Kamis, 16 Juni 2011

Profile Band



Melancholic Bitch (d/h bernama On Genealogy Of Melancholia), mula-mula adalah laboratorium kecil yang dibangun oleh Ugoran Prasad dan Yosef Herman Susilo di tengah aktifitas mereka di Performance Fucktory pada tahun 1999. Sejak tahun 2000, ruang eksperimen ini mulai dimasuki berbagai seniman lain, sekedar singgah (di antaranya: Jompet Kus Widananto, Moh. Marzuki a.k.a KilltheDJ, Werko Kowena, La Konde, Anton W.A) atau yang datang untuk menetap : Teguh Hari Prasetya, Yennu Ariendra, Septian Dwirima, Richardus Ardita dan Pierna Harris. Cerita mereka cukup panjang, terlalu panjang untuk diceritakan ulang; juga tak terlalu penting. Singkatnya; mereka sudah muncul sejak jaman Parkinsound masih rutin diadakan tahunan; sesekali main band di panggung lokal, sesekali main di luar kota, sesekali main musik untuk performance dan teater, sesekali main musik untuk film, tapi lebih sering duduk-duduk, bercanda, saling memusuhi lalu berdamai sebelum permusuhan berikutnya. Sebuah band, bagaimanapun, cenderung meniru sebuah keluarga. Mengutip Anna Karenina: Seluruh keluarga bahagia selalu sama; keluarga tidak-bahagia, selalu tidak berbahagia dengan caranya masing-masing. Keluarga tidak berbahagia yang sering disingkat namanya menjadi Melbi ini disfungsional, retak, tapi selalu punya alasan untuk berkumpul di hari raya. Hari raya yang sibuk mereka ciptakan sendiri.

Hari raya baru mereka di antaranya, ditandai oleh keterlibatan mereka di pertunjukan Waktu Batu #3: Deus Ex Machina and My Feeling For You (produksi Teater Garasi (2004), dipentaskan di Jakarta, Singapore, Berlin dan Tokyo antara 2004-2006), produksi LP pertama mereka Anamnesis (Love Records, 2005) yang kemudian di rilis ulang menjadi  Re-Anamnesis (Pintu Kecil, 2013), dan Balada Joni dan Susi (Dialectic Record, 2009), sebuah album-konsep yang berkisah tentang petualangan sepasang kekasih dalam mewujudkan impian mereka di tengah dunia yang semakin mencekik. Untuk karya yang disebut terakhir ini, Rolling Stone Indonesia mengganjarnya sebagai satu dari 20 album Indonesia terbaik 2009. 

Bisik-bisik di lingkungan penonton mereka menyebut band ini sebagai band-hantu; mereka senang dengan term ini terutama karena tanpa sengaja --terutama disebabkan karena kesibukan personilnya—mereka tak bisa sering muncul di panggung band. Melancholic Bitch adalah sebuah keluarga-bentukan yang mendorong berbagai potensi di dalam dirinya lebih jauh dari sekedar sebuah group untuk bermusik. Maka mereka membebaskan Ugoran Prasad untuk menekuni kerjanya sebagai fiksionis dan berkelana demi menempuh pendidikan sebagai periset-pertunjukan, mendorong proyek-proyek musik Yennu Ariendra sebagai komposer dan musik director (diantaranya bersama Teater Garasi dan Belkastrelka), atau memberi ruang bagi eksperimen dan rekam kerja Yossy Herman Susilo sebagai sound-engineer. Hal serupa juga berlangsung pada Teguh Hari (kini hiatus), Septian Dwirima  (music director pada beberapa proyek pertunjukan), Richardus Ardita (bermusik bersama Shoolinen, Individual Life, dan Armada Racun), Pierna Haris (saat ini sedang di berkelana di U.S.).

Latar di atas memang membuat mereka pada dasarnya tak menjadikan kuantitas album dan frekuensi main di panggung sebagai ukuran kebersamaan mereka; lebih jauh, kecenderungan pada ukuran kuantitatif ini sebisa mungkin ingin mereka hindari. Keluarga yang semakin lama semakin membesar ini memutuskan untuk menempuh jalan sebagaimana yang diambil oleh rekan-rekan mereka sesama seniman di komunitas Teater Garasi, yakni lebih dulu memperjuangkan karya sedalam-dalamnya daripada target dan mantra pabrikan yang “sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya”. Akibat negatifnya, tentu saja, lingkungan penonton dan rekan-rekan mereka terpaksa menunggu lama kehadiran album dan pertunjukan mereka; sesuatu yang menurut Jakartabeat.com membuat mereka tampak seperti band cult. Sebaliknya, akibat positif dari hal ini bukan tak ada. Sebagian pertunjukan dan konser-penuh mereka adalah hasil dari kelola seluruh unsur pertunjukan yang tereksekusi dengan maksimal dan matang, entah itu dari dimensi performer, tata suara, tata ruang, lampu, teks pertunjukan sampai dramaturgi. Konser-penuh Balada Joni dan Susi di gedung parkir Koran Tempo (produksi bersama Kelas Pagi Anton Ismael, Jakarta, 2009), studio Yayasan Bagong Kussudiarja (prod. bersama Kua Etnika, Yogyakarta 2009), Teater Salihara (prod. bersama Teater Salihara, Jakarta, 2010), Langgeng Art (prod. Kongsi Jahat Syndicate, Yogyakarta, 2011) adalah deret dari serangkaian konser berkelas itu. Terakhir, paska peluncuran Re-Anamnesis (2013), mereka melebur seluruh teks dari kedua album mereka dan memperkenalkan satu konser penuh dalam durasi 1 jam 45 menit, sebagaimana yang pertama kali mereka mainkan di konser spesial #MenujuSemesta (prod. Limunas dan Djarum Black, Bandung 2013), pertunjukan pertama mereka di Bandung sejak 13 tahun terakhir.  Diluar semua itu, bisik-bisik menyebut mereka sudah mulai mengedarkan draft demo proyek mereka terbaru yang rencananya akan dirilis di tahun 2014.

Cerita mereka, sepintas bagi yang tak awas tampak terputus-putus, dipastikan bersambung […]

16 jun 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar