Tampilkan postingan dengan label wawancara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wawancara. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Oktober 2017

Artikel | Trauma Irama Ugoran Prasad


Trauma Irama Ugoran Prasad

oleh Raka Ibrahim

23 Oktober 2017 Durasi: 8 Menit
Trauma Irama Ugoran Prasad Foto: Adhytia Putra
“Kursi kursi bioskop penuh kutu
Naik dari bangku ke dalam saku
lalu menyelinap ke buku-buku
Lalu menggeliat menjadi hantu
Darah itu merah dipancar terang benderang ke layar lebar
Perempuan liar jangan dibiarkan main main pisau lipat.”
Melancholic Bitch, “Bioskop, Pisau Lipat”

Suatu saat nanti, seorang jurnalis musik pemalas akan meriwayatkan sejarah musik Indonesia ke dalam buku, dan nama Ugoran Prasad belum tentu ada di sana.
Pasalnya, ia terhitung rockstar yang tidak niat – kalaupun ia ingin disebut rockstar, dan saya yakin tidak. Ia tiba di Jakarta malam sebelum kami jumpa di kolam renang, dan bermain-main dengan sebungkus rokok Dji Sam Soe di sebelah tangan. Dari jarak dekat, rambutnya tampak lebih beruban dari yang saya kira. Ia seperti kerabat jauh yang saya kenang dari masa kecil, dan saya temui lagi setelah bertahun-tahun melanglang buana.
Band-nya, Melancholic Bitch, sering – terlalu sering, malah – disebut sebagai “band mitos”. Mereka beken di lingkarannya sendiri di Yogyakarta sejak berdiri di penghujung dekade 1990-an, lantas berubah haluan dan merilis satu album berjudul Anamnesis, tahun 2005. Empat tahun kemudian, mereka merilis Balada Joni dan Susi – album konsep tentang kisah cinta tragis dua sejoli yang kawin lari dan “akhirnya masup tipi”. Pada akhir tahun, Balada Joni dan Susi disebut sebagai salah satu album terbaik Indonesia tahun 2009 oleh majalah Rolling Stone Indonesia.
Datang ke konser Melancholic Bitch terasa seperti mampir ke suatu kelompok pengajian yang belum pernah kau dengar. Siapa band ini? Mengapa tiap ucapan vokalisnya – pria dengan kacamata kebesaran dan rambut urakan yang sering merokok di atas panggung – selalu disambut meriah? Penonton yang membludak ini datang dari mana? Bagaimana cara mereka hafal lirik dari semua lagu yang dimainkan? Mengapa mereka begitu lantang menyebut dirinya Joni, dan pasangannya Susi, begitupun sebaliknya? Melancholic Bitch adalah definisi band cult sesungguhnya – pahlawan enggan yang menjadi bara dalam sekam, rahasia umum di antara orang-orang yang lebih tahu. Dan sudah tentu, setelah itu mereka menghilang. Begitu saja.
Kenyataannya agak banal. Ugoran – seorang penulis yang juga aktif di Teater Garasi – pindah ke luar negeri untuk melanjutkan studi. Personil yang lain – Yennu Ariendra, Yossy Herman Susilo, dan kawan-kawan – aktif di band-band lain, juga di beberapa kolektif seniman di Yogyakarta. Mereka semua orang sibuk yang tidak tentu jadwal kumpulnya. Kalaupun mereka reuni, belum tentu niatan bermain band terbersit. Belum tentu pula, niat bermain band itu disalurkan ke Melancholic Bitch. Maka, dari kurun waktu 2009 hingga 2017, jumlah konser Melancholic Bitch bisa dihitung dengan jari. Tiap perjumpaan dengan mereka terasa spesial karena kau betul-betul tidak tahu kapan sundal melankolis ini akan manggung lagi.
Maka, bayangkan decak kagum saya ketika mereka menyudahi pengembaraan mereka tahun ini. Seperti hadiah Natal yang tiba terlalu cepat, mereka melepas lagu Bioskop, Pisau Lipat dan disusul album NKKBS Bagian Pertama. Malam setelah saya mewawancarainya, Melancholic Bitch konser di Jakarta dan para penonton di garis depan sudah hafal lirik setiap lagu baru yang mereka nyanyikan.
Setelah satu-dua bulan yang ganjil ini, Ugoran akan kembali ke luar negeri dan Melancholic Bitch akan terlelap lagi sampai waktu yang tidak ditentukan. Saya kira, memang lebih baik begitu.
****
Ugoran Prasad tumbuh di Tanjung Karang, Bandar Lampung. Dalam pengakuannya sendiri, ia tinggal di keluarga ‘kelas menengah’ yang menikmati privilese tertentu, namun tak sepenuhnya nyaman. Bapaknya Pegawai Negeri, Ibunya guru agama, dan mereka tinggal di perkampungan kecil yang “hidup hand-to-mouth, hanya kelas menengah dalam spektrum sejarah.”
“Aku selalu merasa hidupku itu soal kebocoran-kebocoran kecil,” tutur Ugo, sapaan akrabnya. “Walaupun kami tinggal di perkampungan, dan aku ingat banyak warga kampung yang kena hutang, tetap saja ada bubble tersendiri yang mengisolir kami dari kejadian di dunia luar. Orde Baru memang berhasil menciptakan bubble-bubble seperti itu.”
Peristiwa seperti Insiden Talangsari di Lampung, yang disebut Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) di tahun 1989, mengusik zona nyaman ini. “Lho, ini kenapa?” ucapnya, kala itu. “Ternyata ada hal-hal di luar bubble kami yang mulai merangsek masuk. Ada ‘hantu-hantu’ dari luar yang semakin kelihatan.”
Ketika SMA, misalnya, ia dan kawan-kawannya les fisika dengan seorang guru yang membuka kursus privat di pasar. “Dia Bapak-bapak, sudah tua, dan kami semua mengagumi kepintarannya,” kenang Ugo. “Lalu, kami mendapat informasi bahwa Bapak ini enggak boleh mengajar di sekolah formal lagi karena dia dulu lulusan Rusia. Kami mulai penasaran, ‘Memangnya kenapa kalau dia lulusan Rusia?’”
Seiring ia tumbuh dewasa, Ugoran tambah peka terhadap “kejanggalan-kejanggalan kecil” semacam ini. “Bapakku dulu punya buku Bumi Manusia dan Jejak Langkah-nya Pramoedya Ananta Toer, dan kedua buku itu enggak pernah ditaruh di rak,” kisah Ugo. “Cuma ditaruh di kamarnya, dan dalam situasi apapun, buku itu enggak boleh keluar ke ruang tengah. Jadi, ada banyak keanehan yang begitu. Di balik sesuatu yang rapi – atau dirapikan – seperti ada sesuatu yang tidak beres.”
Namun, perlu waktu agak lama sebelum kejanggalan-kejanggalan ini menemukan konteks. “Setelah baca Saksi Mata-nya Seno Gumira Ajidarma, aku baru tahu apa yang terjadi di Timor Timur,” ucap Ugo. “Kalau enggak ada itu, penjajahan Indonesia ke Timor buatku enggak nyata. Seterusnya aku jadi melihat puisi, sastra, dan cerpen sebagai tempat di mana informasi semacam itu bisa ‘bocor’, dan kebocoran semacam itu yang bikin aku senang dengan sastra.”
Kemudian, pemahaman Ugoran muda dipertajam oleh buku-buku seperti Potret Pembangunan Dalam Puisi karya W.S Rendra, novel-novel Pramoedya Ananta Toer, hingga karya fiksi akademisi termasyhur Kuntowijoyo. “Karena sastra, kebocoran yang aku lihat dalam kehidupan sehari-hari jadi berada dalam paragraf, berada dalam narasi,” tutur Ugo. “Enggak cuma aku tangkap sebagai indeks-indeks tak terjelaskan.”
“Waktu itu, kanon sastra negara ada di sub-bab terakhir Apresiasi Bahasa dan Sastra, dan yang selalu muncul namanya itu Toto Sudarto Bachtiar,” kenang Ugo. “Nah, nama-nama yang enggak ada di sana kesannya asyik!”
Ia pun berkisah panjang mengenai bagaimana ia mencopet buku Abad yang Berlari karya Afrizal Malna dari salah satu toko buku, dan bagaimana ia membaca Mata Pisau karya Sapardi Djoko Damono secara sembunyi-sembunyi, sebab buku sastra yang tidak masuk pelajaran bisa disita guru, dan ia tidak ingin ketahuan membaca buku puisi yang romantik dan kemayu sementara kawan-kawannya dicegat guru akibat membaca Enny Arrow. “Sastra dulu gendered banget!” ucapnya sembari terkekeh. “Kalau ketahuan baca Sapardi, aku bakal dibilang banci.”
Dari sinilah ia belajar menulis puisi, yang kemudian ia terjemahkan menjadi lirik lagu. Pada tahun 1996, ia pindah ke Yogyakarta dan kuliah di jurusan Sosiologi, Universitas Gajah Mada. Melancholic Bitch lahir dari tongkrongan Fakultas Sosial-Politik UGM – yang kemudian mencetuskan perhelatan legendaris Parkinsound, dan grup hip-hop ternama Jogja Hip Hop Foundation.
Saat itu, warna musik Melancholic Bitch berbeda jauh dengan balada-balada bersahaja yang kita kenali sekarang. “Banyak yang digital rapcore, banyak teriak-teriak dan distorsi,” kenang Ugo, sembari tertawa terbahak-bahak. “Pokoknya kencang, mainnya sambil dilemparin orang, brutal lah!”
Setelah pencarian ulang jati diri yang agak panjang, pada tahun 2005 mereka merilis album Anamnesis, dan disusul Balada Joni dan Susi pada tahun 2009. Lalu, mereka mati suri selama delapan tahun (ada rumor – yang dikonfirmasi oleh mereka sendiri – bahwa pada tahun 2013 mereka sempat workshop lagu baru yang kemudian dibuang). Dalam berbagai wawancara dengan media, Ugoran bersikeras bahwa Melancholic Bitch “tidak bubar”, namun sedang mencari alasan untuk berkumpul lagi.
****
Alasan itu adalah NKKBS Bagian Pertama, atau Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera. “Kami semua berkeluarga dengan cara kami masing-masing,” tutur Ugo, ketika saya bertanya mengapa album terbaru Melancholic Bitch memilih tema keluarga. “Di lagu seperti Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa (dari album Anamnesis – red), pergi dari rumah itu kenyataan subyektif pelakunya. Sementara di NKKBS, pergi dari rumah jadi kenyataan yang punya komplikasi. Kalau kita pergi, Ibu kita gimana? Anak kita gimana?”
“Di rentang waktu yang berjejal dan memburai
Kau berikan sepasang tanganmu, terbuka dan membiru, enggan
Di gigir yang curam dan dunia tertinggal gelap membeku
Sungguh – peta melesap, dan udara yang terbakar jauh
Kita adalah sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa.”
Melancholic Bitch, “Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa”
Tak seperti Balada Joni dan Susi yang (sekilas) terdengar lebih romantis, NKKBS adalah album konsep yang tak biasa. Setiap lagu di album tersebut terdengar seperti catatan trauma mengenai masa-masa Orde Baru – mulai dari surat cinta untuk pembangunan di lagu berjudul Aspal, Dukun, bangkitnya “hantu-hantu masa kecil” di Normal, Moral, kota yang dikepung tentara di Dapur, NKK/BKK, hingga Bioskop, Pisau Lipat – balada murung tentang anak-anak kecil yang dipaksa menonton film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI.
“Aku enggak mau ngomong soal Orde Baru dalam konteks nostalgia,” tukas Ugo, “karena Orde Baru masih terang-terangan kita pakai. Sekarang ini kita masih Orde Baru. Mungkin nilainya berubah, pemainnya berubah, tapi struktur pengetahuan dan epistemologi kita masih Orba banget.”
Pengalaman para personil Melancholic Bitch yang mulai berkeluarga, serta kesadaran mengenai Orde Baru yang belum binasa ini, lantas melahirkan NKKBS. “Keluarga kita sekarang berasal dari generasi yang terpapar dengan politik keluarga – bagaimana konsep keluarga diciptakan dan dipolitisir di Indonesia,” lanjutnya. “Peran Bapak, peran Ibu, dan peran dua anak yang dikisahkan bernama Budi dan Tini itu dibikin oleh negara. Ada moralitas yang mau dimainkan.”
Seterusnya, tutur Ugoran, ‘keluarga ideal’ Indonesia bikinan Orba ini menjadi penyebar sekaligus penegas propaganda negara. “Keluarga itu unit politik paling kecil,” ucap Ugo. “Dia agen sejarah, dan sejarah versi negara masuk lewat sana. Semua koridor propaganda masuk lewat keluarga berupa Bapak, Ibu, dan dua anak ini – termasuk film propaganda seperti Pengkhianatan G30S/PKI.”
Percakapan kami pun beralih ke kali pertama ia menonton film propaganda yang disutradarai Arifin C. Noer tersebut. “Susah banget aku lepas dari adegan pertama: orang-orang bawa celurit, menyerbu masjid dan gereja,” kenang Ugo. “Atau, darah orang tua yang mengguyur ke anaknya. Menurutku, itu ada di tubuh banget. Kamu merasakan ngeri itu sampai ke tubuhmu. Karena film itu afektif, dia politik emosi, dia sama sekali enggak rasional.”
“Aku enggak paham seluruh adegan rapat Politbiro,” lanjut Ugo. “Sebagai anak kecil, kita enggak tahu sebab-akibat. Yang aku tahu cuma, PKI ini ngeri. Tampang mereka seram, mereka merokok Dji Sam Soe, dan musiknya seram. Pokoknya yang kami tahu, mereka itu orang-orang jahat. Mereka jahat ke kita, kita melawan, dan kita menang. Orang Indonesia sekarang adalah pemenang karena mereka sudah tidak ada lagi. Narasinya begitu.”
“Orang meninggal, lho, pas nonton film itu,” tuturnya. “Mereka sampai injak-injakkan di Jawa Timur gara-gara film itu. Anak-anak kecil yang nonton film itu pada menjerit di dalam ruangan!” Nada suaranya berubah menjadi separuh jijik, separuh terperangah. “Anak SD umur 8 tahun kamu suruh melihat adegan orang menyilet orang lain. Gila apa? Lapisan traumanya lebar banget.”
Namun, bagi Ugoran, warisan paling mendalam dari propaganda film Pengkhianatan G30S/PKI terasa di wacana politik dan watak masyarakat kita saat ini. “Film ini ditonton satu generasi, angkatan yang sekarang umur 40-an tahun,” ucap Ugo. “Bagi generasi ini, sejarah politik Indonesia menjadi politik emosi. Sejak awal, emosi sudah meminggirkan segalanya. Dari yang kamu lihat dan kamu dengar soal PKI saja kamu sudah muak, dan barangkali kamu trauma.”
"Hantu-hantu masa kecil
Bangkit dari tidurnya yang panjang
Hantu-hantu masa kecil, lepas
Berbaris dan bergerak
Pos Ronda Berencana
Babinsa Bahagia
Pak disepakpak para preman
Awas awas bahaya anjing gila!"
Melancholic Bitch, "Normal, Moral"
“Makanya susah banget untuk membahas komunisme dan sejarah 1965 sampai sekarang,” keluhnya. “Kita cuma bisa melihat mereka sebagai hantu masa kecil. Kita sudah tidak bisa memandangnya secara obyektif. Kita bisa bilang bahwa ada pemikir yang membahas Marxisme dari sudut pandang Islam, tapi enggak bakal tembus. Pokoknya kalau lo komunis, lo pasti atheis. Urutan yang otomatis ada di pikiran kita begitu. Upaya meluruskan sejarah jadi susah banget.”
“Belum lagi image yang direpresentasikan film itu,” lanjutnya. “Dulu, Gerwani itu salah satu gerakan politik perempuan yang paling menonjol di dunia, lho! Mereka perempuan paling pintar di Indonesia saat itu, yang jago ngomong di forum, dan berdiri sama tinggi dengan laki-laki di zaman yang sangat patriarkal. Tapi, gara-gara film itu, mereka cuma jadi monster.”
Bagi Ugoran, kegagapan kita dalam menanggapi persoalan 1965 – yang tampak dari pembubaran diskusi soal ’65 dan pengepungan gedung LBH Jakarta sebulan lalu – adalah cerminan dari dominasi politik emosi yang dipertegas di ruang keluarga. “Sekarang, musuh terbesar kita adalah grup WhatsApp keluarga,” ucap Ugo, serius. “WA Group itu yang meneguhkan nilai-nilai tertentu dan jadi corong propaganda politik. Kalau tidak ada WA Group keluarga, apa akan ada gerakan seperti Aksi 212?”
“Kalau kita cek, generasi yang sekarang mulai mengoceh lagi soal film G30S ada di rentang usia yang sama – antara 35 sampai 50 tahun,” tuturnya. “Pada saat yang sama, generasi inilah yang kemudian mengajukan pertanyaan ulang dan bersikap kritis.” Pertentangan batin dan dualisme ini, bagi Ugoran, adalah kutuk yang mesti ditanggung oleh generasinya. Ketika mereka berusaha mempertanyakan nilai-nilai moral dan politik manapun yang disusupi negara melalui propaganda, biasanya mereka justru bertentangan dengan kawan-kawan seangkatan.
“Mau tidak mau, kita harus berhadapan dengan keluarga yang secara politik belum tentu sepemikiran,” tutur Ugoran. “Ini baru soal grup keluarga, belum lagi lingkar Alumni SMP atau SMA. Tapi, kalau kita gagal dewasa secara politik di ruang keluarga, bagaimana kita mau ngomong di level kota dan negara? Terus terang itu yang ngeri.”
Percakapan kami sore itu terjadi pada saat yang tepat. Ketika kami berjumpa, masih banyak yang membicarakan ujaran Presiden Jokowi mengenai perlunya film Pengkhianatan G30S/PKI versi millenial. Ugoran tampak separuh geli, separuh marah ketika saya menanyakan saran apa yang akan ia berikan pada calon sutradara film terkutuk ini. “Sudahlah, enggak usah bikin!” ucapnya, tegas.
“Kamu bakal menyesal,” lanjutnya. “Arifin C. Noer itu bikin Trilogi Sandek di teater pada tahun 1970-an, kritik awal untuk ideologi Pembangunan Orde Baru. Dan naskah teaternya itu salah satu trilogi naskah terkuat di Indonesia. Terus dia bikin G30S dan dia berdosa. Saking paniknya, dia langsung bikin film Matahari Matahari. Kalau kamu lihat trajektori kariernya, dia tahu banget dosa film G30S.”
“Kalau kamu bikin film ini, kamu kayak dikasih jalan untuk membuat sesuatu yang bisa merusak satu generasi penonton Indonesia,” kritik Ugo. “Itu main Tuhan banget. Gila kamu kalau mau dikasih beban kayak begini, karena kamu cuma jadi kaki di antara skala operasi politik dan pelebaran sirkulasi ideologi yang enggak bisa kamu kendalikan.”
“Film dengan skala sebesar ini, dalam sejarah cuma ada di film-film Nazi,” tutupnya. “Estetikanya jelas: estetika fasis.”
****
“Sialnya, Melancholic Bitch itu anak-anak perantau yang enggak pernah pulang,” katanya, pahit. Ada benarnya juga – Ugoran berasal dari Bandar Lampung, Richardus Ardita asal Sumatera Selatan, dan anggota terbaru, Nadya Hatta, berdarah Sulawesi Selatan. Sementara, Yannu Ariendra berasal dari Banyuwangi, dan Yossy Herman Susilo asli Sragen. Mengembara, kisah Ugo, membuat mereka berjarak dari kampung halamannya – tak hanya secara fisik, namun juga secara mental dan paradigma.
“Setiap aku lihat grup WA keluarga, aku cuma bilang iya-iya saja,” tuturnya, terkekeh. “Padahal di luar, aku sudah mempertanyakan semua nilai yang ada di sana. Pokoknya aku dianggap aneh sendiri. Dan akhirnya di WA keluargaku, enggak ada percakapan soal politik supaya enggak berantem.”
“Berantem sama keluarga itu capek,” ucapnya, sembari menyalakan rokok. “Dan enggak akan selesai juga – toh setiap Lebaran bakal ketemuan.”
Setelah percakapan kami usai, Marzuki Muhammad – pentolan grup Jogja Hip Hop Foundation – menghampiri meja kami, dan berbincang akrab dengan Ugo. Bertahun-tahun lalu, Marzuki mencetuskan grup seni pertunjukan Performance Fucktory, yang banyak mempengaruhi Melancholic Bitch. Tadi, Ugo sempat tersenyum simpul sembari mengisahkan salah satu penampilan Melancholic Bitch era awal. Seorang penampil menyikat gigi selama 30 menit tanpa jeda di pinggir panggung, sampai “giginya berdarah”. Mulutnya disorot close up oleh kamera, dan disiarkan langsung ke atas panggung selagi Melancholic Bitch tampil.
Syukurlah, performans nekat semacam ini absen dari konser mereka, beberapa jam setelah wawancara kami usai. Sementara penonton diguyur gerimis, para personil Melancholic Bitch siap sedia di atas panggung dengan kostum hitam-hitam. Mereka memulai dengan Akhirnya Masup Tipi, ode pahit dari Balada Joni dan Susi, dan legenda itu hidup di depan mata kami lagi, meski hanya selama 40 menit ke depan.
Setelahnya, saya percaya, mereka akan kembali tidur panjang sampai ada alasan lagi untuk berkumpul. Entah kapan, dan entah kenapa. Kami semua pulang dari konser itu dengan membawa doa agar Hari Raya itu segera tiba. (*)
****
"Ini malam sudah bulat
Untuk penat dan pelikat
Kita sepenuhnya milik cahaya
Sepijar
Sepijar
Malam telanjang di dadamu
Kita penat dan pelikat
Kita sepenuhnya jadi cahaya
Berpendar
Berpendar
Jatuh tubuhmu di peluk
Bahtera yang sesat terapung
Laut yang murung."
Melancholic Bitch, "Peta Langit, Larung"
https://jurnalruang.com/read/1508942178-trauma-irama-ugoran-prasad?section=Recent%20Article&position=4https://jurnalruang.com/read/1508942178-trauma-irama-ugoran-prasad?section=Recent%20Article&position=4https://jurnalruang.com/read/1508942178-trauma-irama-ugoran-prasad?section=Recent%20Article&position=4

Kamis, 11 Juli 2013

Dari Gigsplay

Ugoran Prasad: ‘Kalaupun saya di Indonesia terus, akan tetap sama saja’

Posted 11/07/2013 by Daffa Andika in Musician

Ugoran Prasad (Foto: Marnala Eros)
Ugoran Prasad (Foto: Marnala Eros)
Untuk sebagian orang, sosoknya sering terdengar sebagai tanda tanya. Bagi yang sempat mengenyam cerita-cerita pendek atau bukunya, ketandatanyaan tersebut datang dari teks demi teks itu sendiri. Bagi yang beruntung pernah menyaksikannya bernyanyi dan bernarasi untuk sebuah kolektif Melancholic Bitch, ketandatanyaan itu mungkin datang dari ketidaksigapan menerima kenyataan bahwa ada yang mampu bercerita bukan tentang dirinya dengan begitu fasih, erat, rejan yang bahkan mampu turut menyesakkan orang lain dan kesemuanya dilakukan dengan persona yang memaksa kesadaran berheran-heran apakah dia benar-benar sedang menceritakan yang bukan tentang dirinya. 

Atau ketandatanyaan itu lahir dari perasaan cemas, ketidaktahuan dan kerelaan akan kemungkinan kesempatan mengalaminya kembali. Tentang ketidaksigapan, mungkin akan lebih menenangkan jika tahu bahwa dia memang lahir dan dekat dengan dunia teater dan seni pertunjukan. Sementara yang tentang kecemasan, patut dimaklumi karena fakta dia telah, masih, dan akan sering keluar masuk negara ini demi pendidikan akan dunia pentas yang lebih lagi. 

Beruntung bagi banyak orang ketika akhirnya dia pulang untuk beberapa saat dan kembali bernarasi bersama Melancholic Bitch setelah ratusan hari. Yogyakarta pada 5 Mei 2013 dan Bandung pada 31 Mei 2013 menjadi salahdua kesempatan mahal itu. Mungkin dan semoga saja masih ada beberapa kali lagi walau sudah pasti tidak akan banyak. Dan memang dosa rasanya jika harus banyak menuntut dan merelakan diri terus menerus dihujani ketidaksigapan-ketidaksigapan dan kecemasan-kecemasan yang sama yang mustahil berkurang dosisnya karena mereka adalah Melancholic Bitch, dan ya, dia adalah Ugoran Prasad. Saya berkesempatan mewawancarai Ugo seusai konser Menuju Semesta di Bandung akhir Mei lalu. Ini setelah konser, tapi ternyata dia masih saja membuat saya sebal karena dia bilang kalau dia masih bisa membuat yang lebih bagus dari semua yang telah dia buat selama ini.
 **
Ugoran Prasad, saya benci Anda.
Ok.

Jika ada seseorang datang dan mengatakan itu kepada Anda, apakah itu hal yang baik-baik saja?
Ya, baik-baik saja.

Kenapa?
Saya pikir justru menyenangkan karena jujur, barangkali, dan tidak penting sebagaimana saya merasa saya bukanlah seorang yang penting. Saya tidak merasa butuh disukai dan saya pikir bukan itu fungsi seniman. Yang saya pikir paling penting dari posisi seniman adalah apakah saya bisa bicara, bisa membangun komunikasi lewat karya saya, apakah karya saya bisa mengatakan sesuatu yang bisa direspon oleh orang lain dan kemudian saya bisa mendengar respon tersebut. Saya pikir justru ketegangannya, malah harusnya, Anda berkomunikasi dengan orang yang membenci Anda ataupun yang Anda benci. Dan “orang lain” menurut saya adalah sebuah tema penting dalam kesenian, di Indonesia apalagi, karena di sini ‘kan ada banyak yang diliyankan, ada banyak othering di Indonesia. Sehingga kalau Anda cuma ngomong sama orang yang Anda sukai atau yang anda mau, kita tidak akan kemana-mana. Saya pikir tugas seniman justru harusnya melampaui itu, karena segala keinginan untuk disukai atau kekhawatiran dibenci itu menurut saya bisa berbahaya.

Bagaimana jika kebencian itu berasal dari ketidakrelaan mengapa ada yang bisa menghasilkan karya sebagus karya-karya Anda?
Ya tidak apa-apa juga. Jika dalam konteks itu, saya juga membenci banyak orang. Saya benci kenapa David Wrench sedemikian bagus, kenapa Pink Floyd sedemikian bagus, saya juga benci kenapa Arian “Puppen” sedemikian bagus. Semua jika konteksnya bagaimana saya mendengarkan mereka dan bagaimana kemudian itu membantu saya mencoba mengeksplor wilayah baru dalam kesenian saya. Saya pikir hubungannya justru yang sehat begitu ya barang kali, love and hate relationship antara kita dengan yang kita dengarkan. Saya pikir justru tugasnya adalah apa yang di luar itu, apa yang setelah itu. Itu yang sebenarnya lebih saya khawatirkan. Saat misalnya ada orang yang tiba-tiba membenci saya karena merasa apa yang saya lakukan sedemikian bagus, maka saya akan mengatakan bahwa, “Nggak kok, saya mendengarkan banyak, kamu bisa lacak dari mana kami belajar, lihat lingkungan kami, bagaimana tidak ada yang tidak mungkin ketika kamu bekerja dalam logika kolektif, dalam logika komunitas, tidak ada yang tidak mungkin ketika kamu terus belajar.”

Sebagai seorang akademisi seni pertunjukan, apakah anda melihat diri Anda sendiri sebagai suatu pertunjukan?
Pada titik tertentu saya harus mengatakan bahwa saya cukup punya akses pada logika-logika dan metode-metode pertunjukan dan iya, saya menggunakan banyak sekali prinsip-prinsip teater dalam pembangunan saya. Dan memang bersama teman-teman teater kami tumbuh lebih berani, dalam pengertian bahwa teman-teman teater kan menunjukkan eksplorasi yang tidak habis-habis, jadi itu membuat kami melihat seluruh segi dari pertunjukan kami sebagai ruang pertunjukan. Bahkan masuk, berdiri, dan diam di atas panggung adalah bagian dari pertunjukan. John Cage pernah membuka pertunjukannya dengan silent selama limabelas menit. Saya owe much untuk itu. Untuk dia juga malam ini saya naik ke atas panggung dan satu menit saja silent. Jadi segi-segi dari pertunjukan tentu sangat saya kenali walau kami merasa belum maksimal betul mengeksplorasi itu. Tapi iya, kami cukup akrab dengan unsur-unsur itu.

Apakah Melancholic Bitch berangkat dari suatu keresahan-keresahan tertentu?
Bisa dikatakan bahwa sebagaimana banyak anak band, terutama yang melampaui masa Orde Baru ’98 ke atas, di titik-titik tertentu saya kira ada “semangat generasi”. Generasi paska ’98 yang sama-sama punya kegelisahan politik tertentu, punya kegelisahan sosial tertentu. Punya ketegangan antara yang individual dengan yang politik, punya ketegangan antara diri dan masyarakat, punya ketegangan antara penerimaan dan penolakan dalam taraf tertentu karena dibesarkan dari gagasan atas pemberontakan dan seterusnya. Tapi pada saat yang sama juga melahirkan paradoks. Paradoks dari angkatan ’98 itu ‘kan, “Pemberontakan demi perubahan dalam konteks perubahan.” Artinya ‘kan mereka menolak sesuatu tapi membayangkan dan menginginkan adanya penerimaan terhadap gagasan tertentu mereka. Dan ini yang saya pikir merupakan “hantu” kami. Sudah cukup lama jadi “hantu” kami. Mungkin sampai paruh pertama gerakan kami. Bisa dikatakan album Anamnesis berada dalam paruh itu.
Kami kemudian, saya pikir, cukup terbebaskan dari ketegangan-ketegangan itu karena pasti tidak ada jawabannya. Karena pada titik tertentu, ya begitulah, kami harus berdamai dengan ketegangan-ketegangan itu, itu memang sudah seperti kutukan lahir kami. Untungnya kami kemudian mampu melihat; “Oke, ada cara lain dalam mengolah karya, yang bukan dari kegelisahan individual dan keresahan personal kita.” Akhirnya kami coba masuk dan membaca lingkungan. Misalnya dalam konteks Balada Joni dan Susi kami jadi lebih eksternal; melakukan perjalanan, melakukan “dokumentasi” tertentu, jalan-jalan ke Pantura, cari tema, belajar, ngomong soal kriminalitas, ngomong soal harapan generasi muda. Ada orang-orang lain di sana yang kuat, yang melawan, yang bernegosiasi terus menerus dalam kehidupan sehari-hari di tengah ketidakmungkinan-ketidakmungkinan sosial, tapi mereka terus fighting. Dan dari sana kami mendapat inspirasi. Namun pada saat yang sama ketika kami melakukannya ternyata kami juga menemukan diri kami di sana, “Oh, ternyata gak jauh berbeda ya.” Dan kegelisahan-kegelisahan tadi, saya pikir, sekarang bisa lebih rileks, dalam artian bahwa kami jadi punya alat untuk berusaha keluar dari perasaan self-important, keluar dari kepentingan emosi kita sendiri, kami berusaha keluar dari itu semua. Dan pada titik ini yang kami bayangkan bisa kami lakukan adalah belajar.

Lalu dengan pemahaman bahwa Melancholic Bitch adalah suatu pertunjukan dengan album-albumnya sebagai narasinya, sebenarnya apa yang coba Anda berikan lewat narasi-narasi itu? Apakah memberikan jawaban atas suatu keadaan, hanya menampilkan sesuatu, atau sebenarnya justru mengajak mempertanyakan kembali apakah keadaan-keadaan tersebut memang benar-benar suatu masalah?
Saya pikir karena kami berenam, kalau saya bisa bilang saya punya preskripsi tertentu atas realitas sosial tersebut atau resep untuk mengatasinya, pasti saya omong kosong. Kalau dibilang saya cuma  sekedar menampilkan kenyataan, ya tidak, ini sudah bukan kenyataan lagi. Ini sudah representasi dan representasi dari kenyataan, sudah beberapa tingkat. Ini bukan kenyataan kok. Kalau Anda benar-benar mau lihat kenyataan ya pergilah ke luar sana, jangan ke pertunjukan. Pertunjukan itu sudah ada estetisasi, sudah ada penyangatan, ada metafora dan seterusnya.
Yang kami bayangkan cuma ruang bercakap, ruang berdiskusi. Kami banyak belajar dari para penulis. Keuntungan penulis itu ‘kan, ketika dia menulis lalu melemparkan tulisannya, dia sudah “mati”. Begitu kan yang dikatakan Barthes. Jadi artinya itu sudah merupakan tugas pembaca untuk menghidupkan karangan itu, tugas pembaca untuk mendiskusikannya. Bersama teman-temannya, bersama lingkungannya membaca dan mempelajarinya dan seterusnya. Bahkan bukan pengarang kok yang paling tau. Kadang-kadang karangan itu sendiri terus membangkitkan hal-hal baru yang bahkan si pengarangnya pun tidak pernah sadari, yang pengarangnya pun bahkan tidak pahami. Barangkali bahkan tidak diniatkan. Saya yakin dalam beberapa hal kalau ada orang yang tersentuh dengan karya kami dalam satu atau lain cara, itu sebenarnya dia tidak sedang mengatakan betapa bagusnya karya kami, tapi sedang mengatakan dalam taraf tertentu bahwa dia punya teks tertentu, melihat dalam sudut tertentu yang barang kali tidak kami lihat. Jadi saya pikir, menyukai sesuatu itu lebih banyak menunjukkan siapa Anda ketimbang apa yang Anda sukai. Nangkep gak?

Kurang.
Gini, misalnya ketika Anda menyukai handphone ini, maka itu lebih menunjukkan siapakah Anda, ketimbang definisi dari handphone ini sendiri. Anda adalah seseorang yang menyukai handphone ini.
Karena saya kan tidak bisa menyensor pikiran orang. Ketika dia mendengarkan lagu saya, apa yang ada dalam pikiran dia saya tidak tahu, dan barang kali itu lebih hebat daripada yang saya pikirkan, lebih luar biasa dari yang saya pikirkan. Itulah makanya saya pernah bilang, yang oleh Ardi Wilda dikatakan dengan terlalu ekstrim ya, fans itu menjijikan. Saya menggunakan bahasa Jawa pada saat itu, nggilani. Kata nggilani itu tidak bisa literally diterjemahkan menjijikan, menurut saya. Tapi bukan berarti dia salah. Yang saya coba katakan banyak di sana adalah saya geli dengan fans, saya jengah dengan relasi dengan fans karena saya pikir, “Nggak, kamu tuh ‘Orang Itu’.” “Kamu yang mempunyai teks yang belum tentu saya sudah pahami”, “Dan misalnya kamu bisa menyukai saya sedemikiannya, itu lebih karena apa yang kamu pikirkan dan apa yang kamu pikirkan itu barang kali yang lebih berharga daripada karya itu sendiri.”

Siapa yang Anda anggap sebagai fans?
Makanya saya tidak tahu. Saya justru tertarik untuk tahu. Saya tertarik untuk tahu apa yang orang-orang pikirkan. Dalam artian mungkin saya yang akan jadi nge-fans dengan buah pikiran-pikiran mereka. Dan karenanya saya berharap ini bisa jadi lingkungan produksi. Sebab dulu saya juga nge-fans dengan banyak orang. Saya suka Slank, yang kemudian saya niru mereka, saya belajar dari mereka, saya jadi pengen menciptakan karya sebagai bagian dari sejarah hubungan saya dengan apa yang saya dengarkan. Saya berhutang banyak dengan karya-karya mereka.

Satu hal tentang hutang. Melancholic Bitch sangat jarang tampil secara live, hanya pada kesempatan-kesempatan tertentu. Jika akhirnya Melancholic Bitch hadir kembali pada suatu kesempatan, apakah itu akan menjadi sebatas “membayar hutang’” kepada semua yang telah lama menantikan?
Orang-orang akan bisa melihat sendiri apakah kami hanya sebatas membayar hutang atau tidak. Kalau lihat pertunjukan tadi, jika sekedar membayar hutang kami tidak akan– tidak tahu ya, kami merasa bahwa kami mempersiapkan pertunjukan yang sungguh-sungguh, merancangnya dengan sungguh-sungguh. Ini lebih dari sekedar itu. Betul bahwa ada elemen “kami belum pernah ke Bandung” tentu saja, tapi di luar itu kami pengen percakapannya berlangsung, percakapan antara karya ini dengan penonton. Kami ingin ada impresi tertentu yang bisa dihasilkan, pulang ada yang diobrolin di angkot, “Eh, tadi ada yang kurang enak deh waktu bla bla bla.” Dan dari obrolan-obrolan itu mungkin memercik sesuatu entah apa. Itu yang kami harapkan.

Karena kesibukan orang-orang di dalamnya, timbul banyak celah-celah interval penampilan Melancholic Bitch. Untuk Anda sendiri, sebenarnya apa yang Anda harapkan untuk terjadi di antara celah-celah itu?
Sudah terjadi sebenarnya. Karena kan sebenarnya sebagai kolektif kami mendukung kerjaan teman-teman di luar dari apa yang dianggap sebagai tradisional bahwa kalau anak band itu bikin album, manggung sebagai band, dsb. Buat kami harus lebih dari itu. Jadi proyek-proyek Yossi sebagai engineer, proyek-proyek Yennu sebagai music director itu bagian dari proyek-proyek kami yang harus kami dukung. Dan ini kelihatannya dari luar memang seperti itu ya, kami juga ya sudahlah memang kelihatan dari luar penuh interval. Tapi sebenarnya kami selalu punya agenda kolektif, agenda bersama, walaupun mungkin tidak semuanya. Seperti saya sama Yennu, Yennu sama Didit, Didit sendiri juga tergabung di Individual Life dan Shoolinen. Buat kami ini sama pentingnya. Pada titik tertentu kami sudah melihat Melancholic Bitch tidak lagi harus bekerja dengan cara yang itu, manggung terus, bikin album terus. Karena kayaknya kalaupun saya di Indonesia terus, akan tetap sama saja.
Sebagai contoh, 2008 akhir sampai 2009 akhir saya di Indonesia, kami mentas paling cuma satu-dua kali. Jadi memang sekalipun saya di Indonesia, kami tidak terlalu bisa dengan situasi-situasi orang-orang di dalamnya. Mungkin sebenarnya dari segi schedule bisa-bisa saja. Tapi sebenarnya diam-diam kami juga diuntungkan karena kami sendiri tidak laku. Bukan kami terus menolak banyak tawaran, kadang-kadang memang ada tawaran masuk pas kami tidak bisa. Tapi bukan setelah itu ada sepuluh tawaran kami tolak semua tiap tahun, tidak seekstrim itu. Saya pikir bahkan, matematikanya yang kita tolak dan kita terima itu setahun selalu rata. Misalkan kita main lima kali, mungkin ada lima juga kesempatan yang kita tidak bisa.

Interval dan keabsenan-keabsenan itu juga merupakan unsur penting di dalam seni pertunjukan. Tapi bagaimana sebenarnya makna keabsenan itu sendiri bagi Anda?
Keuntungannya kemudian adalah ketika kami berada pada titik di mana kami mentas jadi lebih besar tanggung jawabnya. Jadi ketika kami mengiyakan pertunjukan, situasinya jadi kami harus main sebaik mungkin. Jadi lebih tegang. Karena kami tahu kesempatan untuk itu tuh tidak banyak.
Misalnya gini, sekarang main di Bandung, terus “Yuk cari event ke Jakarta sekalian main di pub atau apa”. Setelah kami latihan, ternyata enggak mungkin, energi kami akan habis untuk Bandung. Memang banyak teman-teman band yang bisa hari ini main di Bandung besok di Jakarta besoknya di mana. Kami tidak bisa. Nanti “hilang”, nanti jadi lain, kasian nanti yang di tempat berikutnya kalau tidak seintensif tempat sebelumnya. Tidak fair buat mereka. Ya mohon maaf buat yang tidak bisa nonton, tapi daripada kami main tapi mengecewakan. Kira-kira seperti itu. Jadi maknanya adalah membuat seolah-olah setiap panggung resikonya jadi besar. Dan kami harus menghitung betul supaya kami bisa bertanggung jawab.

Melipir ke Balada Joni dan Susi. Kisah mereka lahir berdasarkan keadaan-keadaan dan realitas yang ada pada saat mereka ditulis waktu itu. Jika saja mereka akhirnya tidak mati, melihat situasi dan keadaan hari ini, apakah menurut Anda mereka masih bisa bertahan hidup?
Mungkin tidak juga, tapi mungkin iya, tapi mungkin tidak. Karena bukan itu persoalannya. Persoalannya adalah bahwa sepotong dari cerita perjalanan mereka saat itu sepertinya penting untuk diceritakan. Bahwa mereka bersama-sama atau tidak sekarang itu adalah hal lain.

Seberapa penting keterkaitan-keterkaitan narasi untuk Melancholic Bitch atau Anda sendiri?
Mungkin sekarang-sekarang ini memang lagi iseng bermain itu, iseng bermain frame. Mencoba bikin pertunjukan yang kalau misalnya kita main 21 lagu tuh frame-nya jelas lagu per lagu. Karena sebenarnya saya tidak bisa chit chat kan. Saya tidak tahu harus ngomong apa di antara lagu. Dan untuk mengatasi itu kita jadi banyak belajar macem-macem. Tapi ternyata ketemu, “Eh ternyata kalau kita bikin frame dan kita main berdasarkan frame tertentu itu bisa membebaskan”. Jadi “Ini bukan aku, kok.” Kalo chit chat kan kayak seolah-olah jadi tanggung jawab– itu makanya jadi ada istilah frontman kan, saya tidak suka itu. Nah kalau seperti ini kan jadi, “Oh ini narator”, cuma peran. Kalaufrontman kan kayaknya tanggung jawabnya gede banget. Di satu sisi ini jadi memungkinkan kami memaket suatu pertunjukan dengan utuh sebagai, kalau bisa, bahan diskusi, bahan obrolan, bahan resepsi, bahan pikiran buat teman-teman yang menonton. Dan pada saat yang sama ini membuat kami jadi tidak terlalu kami. Ini bukan tentang kami. Ini bukan tentang individu-individu Melancholic Bitch, bukan tentang seberapa bagus suara “gue”, seberapa keren “gue” main gitar, bukan tentang itu. Tapi tentang apa yang kami melakukan untuk mendukung narasi kita, apa yang kami lakukan untuk membuat pertunjukan itu, diskusi itu, menjadi lebih kuat.
Bukan berarti setelah itu cara-cara yang lain tidak cukup ya. Tapi saya pikir saya senang dengan generasi pelaku musik sekarang ini karena banyak yang memulai “ini bukan tentang gue, ini tentang yang gue omongin”. Coba liat Efek Rumah Kaca, gede-gede semua soal yang mereka bicarakan. Dan itu membuat orang mikir, membuat orang ngobrol.

Di liner notes EP Lagu-Lagu Yang Tidak Bisa Dipercaya, tertulis bahwa lagu-lagu dalam EP tersebut menjadi b-sides karena dianggap terlalu pasif. Apakah lagu-lagu Melancholic Bitch diharuskan selalu aktif?
Terlalu pasif pada jamannya. Jadi paska album pertama kami bikin sekumpulan lagu yang kami bingung mau diapain dan secara konseptual teman-teman juga merasa galau yang “itu”. Galau yang individual, yang terlalu self-centric, bisa kebawa ke sana, bisa keseret ke sana, bisa keenakan, jadi safe zone, misalnya. Jadi kita butuh keluar dulu dari sana. Bukan karena apa-apa, itu tetap bisa oke-oke aja, ada band kayak Blur ya oke-oke aja, ada Radiohead juga oke-oke aja, tidak ada masalah sebenarnya. Tapi kami merasa situasinya jadi negatif di antara kami sendiri. Jadi kayak tidak bisa kemana-mana dengan lagu-lagu itu. Kalau harus selalu aktif? Tidak juga, tapi jangan terlalu pasif lah. Jangan misalnya bikin lagu tapi, “ini lagu ngomong apa sih”. Dan ketika kami sekarang telah berjarak dengan itu, kami dapat melihat apa yang sedang dibicarakan, bisa dipelajari dengan lebih tenang. Jadi pada titik lagu-lagu dulu itu kami bikin tapi kami tidak suka.

Kalau Anda bukan seorang personil Melancholic Bitch, kira-kira akankah sekarang Anda suka dengan band ini?
Tidak tahu, tapi saya pernah nonton Melancholic Bitch sekali yang saya tidak ikut main dan, “Ya…oke, tapi aku bisa bikin lebih bagus.”