang kutumpangi karena si sopir berhenti dimana pun seenak jidat. Menyebalkan memang, semua orang tak bisa membaca, semua orang tak bisa mengeja, sedangkan Susi sedang menunggu di Institut Francais Indonesia (IFI) Bandung, dibawakan Melancholic Bitch, mengemis-ngemis minta ditonton.
Aku tiba di IFI pukul delapan. Masih memaki-maki situasi karena tak bisa menonton Jon Kastella yang hendak jadi pembuka acara. Dua hari sebelumnya, aku berjanji pada Bang Jon -sapaan akrab Jon Kastella- bahwa aku hendak menonton setiap performa dia. Suaranya merdu, syahdu, dan benar-benar besar; mungkin sebanding dengan ukuran tubuhnya yang gempal dan wajah yang selalu tersenyum.
Meski demikian, penampilan lain cukup memukau untuk membuka konser ini. Hari ini adalah konser Liga Musik Nasional (Limunas) yang aku lupa sudah memasuki rangkaian ke berapa semenjak konser pertamanya; Rajasinga, Kelelawar Malam, dan Vrosk sekitar enam tahun  lalu.
Kali ini, helatan Limunas diberi judul Trauma, Irama yang dibawakan oleh Melancholic B1tch (Melbi), band aneh yang kerap muncul sebagai mitos. Bikin album tak tentu kapan waktunya, bikin konser tak tahu kapan waktunya, dan menghilang lagi tak tahu kapan waktunya. Aneh memang, kerjaannya bikin rindu penggemar dan vokalisnya, Ugoran Prasad seringkali seenak jidat membakar rokok di ruangan ber-AC. Menyebalkan.
Sebagai pembuka acara, Jason Ranti hadir untuk membantuku memaki situasi. Liriknya ngehe, dan membuatku tertawa puas. Semenjak kedatanganku, setidaknya ia membawakan tiga lagu untuk kusaksikan. Dua lagu, “Suci Maksimal” dan “Do’a Sejuta Umat” berasal dari album Akibat Pergaulan Blues dan satu lagu baru yang entah apa judulnya, pokoknya berisi tentang bagaimana seorang etnis Tionghoa melindungi istrinya yang hamil tua menjelang aksi 212. Setidaknya, penampilan Jason Ranti cukup memukau tadi. Apabila dideskripsikan dalam satu kalimat; Jason Ranti adalah Iwan Fals yang sedang konsumsi segaris marijuana. Yha.
Panggung cukup gelap waktu itu. Tak ada properti apa-apa selain sebuah manekin raksasa yang mengenakan pakaian sipil yang sedang dibungkus blackbag entah oleh siapa -mungkin oleh Creepy Creedy dalam film V for Vendetta atau mungkin oleh Penembak Misterius (Petrus) yang jadi momok paling menakutkan di era Orde Baru (Orba).
Konser ini sendiri merupakan rangkaian tur Melbi untuk mempromosikan album barunya yang berjudul NKKBS Bagian Pertama. Secara keseluruhan, album ini mengisahkan tentang berbagai cara yang dilakukan Orba untuk mengontrol masyarakatnya dari berbagai aspek. Mulai dari aspek terkecil seperti keluarga lewat program Norma Keluarga Kecil Bahagia Sederhana (NKKBS), kekerasan budaya lewat film Pengkhianatan G30S-PKI karya Arfin C. Noer, hingga cara-cara gelap lainnya.
Band ini aneh, ungkap Jeje -panggilan akrab Jason Ranti- saat memersilakan band aneh ini naik ke panggung. “Ini band jarang maen, tapi efek gitarnya seambregan,” kata Jeje yang disambut oleh tawa penonton.
Jeje pergi, manekin tinggal sendiri beserta instrumen lain yang sudah disiapkan. Di tengah panggung ada Oscar -piano milik Leilani Hermiansih alias Frau, sendirian ditinggal sahabatnya yang kini sedang di Berlin- yang dimainkan oleh Nadya Hatta. Sebentar kemudian, Ugo sang vokalis datang menyusul dan dilanjut dengan kedatangan personel lainnya. Apabila sebelumnya kita hanya mengenal Ugoran Prasad pada vokal, Yennu Ariendra pada gitar, Yossy Herman Susilo pada gitar synthesizer, dan Septian Dwirama pada perkusi, maka kali ini Simelbi mendapat dua personel tambahan; Nadya Hatta (Individual Life) pada piano dan Danish Wisnu Nugraha (FSTVLST) pada perkusi yang menggantikan posisi Septian.
Lampu gelap, musik dimulai, Ugo marah karena Yennu telat dan Nadya main piano sendiri. Sebagian penonton terdengar berceloteh;
“Kapan dong mau ngerokok?”
“Kalian pengen banget lihat saya merokok?” jawab Ugo. Penonton tertawa, musik pertama dimainkan.
Lagu pertama dibuka dengan “Departemental deities and the other verses” yang merupakan trek pembuka dari Anamnesis dan Re-Anamnesis; rilisan terakhir mereka paska Joni dan Susi. Semua penonton mulai menyanyikan musikalisasi dari puisi milik Rudyard Kipling ini. Atmosfer mulai terbangun, sekejap kemudian seluruh IFI terdengar semakin riuh.
Lagu dilanjut dengan “Norma, Moral” yang terbilang cukup anthemic. Tepat di belakang Ugo, ada sorotan slideshow berisi lirik lagu. Penonton menyanyikan reffrain yang memaki Orba secara blak-blakan lewat termin yang lantas berubah jadi jargon; “Pos ronda bahagia/ Pak disepak para preman/awas-awas bahaya anjing gila/Ada guru Pendidikan Moral Pancasila.” Apabila Orba masih hidup, semua penonton mungkin sudah menjadi properti panggung; dibungkus blackbag dan mayatnya hilang entah ke mana.
Setelah “Norma, Moral”, Melbi kembali membawakan beberapa trek dari NKKBS Bagian Pertama seperti “Dapur, NKK/BKK”, dan “666,6” sebuah kritik terhadap hegemoni yang telah tercipta hingga saat ini. Otak manusia jadi tumpul, kebanyakan dicecoki pemahaman agama secara mendangkal hingga Ugo harus ‘mengetes penonton’ untuk menghapal lirik-lirik Melbi.
“Kita lihat, sejauh apa kalian mampu menghafal lagu-lagu kami,” tantang Ugo.
“Dapur, NKK/BKK” dimainkan. Teks di slideshow benar-benar hilang, semua penonton tetap sing-along. Semua orang mendadak gila seperti lagunya; Kota telah dikepung tentara! Ini gila, ini konser apa ulangan bahasa Indonesia?
Tak terasa, dua belas trek NKKBS Bagian Pertama sudah dibawakan. Trek terakhir dari album ini “Cahaya, Harga” berhasil menarik animo penonton yang seolah sudah hafal di luar kepala liriknya.
Perlu diingat, menonton Melbi adalah mitos. Mitos seperti kata Barthes, seni bertutur paling mendasar dari manusia. Mitos bukan hanya sekadar cerita-cerita tentang dewa, tentang Tuhan, atau tektek bengek lainnya. Selama ia dipercaya oleh manusia, aspek budaya sekecil apapun layak disebut mitos, tak terkecuali menonton Melbi di mana semua penonton bisa bernyanyi sampai mampus.
Paska menyanyikan trek dari NKKBS Bagian Pertama, Melbi membawakan kembali lagu-lagu dari Balada Joni dan Susi serta Anamnesis. Trek pertama dibuka dengan “Akhirnya Masup Tipi”. Penonton cukup antusias, dan tak hentinya berteriak; “Susi ajarkanlah pada mereka/ bagaimana caranya mengeja,” berulang-ulang dan tak ada yang mampu membacanya hingga saat ini.
lagu lantas dilanjut dengan “7 Hari Menuju Semesta”, “The Street“, dan “Tentang Cinta”, dua lagu andalan dari album Anamnesis yang diteruskan di puncak keriuhan acara; “Mars Penyembah Berhala” dimainkan. Semua penonton bernyanyi, ada beberapa yang melakukan crowd-surfing. Sebuah momentum menakjubkan untuk konser balada.
Penonton lelah, penonton terlalu lama bermain seharian, “Nasihat yang Baik” pun dibawakan. Sebagian penonton ingin dangdutan, minta “Dystopia” dimainkan, namun tak digubris. Lagu tetap dilanjut dengan trek lain dari Balada Joni dan Susi; “Dinding Propaganda” dimainkan.
Menjelang dua lagu terakhir, asap rokok berkecamuk di tengah panggung. Band ini brengsek memang, merokok kok di ruangan ber-AC. Sebagian penonton ada yang mengeluh dan Melbi bersiap untuk pergi. Semua peralatan dirapikan kembali tapi penonton tetap minta encore. Joni pasrah, mereka memberikan dua trek encore, “Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa” pun dinyanyikan hingga penonton bahagia.
Konser ini sendiri ditutup dengan “Menara”, lagu terakhir dari Balada Joni dan Susi. Penonton riuh kembali, sambil berteriak mereka mengumandangkan anthem terakhir; “Membuka lahan kebun apel/ seperti Tuhan/ lalu kita dirikan menara yang tinggi/ lebih tinggi,” mereka tengadah, seperti Joni, seperti Susi. Total 22 lagu dibawakan Melbi, konser ditutup dengan lulabi yang dikumandangkan bukan untuk Joni, bukan untuk Susi, ataupun sekawanan Joni, maupun sekawanan Susi. “Tidurlah Isra, tidurlah Ilana“.
Mengutip Anna Karenina; sebuah keluarga bahagia, bahagia bersama- sama, keluarga tidak bahagia, tidak bahagia dengan caranya masing-masing (Lev Tolstoy, Anna Karenina, 1877).

Yang tersisa

@melancholic_bitch
・・・
Lalu kita jalan-jalan, dalam setengah bisik bisik. Kasih tumpah di setiap kelokan. Dalam memanggil kami, @boit3 dan @felixdass bikin kongsi. bersama #limunas dan @omuniuum di bandung dan @soundquarium dan @seribermaindicikini di jakarta. Dari jogja, @antongendel @dasojie dan @jenggotja menyeret kami dengan sabar, didukung - antara lain - @ilineaudiosystem, kua etnika, @teatergarasi, dan @fstvlst.

Tapi luapan kasih paling besar itu dari kalian : teman-teman Jakarta yang menerabas hujan dan macet jumat malam memasuki jalan fatmawati yang biadab, teman-teman Bandung yang bernyanyi dan menari seperti tak punya besok. Lalu sebagian kalian yang ada di dua kota itu bersama kami, membuang-buang waktu kalian yang kami tahu tak banyak itu.

Kasih kalian semua demikian mahal, tak mungkin bisa sepenuhnya kami bayar.

Satu satunya yang kami bisa : kami terima kasihmu itu, kawan, kami hirup sehingga dada kami penuh , sampai kami mengira kami bisa terbang.

Kalau masih ada besok, kasih itu akan mengantar kita di pertemuan berikutnya. Ini janji. Kapannya, kita jadwal lagi nanti. Kami paham, kalian sibuk.

Sekali lagi, terima kasih dan selamat menghabiskan sisa akhir pekan.

Kamis, 12 Oktober 2017

Konser | Bandung, Jakarta







Limunas XI  
Kolektif musik asal Jogjakarta yang menamai dirinya Melancholic Bitch ini punya tiga album, empat kalau yang reissue juga dianggap album penuh. Anamnesis, Balada Susi dan Joni, Reanamnesis dan yang baru saja rilis NKKBS Bagian Pertama. Khusus BJS, ada seorang teman yang bertanya, kategori musiknya apa? Kami jawab dengan semena-mena, itu seni, itu pop kontemporer, itu terserah apa mau disebutnya pokoknya musik.
Satu yang pasti, diatas panggung mereka punya energi yang pas untuk merepresentasikan secara live album yang mereka buat. 2013, Melbi, panggilan singkatnya sudah pernah memainkan BJS secara penuh di Liga Musik Nasional IV dan banyak yang jatuh cinta. Sekarang, mereka membawa amunisi baru, #nkkbsbagianpertama.
Album baru baru mereka diberi tambahan darah muda, ada Nadya Hatta dan Danish Wisnu Nugraha, nama yang terakhir adalah drummer dari FSTVLST selain tentu saja personil lama mereka,
Richardus Arditya, Yennu Ariendra, Ugoran Prasad dan Yossy Herman Susilo.
Tentu saja kami di Limunas punya perhitungan sendiri kenapa mereka kembali dihadirkan di Bandung dan kami mengajak semua teman untuk kembali atau mungkin menyaksikan mereka pertama kali nanti tgl 14 Oktober di auditorium IFI Bandung.
Penampilan mereka di #limunasxi nanti ditemani oleh Jason Ranti.

Sabtu, 30 September 2017

Review | Kitab Ajaran Keluarga Para Jalang Melankolis

Kitab Ajaran Keluarga Para Jalang Melankolis

 Arasy Aziz
Ada sebuah shelter bus Trans Jogja di ujung selatan kawasan Malioboro, berdiri berhadap-hadapan dengan Taman Pintar. Pada hari-hari yang riuh, akhir pekan yang panjang, shelter itu akan penuh sesak dengan calon penumpang yang hendak beranjak ke ragam penjuru angin Jogjakarta. Antrean bisa mengular hingga ke tangga landai yang ujungnya menyatu ke permukaan trotoar. Beberapa menit sekali, bus Trans Jogja akan singgah mengangkut penumpang.
Jika bus-bus yang datang dari timur telah sama penuhnya dengan isi shelter, maka antrean panjang itu harus bersabar sekali lagi. Hanya satu dua akan terangkut. Sisanya terpaksa melengos beberapa kali. Menunggu bus yang datang belakangan.
Lalu bus yang lebih lengang tiba. Penumpang naik satu per satu, dan udara di shelter sempit kembali melegakan.
Dalam sejumlah lawatan ke Jogja, saya beberapa kali menumpang Trans Jogja dari shelter di depan Taman Pintar itu. Biasanya setelah seharian mengeluyur sendirian di Malioboro dari ujung ke ujung. Perjalanan mengelayap umumnya akan saya akhiri di pasar buku di belakang Taman Pintar, mencomot beberapa buku untuk di bawa pulang. Berjalan kaki dari pasar menuju shelter memakan waktu kurang dari 3 menit.
Namun pada kunjungan ke Jogja di bulan Januari 2014, situasinya berubah sedikit berbeda. Menunggu bus datang di shelter yang sama terasa nelangsa detik demi detik. Kala itu saya memilih bersandar di salah satu sisi pintu penaikan-penurunan penumpang yang hampir tak pernah tertutup. Beruntungnya, halte pada hari-hari itu cukup lengang. Cuaca Jogja tak begitu panas, bahkan cenderung abu-abu. Mendung.
Mata saya tak lepas dari kendaraan yang mencoba membelah jalanan sekencang mungkin, sebelum hujan benar-benar turun. Tak ada yang mau terjebak hujan di jalanan. Mata saya tak lepas, namun pikiran saya sedang tidak ada di sana. Tidak di jalanan itu, tidak di dalam shelter. Tidak sekalipun mengekor sepeda motor yang berlalu. Saya memang terserang sakit jiwa tingkat pertama waktu itu. Suasana di sekitar shelter yang sesungguhnya baik-baik saja berubah menjadi serba sentimentil.
Lalu hujan akhirnya benar-benar turun.
Pada saat itu, sayup-sayup intro “Departemental Ditties and Other Verses” mulai terdengar. Lalu sealbum penuh “Re-Anamnesis”, milik Melancholic Bitch (Melbi). “We are very slightly change…”


Sejak saat itu, segala tentang Melbi menjadi serba melekat pada suasana shalter busway di selatan Malioboro itu. Pada sendunya yang remang-remang, sebelum dindahkan ke dalam ragam situasi yang lain. Eksistensi fisikal shelter yang tiga dimensi barangkali telah samar-samar, namun saya menyimpannya sebagai sebuah kategori perasaan tersendiri.
Lagu-lagu Melbi diramu untuk mengiyakan kegelisahan a la shelter itu. Memperbincangkan cinta dengan cara dan sudut pandang tak jamak. Makna literer shelter sebagai tudung perlindungan dimaknai ulang sebagai cukup ruang personal untuk memahami kegelisahan. Menciptakan rasa aman yang hadir dari penerimaan dan usaha untuk mengerti.
Lalu pada putaran lagu-lagu Melbi yang kedua, saya mulai menyimak liriknya dengan saksama. Setiap katanya seolah dijahit berdasarkan riset puluhan tahun atas kebudayaan manusia. Setiap katanya dipilih secara hati-hati sebagai sajak, sebelum ditimpali dengan bebunyian dari instrumen yang kaya. Di dalam musiknya saya temukan instalasi cermin untuk sebuah refleksi.
Pada putaran ketiga dan selanjutnya, yang terjadi adalah adiksi menahun.
Sebagaimana terhadap banyak band favorit, saya diam-diam mulai menyimpan asa untuk menyaksikan band ini secara langsung, hadap ber hadapan. Masalahnya, Melbi sendiri bukanlah band yang mudah ditemui. Sebagaimana lagu-lagunya mengubah sebuah shelter Trans Jogja menjadi imaji tak terjelaskan yang melulu kontekstual, eksistensi band ini pun hampir sama abstraknya.


Konon sejak merilis “Balada Joni dan Susi” -album penuh kedua mereka- pada tahun 2009, penampilan live Melbi dapat dihitung dengan jari sebelah tangan. Personelnya lebih banyak berkutat dengan urusan masing-masing. Salah satunya melanjutkan studi ke luar negeri, yang lain berkeliling Indonesia sebagai sound engineer. Mite tentang Melbi diperbincangkan kasak-kusuk, sementara bandnya, sebagaimana istilah yang dipergunakan banyak media, memasuki fase hidup segan mati tak mau.
Namun pada suatu hari, tanpa gerhana atau meteorit, laman media sosial mereka mendadak genit kembali dan sibuk bercuit-cuit. Melbi menggoda penggemarnya dengan isyarat kelahiran sebuah proyek baru. Lalu tanggal konser pada permulaan September segera ditetapkan. Yang membahagiakan dua kali lipat, konser tersebut sekaligus menjadi ajang peluncuran album mutakhir mereka setelah 8 tahun, NKKBS Bagian Pertama.
::
Saya tiba di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM 15 menit kurang pukul 7 malam. 12 jam sebelumnya, saya masih menunggu kereta api di stasiun Senen.
Pintu arena pertunjukan masih tertutup sekenanya. Selain para penjaga pintu, aktivitas panitia hanya tampak di booth penukaran dan pembelian tiket. Sementara orang-orang yang menunggu menyemut hingga ke halaman parkir. Saya memilih merebahkan diri di salah satu pojok yang lengang dekat pintu masuk. Ketika pukul 7 terlampaui, belum ada tanda-tanda pintu akan dibuka. Saya melanjutkan apa yang telah saya lakukan sejak pertama kali tiba; mengamati detil-detil album baru Melbi di tangan saya.
Nomor-nomor di dalam NKKBS Bagian Pertama dijuduli dengan cara yang ganjil. Umumnya terdiri atas dua kata atau frasa, dengan dipisahkan koma di tengahnya. “Normal, Moral”, “Dapur, NKK-BKK”, “Aspal, Dukun”, “Selat, Malaka”, semisal. Satu-satunya lagu dengan judul yang memenuhi unsur sebuah kalimat normal tersisa di akhir album, “Lagu untuk Resepsi Pernikahan”. Saya menebak-nebak alasannya. Jika mengingat-ingat kebiasaan artistik Melbi, cara penulisan ini barangkali adalah sebuah detil metaforis yang tak lepas dari tema umum album itu sendiri.
Lamunan saya buyar ketika para penjaga pintu mulai sahut menyahut menyilakan orang-orang untuk masuk ke gedung. Saya bergabung ke dalam antrean masuk.

Malam itu, Interior PKKH dibalut dengan kain hitam sepenuhnya. Kami harus melalui koridor, sebelum kain hitam panjang itu menemui ujungnya.  Di sisi dalam telah berdiri sebuah panggung besar dengan instalasi patung yang terbungkus terpal, dililit berutas tambang. Sayup-sayup diperdengarkan lagu mars Keluarga Berencana (KB) lewat pengeras suara. Sementara di latar panggung diproyeksikan potongan gambar dari proyek seni rupa “Indonesian Family Potrait Series” karya Akiq AW. Syahdan, NKKBS Bagian Pertama terinspirasi dari serangkaian intalasi ini.
Tepat pukul 8, Nadya Hatta yang mengisi seluruh bagian keyboard dalam album ini naik ke panggung. Ia mulai memainkan sejumlah nada, sebelum vokalis Melbi yang kesohor itu menyusul naik. Dari kerongkongannya yang penuh asap sigaret, mulai berdengung lirik yang segera saya kenali.
We are very slightly change / From a semi apes who range / India’s prehistoric clay / India prehistoric clay //”
Departemental Ditties didapuk sebagai intro konser. Saya menyeru sendiri dengan haru tertahan mengiringi Ugo bernyanyi. Pada nada terakhir, konser berlanjut dengan resital seluruh isi album NKKBS Bagian Pertama, dari awal hingga lagu terakhirnya.
::
Mendengarkan NKKBS Bagian Pertama ibarat membaca sebuah laporan penelitian sosial komprehensif mengenai struktur sosial masyarakat Indonesia sejak merdeka. Di dalamnya, Orde Baru ditempatkan berdiri di tengah-tengah, membagi titi mangsa sejarah kebangsaan diantara pendahulu dan setelahnya.
Konteks NKKBS Bagian Pertama rasanya telah dimulai jauh semenjak bulan-bulan jelang kemerdekaan. Pada sebuah perdebatan di BPUPKI, Prof. Soepomo mengajukan sebuah konsep kontroversial mengenai bentuk negara yang hendaknya dianut Indonesia kelak. Ia menyebut dengan malu-malu Jepang dan Jerman, dua negara yang notabene mengawali kekacauan Perang Dunia II, sebagai sumber inspirasinya. Malu-malu, karena sebelum terlalu jauh dituding mencomot gagasan fasis, Soepomo buru-buru berkilah bahwa konsep yang ia bawa tak sepenuhnya sebangun dengan idelogi itu. Yang hendak ditekankannya adalah betapa negara haruslah mencakup segala tanpa terkecuali di dalam sistem yang meniru dinamika keluarga. Pemerintah menjalankan lakon sebagai seorang ayah.
Salah satu konsekuensinya, konstitusi Indonesia kelak tak perlu memuat klausul-klausul mengenai Hak Asasi Manusia (HAM). Selain dituding kelewat liberal dan kebarat-baratan, perlindungan HAM sudah menjadi wewenang intrinsik pemerintah, tanggung jawab moral struktural, sehingga tak perlu diucapkan secara formal di dalam perundang-undangan. Beruntung di dalam forum yang sama bermukim sosok Hatta dan Yamin. Ide ini, pada akhirnya, tak benar-benar diterapkan secara utuh.
Namun kerangka pengaman yang didirikan para pendiri bangsa dari bahaya laten integralisme itu rupanya tak benar-benar kuat. Mudah ditebak, karena hanya berwujud satu pasal di dalam UUD 1945. Kekuasaan tokoh-tokoh revolusi 1945 berakhir pada tahun 1966, beberapa bulan setelah peristiwa kontroversial G30S. MPR sebagai lembaga tertinggi negara pada waktu itu mengalihkan mandat pemerintahan dari tangan Soekarno kepada Soeharto, sang pahlawan G30S. Orde Baru berdiri di atas remah-remah rezim sebelumnya.
Di tangan Soeharto, konsep integralistik akhirnya menemukan dimensi praktikal. Di dalam monograf bertajuk “Pahlawan-pahlawan Belia: Keluarga Indonesia dalam Politik”, Saya Sasaki Shiraishi menggambarkan bagaimana sang Jendral berusaha memapankan posisinya sebagai bapak bangsa. Warga negara diperlakukan sebagai anak yang harus senantiasa manut terhadap standar moralitas rezim. Slogan Tut Wuri Handayani diwacanakan ulang sedemikian rupa dalam relasi kuasa a la militer, sehingga kepatuhan setiap orang menjadi tak bersyarat. Segala bentuk penyimpangan sudah sepantasnya dihukum sebagai bentuk kasih sayang. Pemahaman ini belakangan melegitimasi tindakan represif Orde Baru atas ekspresi yang bertentangan dengan haluan politik rezim, atau apa-apa yang dinilai dapat mengganggu stabilitas.

Dan negara yang dijalankan dengan prinsip kekeluargaan membawa konsekuensi lain. Di dalam sebuah keluarga, batas-batas antara privasi anggotanya hampir-hampir samar. Keluarga adalah oikos itu sendiri, muasal pranata rumah tangga yang paling asali. Dengan demikian di dalam negara kekeluargaan, pemisahan antara yang privat dan yang publik berusaha dihilangkan. Negara perlu menyerobot dan mengontrol ruang-ruang paling pribadi warga negaranya dalam kedudukannya sebagai pemimpin pranata keluarga.  Mereka perlu tahu siapa gadis yang dibawa anak laki-lakinya ke dalam kamar, dan pada pukul berapa mereka bersenggama. Negara harus tau masakan apa yang di masak ibu hari ini. Negara perlu mengetahui berapa anakmu, dan kalau perlu, mengatur jumlahnya.
Konsep keluarga ideal pada akhirnya menjadi wacana dominan dalam sentrum politik Indonesia, dan semakin mapan di era Orde Baru. Melalui beragam kanal, ia menelusup sebagai doktrin yang menjamah sub-sub kesadaran manusia Indonesia. Sekalipun tatanan Orde Baru telah berakhir hampir 20 tahun silam, gaungnya tetap terasa hingga hari ini. Bagi mereka yang lahir dan bertumbuh sebelum ’98, kesadaran itu barangkali masih utuh. Namun bagi generasi yang lebih muda, pengetahuan sadar mengenai daya rusak Orde Baru hanya dapat dikenali melalui informasi pihak kedua, ketiga.
Narasi besar album NKKBS Bagian Pertama kemudian menjadi peretas bagi gap ingatan antar generasi itu. Fokus utamanya memang tentang pembacaan kritis atas konsep keluarga a la Orde Baru. Namun apabila ditimbang-timbang, NKKBS justru telah beranjak kepada sebuah epos yang hampir lengkap mengenai percobaan rekayasa sosial yang berusaha ditutupi rezim dengan gincu pembangunan. Kadang-kadang tekstual, namun lebih banyak disampaiakn dengan majas dan lelucon gelap, dingin.
Sejak track pertama, saya dibawa kepada banyak tinanda tandingan atas diksi-diksi yang kerap digunakan Orde Baru di dalam demagoginya. Kita tahu, kata “hantu” selama Orde Baru terpersonifikasi di dalam propaganda anti Komunisme, agar ideologi yang disebut belakangan terus-terusan hadir sebagai musuh bersama. Melbi mengajukan “Bioskop, Pisau Lipat” sebagai single pertama album NKKBS. Sebuah balada tentang memakai “bendera sebagai seragam,” ketika “digelandang ke bioskop jam 9”. “Bioskop, Pisau Lipat” dirancang untuk lebih mudah dicerna dan dinyanyika ulang, dan dengan demikian, membangkitkan sebuah trauma kolektif masa sekolah dasar.
Pendekatan hantu Orwellian a la Orde Baru tidak hanya berkutat pada wacana anti komunisme. Ia meraba jauh ke sela selangkangan, ke atas tubuh perempuan. Di dalam “Normal, Moral”, pelekatan gaib sang “hantu” dialihkan pada subyek guru Pendidikan Moral Pancasila yang hadir di “ranjang tempat kau bercumbu,” dan “tidak senang mendapati istrimu tak lagi perawan.” Sang guru adalah wakil dari big brother yang mengonstruksikan alam bawah sadar manusia Indonesia dengan gagasan tentang keperawanan sebagai prasyarat ideal seorang wanita lajang.
Ajaibnya, beberapa hari setelah album ini dirilis, seorang hakim mengusulkan tes keperawanan sebagai prasayarat pernikahan. Apabila seorang perempuan gagal melaluinya, negara dapat mengambil tindakan preventif dan represif. Novum maha tolol ini diklaimnya dapat menekan tingkat perceraian, sehingga laki-laki tak perlu rugi menikahi wanita yang tak lagi perawan. Si hakim adalah dokumentasi aktual dari generasi yang merawat nilai-nilai yang tengah dicemooh Melbi. Saya terpukau dan hampir-hampir mengira bahwa Ugoran Prasad dan kolektifnya memang merupakan sekumpulan nabi.
Keberlanjutan wacana politis Orde Baru dalam situasi kekinian dapat dibaca di lagu lain. Nomor “666,6” dinyanyikan sebagai kritik gamblang terhadap rendahnya literasi dan kemahiran saintifik masyarakat Indonesia, dibanding penguasaan mereka terhadap kitab suci. Kecenderungan yang muncul belakangan di kalangan orang beriman justru skeptisisme atas perkembangan ilmu. Perdebatan tidak perlu mengenai bentuk bumi kembali mengemuka ke ruang publik setelah ratusan tahun. Lagu tersebut dijuduli dengan epigram jumlah ayat Al Quran, seolah-olah menunjukkan adanya pemahaman yang terbalik tentang relasi agama dan akal sehat.
Yang berbahaya, kemalasan membaca itu berbanding lurus dengan syahwat untuk memaksakan moralitas agama sebagai standar retribusi hukum. Lelaku masyarakat dinilai berdasarkan “apa yang surga, apa yang neraka.” Artinya, peran agama semakin di dorong untuk masuk ke urusan polis secara utuh.

Apa yang terjadi hari ini barangkali adalah buah dari pergeseran konstituensi Orde Baru pada dekade terakhir rezim. Sejak 1965, Angkatan Darat (AD) menjadi lengan politis utama Soeharto. AD membantunya membangun fundamen-fundamen dasar pemerintahan, dimulai dari elemen-elemen  prinsipil hingga ke dalam praktik birokrasi. Namun di akhir ’80-an, sang jendral memutuskan memperbaiki hubungan dengan kaum islamis yang selama ini dipecundanginya.
Robert Hefner di dalam “Civil Islam” menyebut, rekonsiliasi ini bermula oleh keputusan Soeharto untuk menunaikan ibadah haji. Haji notabene adalah rukun agama yang memiliki kuasa labeling penting dalam pergaulan sosial masyarakat Indonesia. Dapat diartikan, sang jendral berusaha meminimalisasi citra sekular dan kejawen yang selama ini dia tunjukkan, dengan meraih status sosial tertentu. Soeharto kemudian menyokong pendirian pranata-pranata sosial berbau keislaman, sekalipun tidak mengiyakan seluruh tuntutannya, termasuk Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).
Di akhir kekuasaan Orde Baru, ketika huru-hara krisis ekonomi mulai terjadi, militer diam-diam membentuk unit-unit kombatan sipil di bawah naungan program Pamswakarsa. Komposisinya terdiri atas beragam latar belakang ideologi dan sosial, termasuk kaum islamis. Pada hari ini, ketika mereka yang menklaim bernafas Pancasila tampak kekurangan ekspos kamera, kolektif yang disebut belakangan justru semakin berkembang dalam kecepatan yang mengkhawatirkan, serta aspirasi politik yang vulgar; membentuk tatanan sipil berdasarkan “apa yang surga, apa yang neraka.”
Selain kekayaan wacananya, NKKBS Bagian Pertama juga melangkah lebih jauh dalam ekplorasi musikalitas. Dua album pendahulunya dihidangkan dengan rona yang lebih gelap, meminjam unsur-unsur psychedelic dan post-punk ’80-an. Di dalam NKKBS, Melbi melakukan pengayaan dengan musik rock yang lebih segar dan bergerigi. “Aspal, Dukun” mengocok gitar dan melengking dengan sentuhan rockabilia, sehingga terdengar menyenangkan untuk didengarkan sembari berkendara di jalan raya. Kebetulan, lagunya bertutur tentang franchise toko serba ada yang berkembang biak mengikuti pertumbuhan aspal. Masuk ke pelosok-pelosok, hingga dituding sebagai “jimat orang kota.”
Dengarkan pula nomor penutup “Lagu untuk Resepsi Pernikahan” yang menggelikan. Struktur nadanya memang memenuhi kriteria ideal lagu pengiring pengantin, namun liriknya membawa pesan yang jomplang. Ia mencerca praktik resepsi pernikahan hari ini yang gemerlap, namun menyisakan utang. “Cinta…” ujarnya “diseret paksa” sehingga pelaminan dapat terisi oleh pasangan yang berbahagia. “Lagu untuk Resepsi Pernikahan” menjadi bab akhir bagi NKKBS Bagian Pertama dengan simpulan yang cenderung melankolis atas institusi keluarga.
::
11 lagu di dalam NKKBS Bagian Pertama purna dibawakan Melbi dalam 46 menit. Enam orang di atas panggung memohon undur diri. Namun pertunjukan belum selesai. 10 menit berselang, para personel Melbi kembali ke atas panggung dengan kaki-kaki yang lebih segar.
Jika pada sesi pertama penonton lebih banyak tergagu, sesi kedua konser NKKBS ibarat pelukan panjang pelepas rindu para penggemar Melbi. Sungguh hangat dan karib.

Sebuah intro panjang digaungkan, menemani salam-salam Ugo kepada mereka yang menunggunya. Berturut lelagu penting mulai dinyanyikan dari kerongkongannya yang masih penuh asap. “Akhirnya Masup Tipi”, “Tentang Cinta”, “7 Hari Menuju Semesta”, “Mars Penyembah Berhala”, “Sepasang Kekasih yang Bercinta di Ruang Angkasa”, “The Street”, “Menara” hingga “Nasihat yang Baik”. Sepanjang set kedua, gedung PKKH riuh dan penuh oleh paduan suara dadakan para penonton.
Saya sendiri terus bernyanyi kesetanan seperti orang-orang yang lupa jalan pulang. Diam-diam, NKKBS mengganti imaji tentang shelter Trans Jogja di selatan Malioboro. Yang tersisa dari sana adalah refleksi yang menerus, sementara kegusarannya menguap ke udara. Meluruh sepenuhnya dengan lampu sorot warna-warni dan keringat beterbangan. Saya melompat dengan beringas ke kanan dan ke kiri, ke depan ke belakang, setengah lupa bahwa di sekitar saya masih ada orang lain. Mengacungkan lengan di “Mars Penyembah Berhala”, berteriak-teriak semaunya. Merekam “Sepasang Kekasih yang Bercinta di Ruang Angkasa” untuk pacar yang batal turut serta karena acara keluarga mendadak. Sang terang, bagaimanapun, harus tetap merasakan secuil atmosfer NKKBS.
Saya bersikap seolah konser malam ini adalah konser terakhir Melbi dalam beberapa tahun. Atau seolah akan menunggu lama kembali untuk NKKBS Bagian Kedua.
Namun pada akhirnya, Melbi buru-buru menepis ketakutan ini. Konon, tidak akan ada lagi penantian hingga 7 tahun atau lebih. “Kita akan segera bertemu kembali,” tegas Ugo sebelum mengajak Melbi berpamitan yang sebenar-benarnya. (*)

Sabtu, 23 September 2017

Artikel | Melancholic Bitch: "Orde Baru Cerdas Ganti Baju"


Melancholic Bitch: "Orde Baru Cerdas Ganti Baju"

Melancholic Bitch: "Orde Baru Cerdas Ganti Baju"
Grup musik asal Yogyakarta, Melancholic Bitch. FOTO/Istimewa
23 September, 2017 dibaca normal 5 menit
Penantian delapan tahun terbayar tuntas selepas melihat mereka kembali lagi di panggung musik.
tirto.id - Ambalika Larasati tentu tak menyangka jika malam itu, Sabtu 9 September 2017 menjadi salah satu malam yang tak terlupakan. “Gue hampir nangis. Badan merinding liat tata suara, lampu, dan nyanyian-nyanyian intim yang memberi kesakralan,” begitu kira-kira isi pesan yang ia kirim kepada saya.

Ambalika jauh-jauh datang dari Jakarta untuk menyaksikan lahirnya kembali band veteran Yogyakarta, Melancholic Bitch yang pada 9 September 2017 lalu melangsungkan konser peluncuran album baru bertajuk NKKBS Bagian Pertama. Euforia terhadap Melancholic Bitch tak bisa disangkal semenjak mereka memutuskan kembali lagi ke studio, merekam materi, hingga akhirnya menyapa publik Yogyakarta yang sudah menantikannya.

Rencana pembuatan album baru kiranya sudah mereka susun sejak jauh-jauh hari. Antara bulan Juni dan November 2016, Ugoran Prasad, Yennu Ariendra, Richardus Arditta, dan Yossy Herman mulai membicarakan wacana tentang album baru yang menurut catatan, terakhir kali mereka rilis adalah saat Balada Joni dan Susi (2009). Pada Januari 2017, Melancholic Bitch melakukan workshop materi yang menjadi landasan komposisi tiap lagu di akhir bulan.

“Dalam album baru ini kami ketambahan personel baru yakni Nadya Hatta dan Danish Wisnu Nugraha. Semua berlangsung deras dan cepat seperti dikejar setan. Problemnya persis seperti itu, dikejar setan lalu bikin deg-degan. Dan belum tertangkap setan bukan berarti tidak akan tertangkap. Siapa tahu dia menunggu di kelokan. Maka kami memutuskan daripada pasif dikejar mending kami mengejar,” terang Ugo mengenai fase awal pembuatan album baru kepada Tirto.

Dalam album barunya, Melancholic Bitch mengusung keluarga sebagai tema utama. Mereka menelusuri apa dan bagaimana keluarga disusun serta dibayangkan secara sosial. Di Indonesia, salah satu manifestasinya adalah NKKBS.

Tajuk NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera) tak bisa dilepaskan dari jargon propaganda yang dilahirkan pemerintah Orde Baru di era 1980an. Lewat NKKBS, Soeharto bercita-cita menyelaraskan tujuan percepatan ekonomi dan persemaian ideologi politik Orde Baru melalui kehidupan rumahtangga.

“NKKBS mungkin saja dianggap barang lama, hasil produk Orba. Tapi tak semua barang lama basi. Orba misalnya, barang lama yang sepertinya enggak mati-mati. Cerdas ganti baju. Layaknya setan, Orba masih setia di balik setiap kelokan,” ungkap Ugo yang saat wawancara dengan Tirto berada di Sydney, Australia untuk menyelesaikan disertasinya.

Ketika ditanya apakah album ini mencerminkan sisi politis Melancholic Bitch, Ugo menjawab, “Enggak juga. NKKBS Bagian Pertama enggak lebih politis dari Balada Joni dan Susi atau Anamnesis. Kalau lebih lugas, mungkin.”

Selama proses pembuatan album, Ugo mengakui bahwa kurasi nada dan lirik saat menyusun komposisi adalah bagian terpenting agar tercipta hasil yang sesuai. Bahkan tak jarang beberapa lagu harus direkam ulang akibat terdapat lirik yang kurang tajam.

Total terdapat 10 lagu dalam NKKBS Bagian Pertama. Tiap lagu memberikan penggambaran khas dari situasi tertentu yang tak lepas dari benang merah keseluruhan. Misalnya dalam “Normal, Moral” yang kental akan simbol-simbol Orde Baru, mulai dari Babinsa hingga Pendidikan Moral Pancasila.

Begini bunyi liriknya: Pos Ronda Berencana/Babinsa Bahagia/Pak disepakpak para preman/Awas awas bahaya anjing gila/Ada guru Pendidikan Moral Pancasila.

Atau di “Cahaya, Harga” yang menyentil kondisi perekonomian dan kesenjangan dalam negeri (Radio mengumumkan kematian harga cabai/Bahan bakar minyak dicampur air untuk obat/Pusing pusing menahun sembuh dalam sekejap/Padamu negeri jiwa raga ampas kami/Radio mengumumkan kematian harga diri).

Sementara itu pada “Dapur, NKK/BK,” Melancholic Bitch bertutur tentang aksi militer dalam tragedi 1965 (darah kupu-kupu/tentara/Kota sudah dikepung tentara/Sudah dikepung tentara).

Tak ketinggalan pula melalui “666,6”, Melancholic Bitch ingin memperlihatkan kelakuan para begundal yang berkedok pembela agama (apa yang berdarah dan luka apa yang terengah tak pernah bisa kau kurung dengan sejuta kerudung/apa yang surga apa yang neraka/kumpul kumpul tukang pukul/benda-benda tajam tumpul/kumpul kumpul tukang pukul).

Namun di antara lagu lain, balada berjudul “Bioskop, Pisau Lipat” dianggap menjadi kekuatan penting dalam album NKKBS Bagian Pertama. Lagu tersebut terinspirasi oleh pengalaman Ugo ketika menyaksikan film propaganda Orde Baru, Pengkhianatan G30S/PKI. Jika dikaitkan dengan situasi terkini, lagu “Bioskop, Pisau Lipat” kiranya relevan untuk didengar.

“Pada titik tertentu relevansi adalah kerja politik (negara, media, warga) agar sesuatu menjadi relevan. Tapi subyek propaganda ini sebagai problem yang berkelanjutan, agak berbeda. Misalnya, kerja IPT (International People Tribunal) 65 belum selesai dan perjuangannya masih harus diteruskan.

Terus ada jargon-jargon yang terus jadi hantu hari ini, berkat keberhasilan propaganda Orba. Ini problem berkelanjutan. Kekusutan politik sejarah membuat kita akan sulit memahami hari ini, apalagi besok,” terang Ugo.

Baca juga: Memahami Selera Musik Milenial

Keseluruhan lagu di NKKBS Bagian Pertama digarap oleh Ugo, yang mengibaratkan menulis lirik lagu tak ubahnya kegiatan belanja di pasar atau supermarket. Mulanya membuat daftar namun di tengah-tengah bisa saja terjadi improvisasi untuk membeli apa yang tidak tertera dalam daftar. “Akhirnya, kesetiaanku pada daftar adalah 60 banding 40.”

Bagi Ugo, perbedaan mencolok album ini dibanding Balada Joni dan Susi ialah ketiadaan penggebuk drum Septian Dwirima yang dalam kata-kata Ugo adalah "sosok drummer penuh magis". Menurut Ugo, ketidakhadiran Septian dirasakan sebagai kehilangan besar.

“Tapi di album ini kami kedatangan Nadya Hatta, keyboardist yang juga magis, serta Danish Wisnu, drummer yang energinya sangat muda. Hasilnya membuat kami merasa sedang mencuri usia. Ini sepertinya menjadi perbedaan mendasar,” terang Ugo.

Cita-Cita yang Belum Kesampaian

Melancholic Bitch dibentuk pada tahun 1999 oleh Ugoran Prasad dan Yosef Herman Susilo di sela-sela aktifitas mereka dalam proyek kesenian Performance Fucktory. Setahun kemudian menyusul masuk Teguh Hari Prasetya, Yennue Ariendra, Septian Dwirima, Richardus Ardita, dan Pierna Harris.

Melancholic Bitch sesekali mengisi panggung lokal, bermain di luar kota, meramaikan musik teater dan film, akan tetapi mereka lebih sering duduk bersama, bercanda, lalu berdamai sebelum memulai "permusuhan" berikutnya.

Dalam perjalanannya, Melancholic Bitch lebih menempatkan diri sebagai keluarga yang kerap mengutip kalimat pembuka novel Anna Karenina bahwa “seluruh keluarga bahagia selalu sama; keluarga tidak bahagia, selalu tidak berbahagia dengan caranya masing-masing.”

Sejauh ini Melancholic Bitch sudah menghasilkan beberapa karya dan terlibat pentas panggung. Untuk albumnya sendiri, Melancholic Bitch tercatat telah mengeluarkan Anamnesis (2005), Balada Joni dan Susi (2009), Lagu-lagu Yang Tidak Bisa Dipercaya (2011), serta album rilis ulang Re-Anamnesis (2013).

Album Balada Joni dan Susi, yang berkisah tentang petualangan sepasang kekasih mewujudkan impian di tengah peliknya dunia, diganjar sebagai satu dari 20 Album Indonesia Terbaik 2009 versi Rolling Stone Indonesia.

Sementara itu untuk urusan pementasan panggung sendiri Melancholic Bitch terhitung telah melakukan pelbagai pementasan mulai dari konser penuh Balada Joni dan Susi di gedung parkir Koran Tempo (diproduksi bersama Kelas Pagi Anton Ismael pada 2009), pementasan di Yayasan Bagong Kussudiarja (produksi bersama Kua Etnika pada 2009), pementasan di Teater Salihara (produksi dengan Teater Salihara, pada 2010), serta pementasan di Langgeng Art (produksi bersama Kongsi Jahat Syndicate pada 2011).

Tak hanya itu, Melancholic Bitch juga pernah terlibat dalam pertunjukan "Waktu Batu #3: Deus Ex Machina and My Feeling For You" (produksi bersama Teater Garasi pada 2004) yang dipentaskan di Jakarta, Singapura, Berlin, hingga Tokyo antara 2004 hingga 2006. Banyak beranggapan konser dan pementasan Melancholic Bitch merupakan hasil kolaborasi dari seluruh unsur pertunjukan mulai dari tata suara, ruang, cahaya, komposisi, teks, hingga dramaturgi yang tereksekusi dengan baik.

Secara gaya bermusik, Melancholic Bitch menolak untuk mendefinisikan sekaligus terjebak dalam putaran genre yang sudah akrab di khalayak ramai. Menurut Ugo, genre musik sebaiknya hanya digunakan untuk membantu saat belajar tentang ragam dan variannya. Tak lebih dan tak kurang.

Melancholic Bitch: \



“Perasaan kita awalnya main band karena enggak suka diseragamin di sekolah, kok begitu main band malah sibuk cari seragam baru. Ini indikasi dari bibit paramiliter dan parafasis yang berkerak di tubuh semua institusi sosial, termasuk jangan-jangan di musik juga ada hal semacam ini. Biar yang sibuk ngomong baju seragam itu kalo enggak pramuka ya kaum fundamentalis agama aja,” papar Ugo.

Meski demikian, Melancholic Bitch dikenal sebagai entitas musik yang kerap ‘menghilang’ dari peredaran akibat kesibukan masing-masing personelnya, entah itu di Teater Garasi Yogyakarta, membikin musik latar film, hingga proyek seni lainnya. Bagi para penggemar, Melancholic Bitch tak ubahnya mitos yang selalu dinanti.

Menanggapi hal tersebut Ugo berpendapat. “Ini patut dicurigai. Operasi mitos kan terjadi karena jarang keluar ke permukaan tapi sekalinya muncul jadinya menggelegar. Hal itu sebenarnya enggak ada urusannya sama nilai atau isi yang ada di dalamnya.”

Sementara ketika disinggung tentang karya-karya Melancolic Bitch yang dianggap monumental bagi perkembangan musik Indonesia, Ugo justru mengungkapkan keengganannya disebut demikian.

“Karya yang monumen itu phallic, konstruksi patriarki, dan wujud glorifikasi. Sungguh seram kalau kami dianggap bikin karya monumental dan terus kegeeran sendiri, lalu mematut matut diri supaya cocok dengan anggapan ini. Bagi kami hal itu sangat ngeri.”

Album sudah ada, konser juga telah terlaksana. Untuk Melancholic Bitch, kiranya ada keinginan yang urung terlaksana.

"Sepertinya salah satu cita-cita kita yang belum tercapai itu malah kepengin jadi band."


Baca juga artikel terkait BAND atau tulisan menarik lainnya M Faisal Reza Irfan
(tirto.id - fri/win)

Jumat, 22 September 2017

Album review | 'NKKBS Bagian Pertama' by Melancholic Bitch

Album review: 'NKKBS Bagian Pertama' by Melancholic Bitch

Stanley Widianto The Jakarta Post
'NKKBS Bagian Pertama' by Melancholic Bitch (Melancholic Bitch/File)
The term Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (Prosperous and Happy Small Family) was a foundation on which Soeharto’s New Order regime issued the Keluarga Berencana (Family Planning) program.

Theoretically, Soeharto wanted to limit Indonesian families to just two children. In 1992, the program was encoded into law; its spirit — small family equals warranted prosperity — became the regime’s trademark.

Melancholic Bitch, the quiet storm of a band from Yogyakarta, has rekindled this once-virulent credo by immortalizing the Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera abbreviation, NKKBS, as the name for its third album, NKKBS Bagian Pertama (NKKBS Part One).

As the title implies, it will carry the NKKBS abbreviation through for the band’s upcoming records. In an interview with VICE, the writer, artist and frontman Ugoran “Ugo” Prasad said that he still had no idea how many records would constitute the NKKBS series.

The NKKBS comprises heady concepts for an album — family, childhood pains, childhood gains — but the band is no stranger to them. For example, its 2009 Balada Joni dan Susi (The Ballad of Joni and Susi) is a short story of a struggling couple that was committed to tape.

Born in the late 1970s, Ugo — like some of the other names on NKKBS I’s credits, including Yossy Herman Susilo (guitar), Richardus Arditya (bass), Nadya Hatta (keyboard), Yennu Ariendra (guitar/synth) and Danish Wisnu Nugraha (drums) — grew up nurtured by the regime, transforming it into a lived experience, a recalled observation.

On “Aspal, Dukun” (Asphalt, Shaman) an ecstatic cut of the album, the picture painted in the lyrics might seem opaque or even absurdist at first, but through Ugo’s vision, the song feels legitimately rooted in reality: “Aspal sampai di kampung terujung / Ini pasti jimat orang kota” (Asphalt gets to the end of the village / This must be the city people’s talisman).

And this is what you get from a Melancholic Bitch song. Its intermittent presence might be a good primer, but this is what the lyrics are supposed to do to you. They make you think, or, if you are like me, ready a bunch of Google tabs to ascertain the references within. But Ugo still steers his lyrics away from becoming a screed, obfuscating them enough to make you think twice.

Save for the title, the lyrics on the propulsive cut “Dapur, NKK/BKK” (Kitchen, NKK/BKK). This song mocks a regulation issued by the regime called Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (Normalization of a Campus Life/University Students Coordinating Body) and is twisted enough to make it hard for you to wrest a concrete meaning.

It tells of a baby born prematurely and subsequently being eaten by a dog. Then for some reason, there is a military strike, a village besieged. It is fun to parse this stuff, it may be double the work, but it is all in good fun.

In other places, there are references to the babinsa (village supervisory officers), hiked-up prices for daily needs, covert abuse of the education system and even the empat sehat, lima sempurna (four healthy, five perfect) diet campaign.

But the most important theme in NKKBS I is family, the smallest unit of social agents.

For example, “Selat, Malaka” (Strait, Malaka) repurposes the national hero Tan Malaka’s story to tell of a family member leaving his nest. With its staggering build-up, “Trauma, Irama” (Trauma, Melody) tells of a protagonist missing his mother and home after an unexplained ordeal.

Musically, this is one of the most manic, menacing Melancholic Bitch albums to date. The guitars swirl (“Normal, Moral”), the piano dances (“Selat, Malaka”), Ugo’s deep vocals glide (“Trauma, Irama”). Some songs end flippantly, sometimes with a piano exercise or a disquieting church organ. The music delivers contempt and anger when necessary, sadness when prompted. It is a dynamic, admittedly quite heavy, record to listen to in one sit-through.

But it towers over expectations. Melancholic Bitch is known for the wait it put its fans through. The wait is never unrewarded and that speaks of the band’s quality. What NKKBS I means for the band is not just a smooth re-entry into the scene. It is a key to one of the country’s best lyricists, one of the best bands working presently.

Minggu, 17 September 2017

Review | NKKBS Bagian Pertama Propaganda Usang, tapi Tak Hilang

Propaganda Usang, tapi Tak Hilang
Herlambang Jaluardi
image4
Polisi dan ormas, sama-sama berseragam, merangsek ke kantor Lembaga Bantuan Hukum Jakarta di bilangan Menteng, Sabtu (16/9/2017). Mereka menggagalkan pertemuan para penyintas peristiwa 1965. Dalihnya klasik: acara itu tak berijin. Bah!
Komunisme yang telah lama diluluhlantakkan—kini jadi dongeng di belahan dunia mana pun—masih menghantui negara rupanya. Padahal dulunya mereka juga yang memburu habis ideologi itu, partai dan orang-orang yang diseret-seret terlibat jadi hitungan statistik belaka.
Perihal benar dan salah tak lagi perlu diterangkan. Toh yang benar bisa dianggap salah, dan yang salah jadi benar. Tergantung propagandanya. Tergantung siapa (pemerintahan) yang melantangkannya.
Alia Swastika mengutip penjelasan Profesor Matteo Stocchetti perihal propaganda. Katanya, propaganda diperlukan setiap rezim pemerintahan. Tujuannya tak melulu untuk mengubah cara pikir masyarakat, tapi juga menginspirasi perubahan komunal, perubahan yang dikerjakan bersama-sama.
Maka rezim Orde Baru yang dipimpin Soeharto mendaraskan propaganda bahaya komunis pada awal kekuasaannya. Siapa pun yang terlibat kegiatan Partai Komunis Indonesia dianggap nista, tak layak hidup, tak pantas membela diri. Tuduhan pun tersebar layaknya cumbuan minyak tanah pada api. Orang-orang yang lahir sebelum 1965 gusar bukan kepalang; siapa saja bisa terkena tuduhan membabi-buta itu.
Teror itu tak berhenti pada mereka. Anak-anak mereka kena imbasnya pula. Mereka dipaksa menonton film manipulatif tentang pembantaian “orang-orang komunis”. Sejak 1980-an sampai Orde Baru tumbang, film itu diputar setiap tahun di televisi, di ruang-ruang keluarga. Sekolah kadang mewajibkan muridnya menonton.
Biasanya, keesokan harinya, kami anak-anak yang masih berseragam putih-merah itu membicarakan film horor sarat adegan penyiksaan itu di sekolah. “Darah itu merah, Jenderal!” adalah kalimat yang sering kami tirukan. Beberapa bocah-bocah berlomba-lomba menjadi Kapten Pierre Tendean yang mati melindungi atasannya, Jenderal AH Nasution. Ia muda, gagah, dan heroik.
Ah, lugunya kami kala itu. Cuci otak mereka, lewat film, berhasil.
Pengalaman bersinggungan dengan film itu juga mengendap di benak Ugoran Prasad, penulis lirik di kolektif musik Melancholic Bitch, selanjutnya disebut Melbi. Ugo dan semua kolaborator di Melbi lahir pada masa Orde Baru.
Kursi kursi bioskop penuh kutu
Naik dari bangku ke dalam saku
lalu menyelinap ke buku-buku
Lalu menggeliat menjadi hantu
Darah itu merah dipancar terang benderang ke layar lebar
Perempuan liar jangan dibiarkan main main pisau lipat

Itu adalah bait kesatu dari lagu “Bioskop, Pisau Lipat”, lagu pertama yang mereka sebarkan dari sepuluh lainnya di album baru NKKBS Bagian Pertama. Nuansanya cenderung mencekam walau musiknya berlanggam pop. “Pisau lipat” terdengar menyeramkan. Bait itu dilanjutkan dengan larik “kami pakai bendera sebagai seragam ketika digelandang ke bioskop jam sembilan”.
Dalam wawancara dengan Vice, Ugo membenarkan bahwa lagu itu adalah bangunan ulang dari pengalamannya “dipaksa” menonton film Pengkhianatan G30S/PKI ketika masih bocah.
Album penuh ketiga itu mereka luncurkan pada Sabtu (9/9/2017) silam. Tentu saja lagu itu mereka mainkan pula. Pertunjukkannya bagus, terlihat lancar hingga selesai. Sialnya, sepekan setelah lagu itu berkumandang di panggung untuk kali pertama, aparat negara masih menunjukkan bahwa propaganda itu masih berlaku. Propaganda bahaya komunis masih meneror warga, meski rezim telah berganti.
image3
Keluarga
Penggalan “kisah bioskop” itu adalah satu cukilan dari narasi besar album. Sebelas lagu dnegan durasi total 47 menit ini berbicara tentang keluarga, dan hal-hal yang terkandung di dalamnya. Ugo sebagai penulis narasinya, mengambil segi norma keluarga kecil bahagia sejahtera (NKKBS).
NKKBS itu adalah program konstruksi keluarga yang dilancarkan pemerintah Orde Baru, sejak pertengahan dekade 1970-an, sebagai penjabaran dari konsep keluarga berencana. “Dua anak cukup” adalah bentuk kampanye NKKBS, yang ujungnya mendengungkan pemakaian alat kontrasepsi. Urusan kawin-mawin disusupi negara.
Tujuan program itu bisa jadi mulia: demi kehidupan keluarga yang lebih sejahtera. Tapi pelaksanaannya tak semudah berucap. Urusan moral tak selesai hanya dengan menyarungkan kondom, atau memaksa perempuan pasang spiral. Coba simak lirik di lagu “Normal, Moral” ini:
“Ada guru Pendidikan Moral Pancasila terus menghantui sepanjang hidupmu,
sebab kau tak peduli saat dia dulu mati bunuh diri
setelah hutang menggunung, kalah judi”

Anak, yang katanya sebaiknya dua saja itu, kelak ketika besar juga dikisahkan menimbulkan riak bagi keluarga. Mereka merantau, pergi dari rumah. Program NKKBS tidak mengajarkan bagaimana sebaiknya orang tua menyikapi anaknya yang tak kunjung pulang. Anak juga bisa jadi tidak tahu harus pulang ke mana.
Pada lagu “Aspal, Dukun”, Melbi bernyanyi, “Sulung bermimpi ke tempat tinggi dan lupa jalan pulang. Bungsu anti kitab suci dan alim ulama. Paman cemas dengan tanda-tanda terutama pelanggan warung pindah agama waralaba.”
Sialan.
Demi “pertunjukkan NKKBS” itu aku pulang setelah lebih dari delapan belas bulan tak menginjakkan kaki di rumah, sok-sokan merantau. Sok-sokan mengatur alur hidup sendiri.
Tempat pulang itu sudah tentu berubah. Aku pakai jemputan yang kupanggil lewat aplikasi di ponsel. Ada lokasi parkir baru di stasiun. Ada kedai Starbucks di Jalan Kaliurang. Ada aspal mulus membelah sawah. Ada kanal televisi kabel di ruang tengah. Ada pendingin udara di kamar tidur. Ada keponakan yang menempati kamar lamaku.
Ada yang tetap: foto keluarga ala diorama NKKBS masih terpajang. Ada juga tempe garit hangat dan sambal bawang di meja.
“Desember diusahakan pulang lagi ya, le…,” pinta Bapak.(*)

catatan: Alia Swastika tercatat sebagai produser album NKKBS Bagian Pertama bersama Melancholic Bitch. Album ini diproduksi oleh Trauma Irama Rekord. Adapun kolaborator Melancholic Bitch untuk album ini adalah Richardus Ardita, Yennu Ariendra, Ugoran Prasad, Yossy Herman Susilo, Nadya Hatta, dan Danish Wisnu Nugraha. Kunjungi blog Kotakgelas mengenai profil Melancholic Bitch lebih detil.