Kita berdiri gemetar, seperti di lorong kosong
Seperti sepotong batu langit terbakar jadi debu
Kita di cekal mimpi, seperti tidak di sini
Seperti segenggam luka baru kaca rapuh renta
Selesai dan menghilang
Selesai dan menghilang
Kita ditelan alasan seperti didera badai
Seperti sesaat yang tepat dan lesat dimatanya
Kita memandang jauh seperti ada yang tertinggal
Seperti sesuatu diam-diam berharap yang kekal
Selesai dan menghilang
Selesai dan menghilang
Yang menghilang menjauhlah
Yang menghilang melayanglah
Yang selalu kau inginkan
Yang menghilang menjauhlah
Yang menghilang melayanglah
Yang selalu kau inginkan
Berjatuhan
Dan jangan segan kau kirimkan pesan
Ke udara tempat ku berdiam
Kabar dari tepi atap pencakar langit
Tampilkan postingan dengan label lirik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lirik. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 18 Januari 2014
Senin, 14 September 2009
Teks Balada Joni dan Susi
Intro
Ketika Joni dua satu dan susi sembilan belas,
hidup sedang bergegas di reruntuh ruang kelas
kota-kota menjalar liar dan rumah terkurung dalam kotak gelas,
dingin dan cemas.
Namaku Joni,
namamu Susi.
Namamu Joni,
namaku Susi.
Bulan madu
Pejamkan mata kita di Venesia.
Berdayung sampan kita di kanal Venesia.
Pejamkan mata kita di kanal-kanal di Venesia.
Pejamkan mata kita di atas kapal di kanal Venesia.
Jangan bergerak terlalu kencang
Kau terlalu kencang
Terlalu kencang, lalui nepal, tanpa sempat singgah di oslo dan budapest. Kencang tanpa sempat nanking, tanpa sempat rio, tanpa sempat lima, tanpa sempat, kencang tinggalkan capetown.
Rentangkan kedua tangan, jangan hilang keseimbangan.
Kapal ini goyang.
7 hari menuju semesta
Senin sedang cerah, ijinkanlah, kurayu dirimu : lukai aku, belah dadaku, makan jantungku, renggut hatiku dalam suka atau duka, kaya atau papa, sampai kematian memisahkan; memisah jiwa raga kita.
Selasa, kau dan aku, jika waktu berpihak padaku, ijinkanlah, kumelukaimu. Ijinkanlah kupetakan tubuhmu, dalam suka atau duka, kaya atau papa sampai kematian memisahkan membelah jiwa raga kita
Rabu, langit kelabu, tanpa ragu-ragu, perintahkan padaku, rebut segalanya untukmu dan seperti kau tahu: sgalanya adalah seluruhnya.
Katakanlah jika aku Israel kau Palestina; jika aku Amerika, kau seluruh dunia; jika aku miskin kau negara; jika aku mati kau kematian lainnya.
Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu pepatkan seluruh semesta. Jika kau menginginkannya. Pepatkan seluruh sisi-sisinya.
distopia
Berdua semesta kita, bersama kereta kita.
Kereta mengantar kita menuju semesta berdua.
Bersama-sama kita, bersama selama-lamanya, bersama sama selamanya
Mars penyembah berhala
Setiap tempat beratap bisa berubah jadi istana. Gaun terbaik adalah gaun yang kedap cuaca. Tidur adalah berbaring tenang dan memejam mata, mengganjal lapar dengan apa saja berkhayalpun bisa dan sesungguhnya,
Setiap tempat berpagar bisa berubah jadi negara, melamun terbaik adalah lamun yang kedap tentara. Tidur adalah berbaring tenang dan memejam mata, membakar pasar dengan apa saja, pikiran pun bisa, dan sesungguhnya.
Seseorang cubit aku di pipi, jika semua ini hanya dan hanya mimpi.
Siapa yang membutuhkan imajinasi, jika kita sudah punya televisi. Semesta pepat dalam 14 inci.
Nasihat yang Baik
Susi ingin tidur, susi lelah bermain seharian. Susi terlalu lelah jalan-jalan. Terlalu lelah, maka tidurlah.
Sepotong musik; untuk cemasmu; untuk resahmu; untuk sedihmu; untuk menunggu waktu yang lelah. Maka tidurlah.
Tidurlah Susi.
propaganda dinding
Minggu pertama pelarian kita; tataplah mataku dan temukan telaga. Susi demam dan terbaring gemetar. Joni gusar dan tangannya terkepal. Miskin takkan membuatnya putus asa. Lapar memaksanya merasa berdaya.
Joni tak gila ketika didengarnya dinding berbisik, pelan berbisik:
curilah roti
curilah roti
Jangan biarkan Susi mati.
Supermarket-supermarket tak pernah sepi. Lihat deret yang selalu tersusun rapi. Waktu terkutuk kadaluarsa di bungkus roti. Supermarket dan busung lapar adu lari.
Aku tak gila ketika didengarnya dinding berbisik, pelan berbisik: curilah roti. Takkan kubiarkan kau mati.
Tak kan kubiarkan kau.
Apel Adam
Kau tak bisa mencuri sepotong roti dan kau tak bisa mencuri sebuah apel karena pencurian merusak kesetimbangan harga, dunia. Sesungguhnya dia bisa saja keluar hidup-hidup dari perangkap yang disiapkan supermarket untuknya. Dia berdiri di depan lorong berwarna jingga dan biru dan magenta. Kaleng biru berisi susu, darah di dalam dirinya magenta.
Supermarket memerangkapnya. Sebuah apel jatuh dari lubang di celananya. Apel itu apelmu Adam.
Buah apelmu, Adam.
Pada orang-orang yang menangkapnya, mengurungnya, mencekal pundaknya, membanting punggungnya ke aspal, pada orang-orang yang menghantamkan hukuman Tuhan di wajahnya, Joni berkata:
jangan libatkan polisi di lagu ini. (Buah apelmu, Adam)
jangan libatkan polisi di cinta ini. (Buah apelmu, Adam)
Akhirnya, Masup TV
Susi, aku masup tv, 15 detik, kerajaanku. Lebih baik, jauh lebih baik daripada seumur hidup tampa lampu. Lihatlah, lihat sgalanya nyata di tv. Lihat betapa nyata cinta kita kini. Lihatlah, susi, aku ada di tv.
(catatan : ini bagian tambahan yang drum masuk yos, di demo gak ada)
Di jalan tertulis jejak luka, pemerintah tak bisa membacanya. Susi ajarkanlah pada mereka bagaimana caranya mengeja.
Menara
Ketika Joni dua satu dan susi sembilan belas, hidup sedang bergegas di reruntuh ruang kelas. Kota-kota menjalar liar dan rumah terkurung dalam kotak gelas, dingin dan cemas.
Namaku Joni, namamu Susi. Namamu Joni, namaku Susi.
Berdarah, ah, luka di tanganku. Berdarah, ah, luka di tanganmu. Saling menggenggam kita, mengikat darah kita selamanya.
Kita akan berpinak, banyak-banyak,
menjadi sekawanan Joni, menjadi sekawanan Susi menjadi sekawanan Joni, menjadi sekawanan Susi
menjadi sekawanan Joni, menjadi sekawanan Susi
Mari pergi dari sini
Mari kita pergi
dari sini
Membuka lahan
Kebun apel
Seperti tuhan
Membuka lahan
Kebun apel
Seperti tuhan
Lalu kita dirikan menara
Yang tinggi
Lebih tinggi
Lebih tinggi
Tengadahlah
Joni dan Susi
Joni dan Susi
Ketika Joni dua satu dan susi sembilan belas, hidup sedang bergegas di reruntuh ruang kelas. Kota-kota menjalar liar dan rumah terkurung dalam kotak gelas, dingin dan cemas.
Namaku Joni, namamu Susi. Namamu Joni, namaku Susi.
Noktah pada kerumunan
bisa kudengar: kerinduan yang digumamkan. pelarian ini telah usai
dan kerumunan melindungimu, mengenakan wajah dan namamu. kerumunan menjadi batu
yang melesat dan menghancurkan.
kerumunan melindungiku, mengenakan wajah dan namaku. kerumunan menjadi pisau yang berkilau dan teracungkan
jika kita bertemu di sudut sesak itu, lihatlah di wajahku dan temukanlah wajahmu.
kutatap ke matamu dan kutemukan mataku.
outro
Ketika Joni dua satu dan susi sembilan belas,
hidup sedang bergegas di reruntuh ruang kelas
kota-kota menjalar liar dan rumah terkurung dalam kotak gelas,
dingin dan cemas.
Namaku Joni,
namamu Susi.
Namamu Joni,
namaku Susi.
Bulan madu
Pejamkan mata kita di Venesia.
Berdayung sampan kita di kanal Venesia.
Pejamkan mata kita di kanal-kanal di Venesia.
Pejamkan mata kita di atas kapal di kanal Venesia.
Jangan bergerak terlalu kencang
Kau terlalu kencang
Terlalu kencang, lalui nepal, tanpa sempat singgah di oslo dan budapest. Kencang tanpa sempat nanking, tanpa sempat rio, tanpa sempat lima, tanpa sempat, kencang tinggalkan capetown.
Rentangkan kedua tangan, jangan hilang keseimbangan.
Kapal ini goyang.
7 hari menuju semesta
Senin sedang cerah, ijinkanlah, kurayu dirimu : lukai aku, belah dadaku, makan jantungku, renggut hatiku dalam suka atau duka, kaya atau papa, sampai kematian memisahkan; memisah jiwa raga kita.
Selasa, kau dan aku, jika waktu berpihak padaku, ijinkanlah, kumelukaimu. Ijinkanlah kupetakan tubuhmu, dalam suka atau duka, kaya atau papa sampai kematian memisahkan membelah jiwa raga kita
Rabu, langit kelabu, tanpa ragu-ragu, perintahkan padaku, rebut segalanya untukmu dan seperti kau tahu: sgalanya adalah seluruhnya.
Katakanlah jika aku Israel kau Palestina; jika aku Amerika, kau seluruh dunia; jika aku miskin kau negara; jika aku mati kau kematian lainnya.
Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu pepatkan seluruh semesta. Jika kau menginginkannya. Pepatkan seluruh sisi-sisinya.
distopia
Berdua semesta kita, bersama kereta kita.
Kereta mengantar kita menuju semesta berdua.
Bersama-sama kita, bersama selama-lamanya, bersama sama selamanya
Mars penyembah berhala
Setiap tempat beratap bisa berubah jadi istana. Gaun terbaik adalah gaun yang kedap cuaca. Tidur adalah berbaring tenang dan memejam mata, mengganjal lapar dengan apa saja berkhayalpun bisa dan sesungguhnya,
Setiap tempat berpagar bisa berubah jadi negara, melamun terbaik adalah lamun yang kedap tentara. Tidur adalah berbaring tenang dan memejam mata, membakar pasar dengan apa saja, pikiran pun bisa, dan sesungguhnya.
Seseorang cubit aku di pipi, jika semua ini hanya dan hanya mimpi.
Siapa yang membutuhkan imajinasi, jika kita sudah punya televisi. Semesta pepat dalam 14 inci.
Nasihat yang Baik
Susi ingin tidur, susi lelah bermain seharian. Susi terlalu lelah jalan-jalan. Terlalu lelah, maka tidurlah.
Sepotong musik; untuk cemasmu; untuk resahmu; untuk sedihmu; untuk menunggu waktu yang lelah. Maka tidurlah.
Tidurlah Susi.
propaganda dinding
Minggu pertama pelarian kita; tataplah mataku dan temukan telaga. Susi demam dan terbaring gemetar. Joni gusar dan tangannya terkepal. Miskin takkan membuatnya putus asa. Lapar memaksanya merasa berdaya.
Joni tak gila ketika didengarnya dinding berbisik, pelan berbisik:
curilah roti
curilah roti
Jangan biarkan Susi mati.
Supermarket-supermarket tak pernah sepi. Lihat deret yang selalu tersusun rapi. Waktu terkutuk kadaluarsa di bungkus roti. Supermarket dan busung lapar adu lari.
Aku tak gila ketika didengarnya dinding berbisik, pelan berbisik: curilah roti. Takkan kubiarkan kau mati.
Tak kan kubiarkan kau.
Apel Adam
Kau tak bisa mencuri sepotong roti dan kau tak bisa mencuri sebuah apel karena pencurian merusak kesetimbangan harga, dunia. Sesungguhnya dia bisa saja keluar hidup-hidup dari perangkap yang disiapkan supermarket untuknya. Dia berdiri di depan lorong berwarna jingga dan biru dan magenta. Kaleng biru berisi susu, darah di dalam dirinya magenta.
Supermarket memerangkapnya. Sebuah apel jatuh dari lubang di celananya. Apel itu apelmu Adam.
Buah apelmu, Adam.
Pada orang-orang yang menangkapnya, mengurungnya, mencekal pundaknya, membanting punggungnya ke aspal, pada orang-orang yang menghantamkan hukuman Tuhan di wajahnya, Joni berkata:
jangan libatkan polisi di lagu ini. (Buah apelmu, Adam)
jangan libatkan polisi di cinta ini. (Buah apelmu, Adam)
Akhirnya, Masup TV
Susi, aku masup tv, 15 detik, kerajaanku. Lebih baik, jauh lebih baik daripada seumur hidup tampa lampu. Lihatlah, lihat sgalanya nyata di tv. Lihat betapa nyata cinta kita kini. Lihatlah, susi, aku ada di tv.
(catatan : ini bagian tambahan yang drum masuk yos, di demo gak ada)
Di jalan tertulis jejak luka, pemerintah tak bisa membacanya. Susi ajarkanlah pada mereka bagaimana caranya mengeja.
Menara
Ketika Joni dua satu dan susi sembilan belas, hidup sedang bergegas di reruntuh ruang kelas. Kota-kota menjalar liar dan rumah terkurung dalam kotak gelas, dingin dan cemas.
Namaku Joni, namamu Susi. Namamu Joni, namaku Susi.
Berdarah, ah, luka di tanganku. Berdarah, ah, luka di tanganmu. Saling menggenggam kita, mengikat darah kita selamanya.
Kita akan berpinak, banyak-banyak,
menjadi sekawanan Joni, menjadi sekawanan Susi menjadi sekawanan Joni, menjadi sekawanan Susi
menjadi sekawanan Joni, menjadi sekawanan Susi
Mari pergi dari sini
Mari kita pergi
dari sini
Membuka lahan
Kebun apel
Seperti tuhan
Membuka lahan
Kebun apel
Seperti tuhan
Lalu kita dirikan menara
Yang tinggi
Lebih tinggi
Lebih tinggi
Tengadahlah
Joni dan Susi
Joni dan Susi
Ketika Joni dua satu dan susi sembilan belas, hidup sedang bergegas di reruntuh ruang kelas. Kota-kota menjalar liar dan rumah terkurung dalam kotak gelas, dingin dan cemas.
Namaku Joni, namamu Susi. Namamu Joni, namaku Susi.
Noktah pada kerumunan
bisa kudengar: kerinduan yang digumamkan. pelarian ini telah usai
dan kerumunan melindungimu, mengenakan wajah dan namamu. kerumunan menjadi batu
yang melesat dan menghancurkan.
kerumunan melindungiku, mengenakan wajah dan namaku. kerumunan menjadi pisau yang berkilau dan teracungkan
jika kita bertemu di sudut sesak itu, lihatlah di wajahku dan temukanlah wajahmu.
kutatap ke matamu dan kutemukan mataku.
outro
Minggu, 17 Desember 2006
Teks Anamnesis
kartu pos bergambar jembatan golden gate, san fransisco
kabut yang likangdan kabut yang pupuh
lekat dan gerimis pada tiang-tiang jembatan
matahari menggeliat dan kembali gugur
tak lagi di langit berpusing
di perih lautan [Sapardi Djoko Damono]
debu hologram
hari-hari berubah hologram; suara riuh dan tak bisa diam; imaji tentang cuaca yang kini, telah kupaksa keluar dari mimpi. yang berlari yang segera pergi. ruang-ruang kosong tak terisi; tidak debu, bahkan tidak sunyi. mengapa kau masih di sini? tidakkah kau ingin sendiri?yang kau selalu inginkan dan tak kan pernah dapatkan:
yang kau inginkan tak kan kau dapatkan; takkah kau merasa didera mual? takkah kau merasa didera muak? lepas segala yang kau inginkan; lepas segala yang kau dapatkan
tentang cinta
tentang cinta yang menjadi rasa takutmu; yang mengejan dalam mimpimu; yang sengit dan selalu menikammu; yang setajam kebencianku padamu; yang tlah memaksamu membunuh; yang mengejar dan terus mengikatmu:tentang cinta yang membusuk di lagu-lagu; yang “betapa ku merindukanmu”; yang dengki dan kelam membisu; yang tak juga habis-habis, tak kan juga habis-habis. jika saja ada jendela dan jika saja ada jendela: kau akan mengerti dan tetap mengerti; ku akan mengerti dan tetap mengerti. kau akan di sini dan tetap di sini, ku akan di sini dan tetap di sini.
jika saja ada jendela dan jika saja ada segelas soda
on genealogy of melancholia
I blame my eyes and I blame these fears; my ears for I can’t listen to these glimpses. Where was all, where was all days we’ve forgotten? I’ve seen you crawl and I’ve seen you weep. I’ve even lived inside your manufactured dreams. Where was I, inside your hate you live and need? Violence is what you are, is what you’ll be, is what you take in everyday. And take in everyday, awayI want you touch me in my bleed. I want you touch my ancient weak:
The children, the mother, the dying
requiem
jika tak ada jalan keluar, pada apa kita kan menghindar, dan susunan bahasa yang kau enggan adalah perca yang ingin ku selesaikan.jika tak ada lagi suntik penenang, pada setiap perih yang kau simpan, dan seluruh kenangan yang kau genggam, menyirat luka yang semakin lama semakin mendalam.
bernapaslah denganku, kuberjanji kita tak kan terengah.
kita adalah batu
di luar hidup sialmu, di luar sisi tubuhmu; di luar yang kausentuh, di luar hanya sepi, membisu. di luar kisah sedihmu; di luar sesak napasmu; di luar yang kau buru; di luar igau mimpi burukmubernapas di celah waktu dan ruang yang mencekikmu: kita adalah batu
setiap awal musim kita siapkan segelas rasa sakit dan kehilangan
;kita siapkan semangkuk rasa perih dengan kebencian
;kita kan terjaga selamanya.
departemental deities and other verses (general summary)
we are very slightly changefrom a semi apes who range
India’s pre-historic clay
whose trough the longest bow
run his brother down, you know
as we run men down today
dowb, the first of all his race
met the mammoth face to face
in the lake or in the cave
in the lake or in the cave
stole the steadiest canoe
ate the quarry, other slew
and died, you took the finest grave.
O’ lord, please lead me: from the unreal, from the real. lead me from darkness, from the light, from death, nor eternal life.
Notes: the first two paragraph is taken from Rudyard Kipling.
off her love letter
wake up, don’t you hide now. sometime this morning someone, takes you on the run. breathe up all you can somehow, sometime this morning someone will take you run. takes you run.takes you on the run, you can.
(somebody someone to feel you, to heal you, somebody someone to kill you, ever and ever.)
sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa
direntang waktu yang berjejal dan memburai, kau berikan,sepasang tanganmu terbuka dan membiru, enggan
di gigir yang curam dan dunia yang tertinggal dan membeku
sungguh, peta melesap dan udara yang terbakar jauh.
kita adalah sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa
seperti takkan pernah pulang (yang menghilang) kau membias di udara dan terhempaskan cahaya. Seperti takkan pernah pulang, ketuk langkahmu menarilah di jauh permukaan. Jalan pulang yang menghilang, tertulis dan menghilang, karena kita, sebab kita, telah bercinta di luar angkasa.
The street
Follow the street. Follow the lamp line. Follow the milestones we are heading nowhere land, we’ll become nowhere now. Come to the garden where they all will gather, those who flows unaware, loosing conscious, loosing daydream and I will touch you now, I will hurts you again. I will be there to makes you feel so precious.The street is empty tonight. (We are going to consume all the daylight.)
My feeling for you
Set a chair, set a table. Set a good conversation. Set my eyes, set my ears to hear you now, set yourself out to believe. It’s my feeling for you now, complete.
Langganan:
Postingan (Atom)