Tampilkan postingan dengan label konser. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label konser. Tampilkan semua postingan
Rabu, 19 Februari 2020
Minggu, 15 Oktober 2017
Review | [Ulasan Konser] Limunas Trauma, Irama : Mitos Itu Benar- Benar Nyata!
Dari GilaNada
Ini konser apa ulangan bahasa Indonesia?
Malam Minggu (14/10), Bandung macet dan aku tak henti memaki situasi. Klakson mobil saling bersahutan, ada juga yang memaki angkot yang kutumpangi karena si sopir berhenti dimana pun seenak jidat. Menyebalkan memang, semua orang tak bisa membaca, semua orang tak bisa mengeja, sedangkan Susi sedang menunggu di Institut Francais Indonesia (IFI) Bandung, dibawakan Melancholic Bitch, mengemis-ngemis minta ditonton.
Aku tiba di IFI pukul delapan. Masih memaki-maki situasi karena tak bisa menonton Jon Kastella yang hendak jadi pembuka acara. Dua hari sebelumnya, aku berjanji pada Bang Jon -sapaan akrab Jon Kastella- bahwa aku hendak menonton setiap performa dia. Suaranya merdu, syahdu, dan benar-benar besar; mungkin sebanding dengan ukuran tubuhnya yang gempal dan wajah yang selalu tersenyum.
Meski demikian, penampilan lain cukup memukau untuk membuka konser ini. Hari ini adalah konser Liga Musik Nasional (Limunas) yang aku lupa sudah memasuki rangkaian ke berapa semenjak konser pertamanya; Rajasinga, Kelelawar Malam, dan Vrosk sekitar enam tahun lalu.
Kali ini, helatan Limunas diberi judul Trauma, Irama yang dibawakan oleh Melancholic B1tch (Melbi), band aneh yang kerap muncul sebagai mitos. Bikin album tak tentu kapan waktunya, bikin konser tak tahu kapan waktunya, dan menghilang lagi tak tahu kapan waktunya. Aneh memang, kerjaannya bikin rindu penggemar dan vokalisnya, Ugoran Prasad seringkali seenak jidat membakar rokok di ruangan ber-AC. Menyebalkan.
Sebagai pembuka acara, Jason Ranti hadir untuk membantuku memaki situasi. Liriknya ngehe, dan membuatku tertawa puas. Semenjak kedatanganku, setidaknya ia membawakan tiga lagu untuk kusaksikan. Dua lagu, “Suci Maksimal” dan “Do’a Sejuta Umat” berasal dari album Akibat Pergaulan Blues dan satu lagu baru yang entah apa judulnya, pokoknya berisi tentang bagaimana seorang etnis Tionghoa melindungi istrinya yang hamil tua menjelang aksi 212. Setidaknya, penampilan Jason Ranti cukup memukau tadi. Apabila dideskripsikan dalam satu kalimat; Jason Ranti adalah Iwan Fals yang sedang konsumsi segaris marijuana. Yha.
Panggung cukup gelap waktu itu. Tak ada properti apa-apa selain sebuah manekin raksasa yang mengenakan pakaian sipil yang sedang dibungkus blackbag entah oleh siapa -mungkin oleh Creepy Creedy dalam film V for Vendetta atau mungkin oleh Penembak Misterius (Petrus) yang jadi momok paling menakutkan di era Orde Baru (Orba).
Konser ini sendiri merupakan rangkaian tur Melbi untuk mempromosikan album barunya yang berjudul NKKBS Bagian Pertama. Secara keseluruhan, album ini mengisahkan tentang berbagai cara yang dilakukan Orba untuk mengontrol masyarakatnya dari berbagai aspek. Mulai dari aspek terkecil seperti keluarga lewat program Norma Keluarga Kecil Bahagia Sederhana (NKKBS), kekerasan budaya lewat film Pengkhianatan G30S-PKI karya Arfin C. Noer, hingga cara-cara gelap lainnya.
Band ini aneh, ungkap Jeje -panggilan akrab Jason Ranti- saat memersilakan band aneh ini naik ke panggung. “Ini band jarang maen, tapi efek gitarnya seambregan,” kata Jeje yang disambut oleh tawa penonton.
Jeje pergi, manekin tinggal sendiri beserta instrumen lain yang sudah disiapkan. Di tengah panggung ada Oscar -piano milik Leilani Hermiansih alias Frau, sendirian ditinggal sahabatnya yang kini sedang di Berlin- yang dimainkan oleh Nadya Hatta. Sebentar kemudian, Ugo sang vokalis datang menyusul dan dilanjut dengan kedatangan personel lainnya. Apabila sebelumnya kita hanya mengenal Ugoran Prasad pada vokal, Yennu Ariendra pada gitar, Yossy Herman Susilo pada gitar synthesizer, dan Septian Dwirama pada perkusi, maka kali ini Simelbi mendapat dua personel tambahan; Nadya Hatta (Individual Life) pada piano dan Danish Wisnu Nugraha (FSTVLST) pada perkusi yang menggantikan posisi Septian.
Lampu gelap, musik dimulai, Ugo marah karena Yennu telat dan Nadya main piano sendiri. Sebagian penonton terdengar berceloteh;
“Kapan dong mau ngerokok?”
“Kalian pengen banget lihat saya merokok?” jawab Ugo. Penonton tertawa, musik pertama dimainkan.
Lagu pertama dibuka dengan “Departemental deities and the other verses” yang merupakan trek pembuka dari Anamnesis dan Re-Anamnesis; rilisan terakhir mereka paska Joni dan Susi. Semua penonton mulai menyanyikan musikalisasi dari puisi milik Rudyard Kipling ini. Atmosfer mulai terbangun, sekejap kemudian seluruh IFI terdengar semakin riuh.
Lagu dilanjut dengan “Norma, Moral” yang terbilang cukup anthemic. Tepat di belakang Ugo, ada sorotan slideshow berisi lirik lagu. Penonton menyanyikan reffrain yang memaki Orba secara blak-blakan lewat termin yang lantas berubah jadi jargon; “Pos ronda bahagia/ Pak disepak para preman/awas-awas bahaya anjing gila/Ada guru Pendidikan Moral Pancasila.” Apabila Orba masih hidup, semua penonton mungkin sudah menjadi properti panggung; dibungkus blackbag dan mayatnya hilang entah ke mana.
Setelah “Norma, Moral”, Melbi kembali membawakan beberapa trek dari NKKBS Bagian Pertama seperti “Dapur, NKK/BKK”, dan “666,6” sebuah kritik terhadap hegemoni yang telah tercipta hingga saat ini. Otak manusia jadi tumpul, kebanyakan dicecoki pemahaman agama secara mendangkal hingga Ugo harus ‘mengetes penonton’ untuk menghapal lirik-lirik Melbi.
“Kita lihat, sejauh apa kalian mampu menghafal lagu-lagu kami,” tantang Ugo.
“Dapur, NKK/BKK” dimainkan. Teks di slideshow benar-benar hilang, semua penonton tetap sing-along. Semua orang mendadak gila seperti lagunya; Kota telah dikepung tentara! Ini gila, ini konser apa ulangan bahasa Indonesia?
Tak terasa, dua belas trek NKKBS Bagian Pertama sudah dibawakan. Trek terakhir dari album ini “Cahaya, Harga” berhasil menarik animo penonton yang seolah sudah hafal di luar kepala liriknya.
Perlu diingat, menonton Melbi adalah mitos. Mitos seperti kata Barthes, seni bertutur paling mendasar dari manusia. Mitos bukan hanya sekadar cerita-cerita tentang dewa, tentang Tuhan, atau tektek bengek lainnya. Selama ia dipercaya oleh manusia, aspek budaya sekecil apapun layak disebut mitos, tak terkecuali menonton Melbi di mana semua penonton bisa bernyanyi sampai mampus.
Paska menyanyikan trek dari NKKBS Bagian Pertama, Melbi membawakan kembali lagu-lagu dari Balada Joni dan Susi serta Anamnesis. Trek pertama dibuka dengan “Akhirnya Masup Tipi”. Penonton cukup antusias, dan tak hentinya berteriak; “Susi ajarkanlah pada mereka/ bagaimana caranya mengeja,” berulang-ulang dan tak ada yang mampu membacanya hingga saat ini.
lagu lantas dilanjut dengan “7 Hari Menuju Semesta”, “The Street“, dan “Tentang Cinta”, dua lagu andalan dari album Anamnesis yang diteruskan di puncak keriuhan acara; “Mars Penyembah Berhala” dimainkan. Semua penonton bernyanyi, ada beberapa yang melakukan crowd-surfing. Sebuah momentum menakjubkan untuk konser balada.
Penonton lelah, penonton terlalu lama bermain seharian, “Nasihat yang Baik” pun dibawakan. Sebagian penonton ingin dangdutan, minta “Dystopia” dimainkan, namun tak digubris. Lagu tetap dilanjut dengan trek lain dari Balada Joni dan Susi; “Dinding Propaganda” dimainkan.
Menjelang dua lagu terakhir, asap rokok berkecamuk di tengah panggung. Band ini brengsek memang, merokok kok di ruangan ber-AC. Sebagian penonton ada yang mengeluh dan Melbi bersiap untuk pergi. Semua peralatan dirapikan kembali tapi penonton tetap minta encore. Joni pasrah, mereka memberikan dua trek encore, “Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa” pun dinyanyikan hingga penonton bahagia.
Konser ini sendiri ditutup dengan “Menara”, lagu terakhir dari Balada Joni dan Susi. Penonton riuh kembali, sambil berteriak mereka mengumandangkan anthem terakhir; “Membuka lahan kebun apel/ seperti Tuhan/ lalu kita dirikan menara yang tinggi/ lebih tinggi,” mereka tengadah, seperti Joni, seperti Susi. Total 22 lagu dibawakan Melbi, konser ditutup dengan lulabi yang dikumandangkan bukan untuk Joni, bukan untuk Susi, ataupun sekawanan Joni, maupun sekawanan Susi. “Tidurlah Isra, tidurlah Ilana“.
Mengutip Anna Karenina; sebuah keluarga bahagia, bahagia bersama- sama, keluarga tidak bahagia, tidak bahagia dengan caranya masing-masing (Lev Tolstoy, Anna Karenina, 1877).
Malam Minggu (14/10), Bandung macet dan aku tak henti memaki situasi. Klakson mobil saling bersahutan, ada juga yang memaki angkot yang kutumpangi karena si sopir berhenti dimana pun seenak jidat. Menyebalkan memang, semua orang tak bisa membaca, semua orang tak bisa mengeja, sedangkan Susi sedang menunggu di Institut Francais Indonesia (IFI) Bandung, dibawakan Melancholic Bitch, mengemis-ngemis minta ditonton.
Aku tiba di IFI pukul delapan. Masih memaki-maki situasi karena tak bisa menonton Jon Kastella yang hendak jadi pembuka acara. Dua hari sebelumnya, aku berjanji pada Bang Jon -sapaan akrab Jon Kastella- bahwa aku hendak menonton setiap performa dia. Suaranya merdu, syahdu, dan benar-benar besar; mungkin sebanding dengan ukuran tubuhnya yang gempal dan wajah yang selalu tersenyum.
Meski demikian, penampilan lain cukup memukau untuk membuka konser ini. Hari ini adalah konser Liga Musik Nasional (Limunas) yang aku lupa sudah memasuki rangkaian ke berapa semenjak konser pertamanya; Rajasinga, Kelelawar Malam, dan Vrosk sekitar enam tahun lalu.
Kali ini, helatan Limunas diberi judul Trauma, Irama yang dibawakan oleh Melancholic B1tch (Melbi), band aneh yang kerap muncul sebagai mitos. Bikin album tak tentu kapan waktunya, bikin konser tak tahu kapan waktunya, dan menghilang lagi tak tahu kapan waktunya. Aneh memang, kerjaannya bikin rindu penggemar dan vokalisnya, Ugoran Prasad seringkali seenak jidat membakar rokok di ruangan ber-AC. Menyebalkan.
Sebagai pembuka acara, Jason Ranti hadir untuk membantuku memaki situasi. Liriknya ngehe, dan membuatku tertawa puas. Semenjak kedatanganku, setidaknya ia membawakan tiga lagu untuk kusaksikan. Dua lagu, “Suci Maksimal” dan “Do’a Sejuta Umat” berasal dari album Akibat Pergaulan Blues dan satu lagu baru yang entah apa judulnya, pokoknya berisi tentang bagaimana seorang etnis Tionghoa melindungi istrinya yang hamil tua menjelang aksi 212. Setidaknya, penampilan Jason Ranti cukup memukau tadi. Apabila dideskripsikan dalam satu kalimat; Jason Ranti adalah Iwan Fals yang sedang konsumsi segaris marijuana. Yha.
Panggung cukup gelap waktu itu. Tak ada properti apa-apa selain sebuah manekin raksasa yang mengenakan pakaian sipil yang sedang dibungkus blackbag entah oleh siapa -mungkin oleh Creepy Creedy dalam film V for Vendetta atau mungkin oleh Penembak Misterius (Petrus) yang jadi momok paling menakutkan di era Orde Baru (Orba).
Konser ini sendiri merupakan rangkaian tur Melbi untuk mempromosikan album barunya yang berjudul NKKBS Bagian Pertama. Secara keseluruhan, album ini mengisahkan tentang berbagai cara yang dilakukan Orba untuk mengontrol masyarakatnya dari berbagai aspek. Mulai dari aspek terkecil seperti keluarga lewat program Norma Keluarga Kecil Bahagia Sederhana (NKKBS), kekerasan budaya lewat film Pengkhianatan G30S-PKI karya Arfin C. Noer, hingga cara-cara gelap lainnya.
Band ini aneh, ungkap Jeje -panggilan akrab Jason Ranti- saat memersilakan band aneh ini naik ke panggung. “Ini band jarang maen, tapi efek gitarnya seambregan,” kata Jeje yang disambut oleh tawa penonton.
Jeje pergi, manekin tinggal sendiri beserta instrumen lain yang sudah disiapkan. Di tengah panggung ada Oscar -piano milik Leilani Hermiansih alias Frau, sendirian ditinggal sahabatnya yang kini sedang di Berlin- yang dimainkan oleh Nadya Hatta. Sebentar kemudian, Ugo sang vokalis datang menyusul dan dilanjut dengan kedatangan personel lainnya. Apabila sebelumnya kita hanya mengenal Ugoran Prasad pada vokal, Yennu Ariendra pada gitar, Yossy Herman Susilo pada gitar synthesizer, dan Septian Dwirama pada perkusi, maka kali ini Simelbi mendapat dua personel tambahan; Nadya Hatta (Individual Life) pada piano dan Danish Wisnu Nugraha (FSTVLST) pada perkusi yang menggantikan posisi Septian.
Lampu gelap, musik dimulai, Ugo marah karena Yennu telat dan Nadya main piano sendiri. Sebagian penonton terdengar berceloteh;
“Kapan dong mau ngerokok?”
“Kalian pengen banget lihat saya merokok?” jawab Ugo. Penonton tertawa, musik pertama dimainkan.
Lagu pertama dibuka dengan “Departemental deities and the other verses” yang merupakan trek pembuka dari Anamnesis dan Re-Anamnesis; rilisan terakhir mereka paska Joni dan Susi. Semua penonton mulai menyanyikan musikalisasi dari puisi milik Rudyard Kipling ini. Atmosfer mulai terbangun, sekejap kemudian seluruh IFI terdengar semakin riuh.
Lagu dilanjut dengan “Norma, Moral” yang terbilang cukup anthemic. Tepat di belakang Ugo, ada sorotan slideshow berisi lirik lagu. Penonton menyanyikan reffrain yang memaki Orba secara blak-blakan lewat termin yang lantas berubah jadi jargon; “Pos ronda bahagia/ Pak disepak para preman/awas-awas bahaya anjing gila/Ada guru Pendidikan Moral Pancasila.” Apabila Orba masih hidup, semua penonton mungkin sudah menjadi properti panggung; dibungkus blackbag dan mayatnya hilang entah ke mana.
Setelah “Norma, Moral”, Melbi kembali membawakan beberapa trek dari NKKBS Bagian Pertama seperti “Dapur, NKK/BKK”, dan “666,6” sebuah kritik terhadap hegemoni yang telah tercipta hingga saat ini. Otak manusia jadi tumpul, kebanyakan dicecoki pemahaman agama secara mendangkal hingga Ugo harus ‘mengetes penonton’ untuk menghapal lirik-lirik Melbi.
“Kita lihat, sejauh apa kalian mampu menghafal lagu-lagu kami,” tantang Ugo.
“Dapur, NKK/BKK” dimainkan. Teks di slideshow benar-benar hilang, semua penonton tetap sing-along. Semua orang mendadak gila seperti lagunya; Kota telah dikepung tentara! Ini gila, ini konser apa ulangan bahasa Indonesia?
Tak terasa, dua belas trek NKKBS Bagian Pertama sudah dibawakan. Trek terakhir dari album ini “Cahaya, Harga” berhasil menarik animo penonton yang seolah sudah hafal di luar kepala liriknya.
Perlu diingat, menonton Melbi adalah mitos. Mitos seperti kata Barthes, seni bertutur paling mendasar dari manusia. Mitos bukan hanya sekadar cerita-cerita tentang dewa, tentang Tuhan, atau tektek bengek lainnya. Selama ia dipercaya oleh manusia, aspek budaya sekecil apapun layak disebut mitos, tak terkecuali menonton Melbi di mana semua penonton bisa bernyanyi sampai mampus.
Paska menyanyikan trek dari NKKBS Bagian Pertama, Melbi membawakan kembali lagu-lagu dari Balada Joni dan Susi serta Anamnesis. Trek pertama dibuka dengan “Akhirnya Masup Tipi”. Penonton cukup antusias, dan tak hentinya berteriak; “Susi ajarkanlah pada mereka/ bagaimana caranya mengeja,” berulang-ulang dan tak ada yang mampu membacanya hingga saat ini.
lagu lantas dilanjut dengan “7 Hari Menuju Semesta”, “The Street“, dan “Tentang Cinta”, dua lagu andalan dari album Anamnesis yang diteruskan di puncak keriuhan acara; “Mars Penyembah Berhala” dimainkan. Semua penonton bernyanyi, ada beberapa yang melakukan crowd-surfing. Sebuah momentum menakjubkan untuk konser balada.
Penonton lelah, penonton terlalu lama bermain seharian, “Nasihat yang Baik” pun dibawakan. Sebagian penonton ingin dangdutan, minta “Dystopia” dimainkan, namun tak digubris. Lagu tetap dilanjut dengan trek lain dari Balada Joni dan Susi; “Dinding Propaganda” dimainkan.
Menjelang dua lagu terakhir, asap rokok berkecamuk di tengah panggung. Band ini brengsek memang, merokok kok di ruangan ber-AC. Sebagian penonton ada yang mengeluh dan Melbi bersiap untuk pergi. Semua peralatan dirapikan kembali tapi penonton tetap minta encore. Joni pasrah, mereka memberikan dua trek encore, “Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa” pun dinyanyikan hingga penonton bahagia.
Konser ini sendiri ditutup dengan “Menara”, lagu terakhir dari Balada Joni dan Susi. Penonton riuh kembali, sambil berteriak mereka mengumandangkan anthem terakhir; “Membuka lahan kebun apel/ seperti Tuhan/ lalu kita dirikan menara yang tinggi/ lebih tinggi,” mereka tengadah, seperti Joni, seperti Susi. Total 22 lagu dibawakan Melbi, konser ditutup dengan lulabi yang dikumandangkan bukan untuk Joni, bukan untuk Susi, ataupun sekawanan Joni, maupun sekawanan Susi. “Tidurlah Isra, tidurlah Ilana“.
Mengutip Anna Karenina; sebuah keluarga bahagia, bahagia bersama- sama, keluarga tidak bahagia, tidak bahagia dengan caranya masing-masing (Lev Tolstoy, Anna Karenina, 1877).
Yang tersisa
@melancholic_bitch
・・・
Lalu kita jalan-jalan, dalam setengah bisik bisik. Kasih tumpah di setiap kelokan. Dalam memanggil kami, @boit3 dan @felixdass bikin kongsi. bersama #limunas dan @omuniuum di bandung dan @soundquarium dan @seribermaindicikini di jakarta. Dari jogja, @antongendel @dasojie dan @jenggotja menyeret kami dengan sabar, didukung - antara lain - @ilineaudiosystem, kua etnika, @teatergarasi, dan @fstvlst.
Tapi luapan kasih paling besar itu dari kalian : teman-teman Jakarta yang menerabas hujan dan macet jumat malam memasuki jalan fatmawati yang biadab, teman-teman Bandung yang bernyanyi dan menari seperti tak punya besok. Lalu sebagian kalian yang ada di dua kota itu bersama kami, membuang-buang waktu kalian yang kami tahu tak banyak itu.
Kasih kalian semua demikian mahal, tak mungkin bisa sepenuhnya kami bayar.
Satu satunya yang kami bisa : kami terima kasihmu itu, kawan, kami hirup sehingga dada kami penuh , sampai kami mengira kami bisa terbang.
Kalau masih ada besok, kasih itu akan mengantar kita di pertemuan berikutnya. Ini janji. Kapannya, kita jadwal lagi nanti. Kami paham, kalian sibuk.
Sekali lagi, terima kasih dan selamat menghabiskan sisa akhir pekan.
・・・
Lalu kita jalan-jalan, dalam setengah bisik bisik. Kasih tumpah di setiap kelokan. Dalam memanggil kami, @boit3 dan @felixdass bikin kongsi. bersama #limunas dan @omuniuum di bandung dan @soundquarium dan @seribermaindicikini di jakarta. Dari jogja, @antongendel @dasojie dan @jenggotja menyeret kami dengan sabar, didukung - antara lain - @ilineaudiosystem, kua etnika, @teatergarasi, dan @fstvlst.
Tapi luapan kasih paling besar itu dari kalian : teman-teman Jakarta yang menerabas hujan dan macet jumat malam memasuki jalan fatmawati yang biadab, teman-teman Bandung yang bernyanyi dan menari seperti tak punya besok. Lalu sebagian kalian yang ada di dua kota itu bersama kami, membuang-buang waktu kalian yang kami tahu tak banyak itu.
Kasih kalian semua demikian mahal, tak mungkin bisa sepenuhnya kami bayar.
Satu satunya yang kami bisa : kami terima kasihmu itu, kawan, kami hirup sehingga dada kami penuh , sampai kami mengira kami bisa terbang.
Kalau masih ada besok, kasih itu akan mengantar kita di pertemuan berikutnya. Ini janji. Kapannya, kita jadwal lagi nanti. Kami paham, kalian sibuk.
Sekali lagi, terima kasih dan selamat menghabiskan sisa akhir pekan.
Rabu, 30 Agustus 2017
Melancholic Bitch. NKKBS Bagian Pertama
Ada kemarahan. Ada rasa putus asa. Ada
kesedihan. Getir. Sedikit humor. Tapi terutama ada kesadaran penuh bahwa meski
kita tidak bisa mengubah dunia, kita sedikitnya selalu bisa bersuara.
Seburuk apapun situasinya, meski kadang ada
bisikan kecil yang bicara bahwa harapan bisa jadi adalah tipuan, harapan selalu
menjadi harapan. Meski rapuh. Dan kita tetap terus berjalan.
Butuh sekitar 416 hari rabu setelah BJS,
Melancholic Bitch kembali menyapa lewat single pertamanya, "Bioskop, Pisau
Lipat". Mengangkat tema yang susah sekali untuk populer karena dibuat
menjadi hantu yang begitu menakutkan, mereka membungkusnya dengan kalimat yang
puitis. Menarik seluruh ingatan pada pagi yang terik, ketika murid-murid
sekolah dasar diharuskan mengikuti kegiatan menonton film G30S PKI ke bioskop. "Kami pakai bendera sebagai
seragam. Ketika digelandang ke bioskop jam Sembilan". Ah, adakah yang tahu
bagaimana caranya menghapus ingatan yang menerap di kepala setelah
bertahun-tahun selalu diberi makan, dicuci otak, diberi dongeng tentang sosok
mengerikan bernama partai komunis indonesia?
Setelah mendengar singlenya, langkah kedua kemudian dilakukan.
Mendengarkan seluruh lagu dalam albumnya. Saya, adalah salah satu orang yang
beruntung bisa mendengarnya sebelum albumnya rilis tanggal 9 September nanti.
Begitu mendengar dan berusaha menangkap liriknya meski sedikit kerepotan karena
tanpa teks, saya akan bilang bahwa ini adalah album generasi 90-an yang pernah
mengalami masa dengan taat dan patuh menerima seluruh dogma dan pelajaran yang
didapat ketika duduk di bangku sekolah. Angkatan mana yang terakhir menyebut
Pendidikan Kewarganegaraan dengan Pendidikan Moral Pancasila?
Melancholic Bitch menerjemahkan itu semua lewat lirik yang ketika
didengar rasanya seperti mendengarkan temanmu mengomel
karena baru tahu
tentang busuknya pelajaran yang sempat dicicip disekolah.
Yang melahirkan generasi yang serba bingung dan tidak punya kepastian untuk
melangkah. Yang tidak punya kebudayaan. Yang ingin bebas tapi takut neraka.
Ingin beriman tapi tahu bahwa iman saja tidak cukup untuk membayar cicilan
rumah yang makin melangit. Yang kemudian setengahnya menjadi membaca lebih banyak dan
tahu lebih banyak tentang bagaimana caranya, bukan menghapus ingatan tapi
melihat ingatan tersebut dan membetulkan hal-hal yang salah. Lalu ada setengah lagi yang mengamini dongeng raja yang berkeliling dengan keadaan
telanjang tapi selalu percaya bahwa dia mengenakan pakaian yang paling bagus
karena itu yang selalu dibisikan oleh penasihat kepercayaannya. Bagaimana
kita mau berjalan kedepan dan memafkan, jika kita tidak pernah mau berkaca,
berdamai dengan masa lalu?
Saya adalah bagian dari generasi bingung
itu. Maka banyak hal-hal yang dibicarakan di album NKKBS Bagian Pertama dengan
mudah dinikmati oleh telinga saya. Keriuhrendahannya. Runyam dan rumitnya.
Pedas dan tajamnya. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah kenapa
ingatan dan kegelisahannya muncul sekarang?
Bisakah, suara-suara ini didengar oleh generasi yang lahir paska akhir 80-an?
Bisakah semua ini menarik diri kembali pada ingatan tentang kenapa, begitu
banyak dari kita ada di tengah jalan ketika tahun 98? Kenapa aksi kamisan
sampai ada didepan istana? Kenapa, kita semua masih ada di sini, dengan
hantu-hantu yang sama. Negara yang selalu saja gagal hadir dalam peristiwa-peristiwa pentingnya. NKKBS Bagian Pertama bisa jadi penting atau remeh seperti berita
yang kita tangkap sehari-hari. Kalimat semacam adik kecil lahir prematur. Kota
sudah dikepung tentara. Aspal sampai di kampung terujung. Babinsa. Bahaya
anjing gila. Hantu. Mendengar album ini, saya juga jadi punya pertanyaan, siapa
yang diantara kita sekarang yang masih waras?
Albumnya bagus. Karena membuat saya menulis agak panjang setelah
sekian lama saya tidak pernah menulis sepanjang ini. Bahkan melenceng jauh dari
pembicaraan tentang musiknya. Untuk saya yang pengetahuan musiknya hampir nol
karena memang buta nada, musik dan liriknya menjadi satu kesatuan yang membuat
telinga kecanduan untuk mendengarnya lagi, lagi dan lagi. Melancholic Bitch
memang menyebalkan. Seperti yang saya tuliskan pada sebuah kanal permbicaraan
digital pada pertanyaan yang dilontarkan pertama kali mengenai pendapat saya
tentang single pertama mereka, "lirik kayak gini kayaknya cuma punya
Melancholic Bitch. Band lain ga ada yang kelasnya sama.
Ngga ada yang representasinya kayak kalian."
Oke. Saya harus berhenti sebelum terdengar
seperti penggemar yang terlampau genit karena kebanyakan memuji.
Selamat atas rilisnya single dan albumnya nanti tanggal 9 September, juga semoga konsernya berjalan lancar. Semoga rencana saya menyambangi Yogyakarta nanti, juga berhasil. Saya tidak sabar mendengar 11 track dari album ini dibawakan live dan mencengkeram penonton-penontonnya. Semoga juga menggores hati banyak orang, dalam-dalam.
Sampai jumpa.
Ditulis oleh salah seorang penghuni omu sebagai catatan untuk band yang akhirnya konser lagi ini.,
Boit.
Ditulis oleh salah seorang penghuni omu sebagai catatan untuk band yang akhirnya konser lagi ini.,
Boit.
Rabu, 17 Juli 2013
Video Dari @atamerica
Watch live streaming video from at_america at livestream.com
Senin, 15 Juli 2013
Dari DeathrockStar
Review dari DRS
Sekitar 3 tahun lalu, Melancholic Bitch
menjajali panggung ibukota di teater Salihara, Pasar Minggu yang
meninggalkan memori-memori tentang balada Joni dan Susi. Dan, sabtu
kemarin, berlokasi di @america, Pacific Place Ugoran Prasad (vokal),
Faiz Wong (drum, synthesizer) Yosef Herman Susilo (gitar), Richardus
Ardita (bass), harus beraksi tanpa kedua personilnya, Yennu Ariendra
dan The Wiryo Pierna Haris—akhirnya posisi Yennu Ariendra digantikan
oleh Pulung Fajar— membawakan 17 lagu dengan aksi teaterikalnya.
Diawali pidato pembuka oleh Jacob Bills (selaku perwakilan dari U.S
Embassy). Ugo pun didaulat menjadi pengarah alur dengan “Kartu Pos
Bergambar Jembatan Golden Gate San Francisco” sebagai prolog, yang
kendatinya kedua tokoh ini sedang berada di Amerika.
Lalu dimulailah cerita tentang sepasang kekasih yang sedang kasmaran
ini, bermimpi jalan-jalan, “Bulan Madu” mengelilingi semesta sampai
titik kejengahan Susi (sebagai wanita yang berkerja dibelakang meja
kasir) akan janji-janji yang terus dilontarkan Joni kepadanya. Dan saat
itu juga mereka mengcover lagu Pearl Jam “Elderly Woman Behind The Counter” dilanjut “Distopia”, dimana posisi Silir digantikan oleh penonton bernama Tania yang tampil Pe-De namun kebanting dengan kharisma suara Ugo.
Pelataran @america terlihat penuh sesak, dari kalangan musisi sampai
fans mereka yang berada di ibukota menyempatkan diri menembus badai
yang sedang terjadi diluar sana. “Kecapekan jalan-jalan, kecapekan bikin janji ini-itu, turun dari losmennya, pencet-pencet remote control…”
intro ikonik dilayangkan, tanda “Mars Penyembah Berhala” siap
dinyanyikan secara koor massal. Tampil penuh atraktif memukau akan
geliat gestur tubuhnya, dan terus mengulang pertanyaan reflektif semacam
“Siapa yang membutuhkan imajinasi? Jika kita sudah punya televisi”
dibalutan puisi yang dibacakan Ugo. Sesudah “Nasihat yang baik”
melanjutkan penampilannya dengan mengcover “Candy Says” milik The Velvet Underground sebagai jembatan dari songlist lagu yang mereka bawakan.
Tapi, apa yang terjadi? Kedua tokoh yang dielu-elukan di awal
paragraf tadi berakhir dengan konflik ekonomi. Susi memaksa Joni untuk
mencuri sebuah Apel di supermarket melalui suara dinding-dinding yang
terdengar dari kamarnya. Aksi Joni tertangkap dan Melancholic Bitch
mengambil alih dengan melantunkan “Akhirnya Masuk TV”. Mengakhiri
pertunjukannya membawakan “Kabar Dari Tepi Atap Pencakar Langit” dan
“Menara” sebagai aksi klimaksnya. Standing applause diberikan oleh
seluruh penonton pada malam itu.
Hampir satu jam setengah SiMelbi —sebuah akronim Melancholic Bitch
yang diplomatis atas venue-nya— bernarasi tentang romantika kedua remaja
ini, sang lelaki berumur 21, dan perempuan 19. Walaupun ngotot terhadap
naskah dan memasukan lagu dari dua band yang berbeda tak mengubah
benang merah yang ada. Secara keseluruhan kali ini kurang memuaskan
karena kurangnya karakter distorsi dari Yennu Ariendra yang lekat dalam
beberapa lagunya.
Photos By: Haviz Maulana
Sabtu, 13 Juli 2013
dari Reza Pradipto
brengsek, melbi !
Sabtu, hujan dari siang. Berhenti dan reda di sore, cerah. Ketemu
lagi sama dia yang abis pulang kerja. Sabtu-sabtu masih kerja. Macet
tapi senang selain karena udaranya cerah, hari ini Melancholic Bitch
pentas di jakarta. Tapi, apa itu.. di pacific place tempatnya. Ah,
sebuah megamall yang sasaran konsumennya bukan dari kita dul. Besar dan
tidak bersahabat. Tapi ini Melancholic Bitch dan di jakarta, datang
adalah pilihan yang utama. Melihat Ugoran Prasad yang saya punya buku
cetak untuk karya naskah pementasan teater garasi yang ada dia berdaulat
menulis di dalamnya. Tapi belum pernah saya baca semenjak dari sekolah
menengah atas dan waktu itu saya beli dengan seharga limaribu rupiah,
bekas tentu saja. Lalu kemudian dipinjam pacar saya, sampai sekarang.
Saya seperti merasa melihat koneksi Tuhan. Ah..
Dalam panggungnya Ugoran Prasad berucap "Apa akibatnya jika janji
berlebihan? bosan" dia memang brengsek, Melancholic Bitch memang
brengsek. Tapi, mereka sukses membuat karya yang brengsek. Saya jadi
kepingin nyetel 'Balada Joni dan Susi' sehabis mereka pentas, tapi
sedang dipinjam pacar.. nyetel 'Anamnesis' tapi saya ga punya, yang
punya pacar saya, ah.. kurang, selalu kurang tapi pentas sudah selesai,
Melancholic Bitch.
Untuk mendengarkan beberapa lagu dari Melancholic Bitch klik disini.
Rabu, 10 Juli 2013
Langganan:
Postingan (Atom)