Sabtu, 27 Januari 2018

Review | Melancholic Bitch, Si Binal Yang Tahu Benar Cara Menciptakan Rindu

Masuk satu per satu tanpa permisi dan langsung menghajar dua lagu. Benar-benar kurang ajar, mbok ya kami yang rela menerobos hujan itu diberi salam sambutan terlebih dahulu gitu biar semangat saat menonton kalian. Ini kita semua sedang kangen kangennya, lho! Di antara ambang kesadaran dan ketidakterimaan, hantu-hantu masa kecil mengingatkan saya bahwa konsernya telah dimulai. Oke, gan, ente jual ane beli! Selepas lirik “bahaya anjing gila” pada lagu Norma, Moral, saya tidak dapat menahan diri lagi. Saya biarkan diri saya larut dalam melodi-melodi jahanam Melbi (Melancholic Bitch). Seolah ingin menyampaikan betapa berkuasanya si yang punya hajat, Melbi tak memberi napas dalam memasuki lagu kedua. Cahaya, Harga, tentunya berkarakter lebih menggebu-gebu dibanding Norma, Moral. Benar saja, ternyata pengumuman matinya harga cabai dari radio menggetarkan dinding Teater Garasi yang tak terlalu besar namun intim itu.

Dua lagu pertama selesai. Barulah Ugoran Prasad menyapa para penonton. Pada kesempatan itu Ugo juga mengatakan bahwa ia sempat kehabisan napas. Ah tak apalah Mas Ugo, riang kami siap untuk memberimu energi agar kau mampu terus bernyanyi. Malam  itu konser dibagi menjadi dua set. Set pertama membawakan album NKKBS Bagian Pertama dengan urutan lagu sesuai yang tertera pada album. Sedangkan set kedua membawakan hits dari album Anamnesis dan Balada Joni dan Susi. Entah mengapa lagu Selat, Malaka  terasa begitu membius malam itu. Keriangan di mosh-pit telah terjadi, tapi mengapa saya merasa masih banyak insan yang malu malu gemay untuk bergoyang. Ayolah, konser penutup dari acara “Buka Sudio 7 Hari 7 Malam: JALAN TIKUS” ini tiketnya dibatasi hanya untuk 100 orang. Karena sudah tidak tahan, saya memutuskan untuk meningkatkan suhu. Memasuki lirik “ini pasti jimat orang kota” pada lagu Aspal, Dukun, saya mendorong kaki saya yang bertumpu pada level panggung untuk melesat mundur ke dalam mosh pit. Terima kasih semesta, usaha saya tidak sia sia, saya dan beberapa kawan berhasil membuat arena goyang sedikit lebih liar.

Tiba tiba saja set pertama sudah membawa kami ke Lagu untuk Resepsi Pernikahan. Saya terjebak dalam rasa senang, bingung, dan sedih. Senang karena set kedua menawarkan keriangan yang lebih besar, bingung karena set pertama terasa benar-benar singkat, sedih karena saya langsung menyadari bahwa set kedua ini berarti akan terasa lebih singkat lagi. Set pertama pun selesai, penonton dan penampil bersantai sejenak. Ada yang ke kamar mandi, ada yang beli bir, ada yang sekadar bercengkrama dengan kawannya. Intinya adalah kami memiliki sedikit waktu untuk mengisi energi kembali.

Solo drum dimainkan, disusul instrument-instrumen lain yang menandakan bahwa sekarang saatnya Anamnesis serta Balada Joni dan Susi unjuk gigi. Curhatnya Joni pada Susi mengenai pengalamannya “masup tipi mengawali set kedua tersebut. Selesai menyampaikan keresahan hati Joni, Ugo dan kawan kawan membawakan Tentang Cinta. Walaupun kedua lagu di awal set kedua ini sangat menggoda untuk ber-sing-along ria, ternyata crowd kembali seperti semula, yaitu malu-malu gemay. Walaupun saya sangat yakin banyak juga yang bernyanyi dengan lantang dan bergoyang dengan riang. Benar-benar tak bisa dibiarkan, gigs ini masih belum sempurna. Demi menghangatkan kembali suhu mosh pit, saya memutuskan untuk menumbalkan salah seorang dari dua kawan yang datang bersama saya untuk dicrowd-surf. Lagi pula sedari tadi tangan saya belum berpartisipasi untuk mengangkat siapa pun. Setelah banyak lagu dimainkan, akhirnya pada 7 Hari Menuju Semesta, ada yang melakukan crowd surf. Baru setelahnya beberapa penonton yang lain melakukan hal serupa. “Katakanlah jika aku Israel kau Palestina”, gerak satu baru gerak semua. 7 Hari Menuju Semesta  menjadi penanda awal crowd surfing selama konser berlangsung.

Selanjutnya adalah Mars Penyembah Berhala. Lagu ini memang sudah spesial, namun konser tunggal Melbi kemarin menambah nilai spesial lagu tersebut bagi saya pribadi. Tepat sebelum Ugo bersabda pada “sodara sodara,” kedua teman saya yang mendadak sangat baik hatinya, mencoba mengangkat saya untuk di-crowd-surf. Mengingat semasa kuliah ini jarang olah raga, tentu timbangan naik secara semena-mena. Maka dari itu saya hanya berpikir, “Yaelah, gagal nih paling kaya kemaren-kemaren.” Tapi ternyata saudara saudara, badan saya yang tidak ringan ini lambat laun makin lama makin naik dan akhirnya bisa diangkat ke udara! Wuanjengggggg!! Demi apa sih akhirnya gua crowd surfing??? Setelah terpana selama beberapa detik, saya merasa badan saya mulai turun. Saya sudah hampir bersyukur saat itu, tapi ternyata badan saya tidak jadi menyentuh tanah, malah diangkat lebih tinggi dari sebelumnya! Sekitar lima belas detik berlalu, saya pun kembali ke lantai dansa. Speechless. Astaga, saya jatuh cinta sama crowd jogja. Kalian ini kalau masih dingin suka malu-malu gemay. Tapi kalau udah panas, hhhhh edanlah kalian! Saat itu Ugo tengah bersabda dan para penonton bergerumul di depannya. Melihat momen itu saya langsung menyelinap ke kerumunan, tak mau ketinggalan momen menyanyikan “siapa yang membutuhkan imajinasi? Jika kita sudah punya televisi! Woo! Hoo!” dengan lantang secara bersama-sama. Saya berani jamin, pada momen itu banyak fotografer yang mendapatkan hasil foto yang bagus. Di akhir lagu, bak seorang nabi yang bangga pada pengikutnya, Ugo mengusap kepala salah satu penonton.

7 Hari Menuju Semesta telah berlalu, selanjutnya gigs berlangsung lebih syahdu. Ugo kembali “mengumpat”, karena ia dan kawan-kawan harus menyanyikan kembali lagu lama mereka di album Anamnesis, yaitu The Street. Lah? Lagu bagus gitu kok ngeluh? Yaudah ndak papa, lupa lirik atau kunci memang hal biasa, tapi apa pun kondisinya, cintaku pada Melbi tak akan pernah sirna. Ihiw! Follow the street, follow the lamp line… Allahuakbarrrr astaga Gustiii, masuk ke dimensi mana lagi ini saya? Benar benar intro yang menggetarkan lagi menghanyutkan. Saat The Street dibawakan, posisi saya berada tepat di depan Ugo. Saya sudah tidak fokus pada sekitar saat itu. Perhatian saya sepenuhnya dicuri oleh Melbi. Entah berapa kali tangan saya terangkat seolah ingin menyembah dan entah berapa kali pula mata saya terpejam karena dihipnotis oleh lagu ini. The Street selesai. Tanpa banyak babibu, paguyuban berkedok band asal Jogja ini langsung menghajar penonton melalui rayuan jahanam berupa nikmatnya menjadi Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa. Kami berandai-andai bagaimana rasanya. Seketika semua orang terbang. Seketika kami semua menjauh. Seketika kami semua bergoyang dan tenggelam dalam fantasi masing masing. Seketika kami semua disambut Joni dan Susi di luar angkasa. Seketika kami menyatu kembali. Seketika kami sepakat bahwa kami adalah Joni dan Susi. Alunan-alunan jahat itu memaksa kuping kami untuk masturbasi dan terperangkap lebih dalam lagi. Lalu seketika kami bersepakat kembali bahwa kami telah bercinta di luar angkasa.

Nasihat yang Baik merupakan sebuah tamparan kecil bagi para Joni dan Susi setelah bekelana ke luar angkasa. Intronya membisikan pesan berupa “hei sadar, kamu masih di sini. Di Teater Garasi. Dan ini adalah lagu terakhir”. Pada lagu ini sepertinya Susi merasuk pada raga para personel Melbi. Karena “Susi lelah bermain seharian”. Haduh, sesungguhnya kami masih mau bermain bersamamu, Melbi. Tapi apa daya, nasihat yang baik adalah benar-benar nasihat yang baik. Kami mulai berkompromi bahwa memang sudah seharusnya Melbi istirahat dulu karena hajatan ini sesungguhnya telah berlangsung selama satu pekan penuh. Nada Nasihat yang Baik begitu membuai untuk menyadarkan kami bahwa perjalanan ini akan segera usai. Akhirnya Nasihat yang Baik mengeluarkan jurus pamungkasnya berupa picking dan ambient ala post-rock (walaupun tak semua post-rock identik dengan itu) di akhir lagu. Picking dan ambient ini memaksa kami untuk setuju bahwa perjalanan takkan lama lagi. Hingga akhirnya Ugo mengucapkan “tiiiduuurlaaah…”. Usai sudah hajatan intim nan syahdu bersama Melancholic Bitch.

Songlist yang telah ketumpahan bir itu buru buru saya cabut sebelum diambil orang lain. Saya benar-benar bahagia! Perjalanan Bandung – Jogja ternyata tidak berlangsung sia-sia. Sebelumnya saya dan kawan-kawan sempat berkecil hati karena tertimpa berbagai kesialan. Mulai dari salah turun stasiun, hingga kehujanan saat menuju venue. Tapi konspirasi alam semesta ternyata memang tidak dapat ditebak. Konser tunggal Melbi pada acara “Buka Studio 7 Hari 7 Malam: JALAN TIKUS” di Teater Garasi rupanya menambah daftar salah satu konser terbaik dalam hidup saya. Kegembiraan saya tambah lengkap ketika saya beserta kedua teman saya sama-sama melakukan crowd surfing dan kami sama-sama mendapatkan songlist. Sebuah kejadian yang memang tidak seberapa tapi dapat melengkapi kegembiraan saya hingga tak terkira.

Misi selanjutnya adalah legalisir, sayang kami hanya dapat menemui Yennu dan Yossy. Saat menemui Yossy, saya bilang “Wah, Mas, padahal aku ngarep lagu-lagu Anamnesis lho Mas.” Dengan senyum tipis Yossy dengan santainya menjawab “Walah Mas, wes lupa kunci. Wes, Mas sante wae. Wong band e wes bubar kok Mas!” Jawaban macam apa itu. Band ini memang memang memiliki hal-hal tertentu yang menciptakan alasan agar kita menyukai Melancholic Bitch. Saking puasnya, saya sampai sempat merasa bodo amat bila yang dikatakan Yossy tadi benar adanya. Banyaknya rasa bahagia yang saya dapatkan membuat saya siap menerima kenyataan bila pada akhirnya Melbi benar-benar bubar. Konser ini teramat sangat berkesan! Terima kasih duo beking vokal yang membuat lagu-lagu Melbi terdengar lebih manis! Terima kasih para penonton yang telah berbagi energi! Terima kasih semua pihak yang telah mewujudkan konser ini! Terakhir, terima kasih Melancholic Bitch! Selamat kembali menjadi "mitos"!
*Foto Oleh Alfarizie

Kamis, 16 November 2017

Review | Melancholic Bitch: “NKKBS Bagian Pertama” (2017)

 Dari: TelingaKiri

Melancholic Bitch: “NKKBS Bagian Pertama” (2017)

 

Happy families are all alike; every unhappy family is unhappy in its own way.

— Leo Tolstoy

SAYA selalu mengidentifikasi September sebagai bulan horor di Indonesia dan pada tahun ini semakin bertambah seram dan panas: (1) pihak TNI-AD [Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat] menginisiasi pemutaran kembali dan menggelar beberapa acara nobar [nonton bareng] film horor klasik-legendaris berjudul Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI [1984] garapan Arifin C. Noer; (2) beberapa ormas [organisasi massa] menyerang dan membubarkan secara paksa acara musik Asik Asik Aksi di kantor LBH Jakarta yang dianggap memiliki agenda untuk menyebarkan komunisme. September adalah bulan di mana berbagai macam narasi yang ada sejak pertengahan ‘60an sampai sekarang bertemu — narasi yang tumbuh dan berkembang di dalam warung-warung kopi pinggir jalan, tempat rapat partai politik, studio film, ruang diskusi kolektif, kelas-kelas sekolah, sampai bioskop — yang kemudian menggeliat, menyelinap, dan menjelma menjadi wujud-wujud yang berbeda dari ormas sampai berbagai macam catatan kecil di dalam buku pelajaran sekolah. NKKBS Bagian Pertama, album ketiga Melancholic Bitch yang dirilis pada 9 September kemarin, merupakan salah satu produk dari berbagai narasi tersebut. Kata-kata yang ditulis menggunakan pena atau apa pun adalah senjata yang bisa mengalahkan pedang atau bedil, dan pena yang digunakan Melancholic Bitch untuk menulis album ini sangatlah tajam.

NKKBS atau Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera adalah istilah / jargon yang menjadi fondasi di mana rezim Orde Baru pimpinan Soeharto membangun program KB (Keluarga Berencana) yang menggambarkan konsep keluarga ideal bagi masyarakat Indonesia. Melalui KB, secara teoretis Soeharto ingin membatasi keluarga Indonesia hanya dengan dua anak — dan program KB ini menjadi undang-undang pada tahun 1992, sementara semangatnya (keluarga kecil setara dengan jaminan kemakmuran kehidupan harian) menjadi merek dagang yang diobral di sana-sini pada saat itu. Program KB menjadi salah satu program andalan rezim pimpinan Soeharto yang bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional dan, pada saat yang bersamaan, memasukkan ideologi politik Orde Baru sampai unit terkecil masyarakat. Negara menyusup sampai ke ranjang tempat orang-orang bercumbu. Melancholic Bitch menghidupkan kembali kredo yang ganas ini dengan mengabadikan akronim dari jargon tersebut (NKKBS) sebagai nama untuk album ketiga mereka.
Konsep album ini cukup garang untuk sebuah rekaman musik — sejarah kelam, masa kanak-kanak, keluarga — namun tidak terlalu asing bagi Melancholic Bitch. Pada tahun 2009, misalnya, Melancholic Bitch merilis album bertajuk Balada Joni dan Susi: sebuah cerita pendek romantis dalam kemasan kritis tentang pasangan kekasih yang hidup dengan susah-payah. Lahir pada akhir ‘70an, Ugoran “Ugo” Prasad — sama seperti nama-nama yang tercantum dalam kredit album NKKBS Bagian Pertama: Yossy Herman Susilo, Yennu Ariendra, Richardus Arditya, Nadya Hatta, dan Danish Wisnu Nugraha — dibesarkan pada zaman rezim Orde Baru masih berkuasa, melakukan observasi pada kenangan dan pengalaman hidup masa kecilnya untuk kemudian mengubahnya menjadi sebuah konsep album yang garang dan ciamik.
Pada trek Aspal, Dukun, sebuah potongan album yang riang dan bersemangat, gambar yang terlukis dalam liriknya tampak buram dan kelam, atau bahkan absurd pada awalnya, namun melalui visi Ugo, lagu ini terasa benar-benar berakar pada kenyataan (“Aspal sampai di kampung terujung. Ini pasti jimat orang kota.”) yang mengisahkan tentang pembangunan desa-desa pada zaman Orde Baru yang malah melahirkan kecemasan dan masalah baru bagi masyarakat desa.
Dan hal semacam itulah yang bisa saya dapatkan dari lagu-lagunya Melancholic Bitch. Kehadirannya yang terputus-putus merupakan primer yang bagus, dan liriknya selalu berhasil merangsang otak untuk berpikir (atau dalam kasus saya setelah mendengarkan lagu-lagunya: membuka aplikasi browser di ponsel-cerdas dan berselancar untuk mencari tahu serta memastikan referensi dan maksud yang ada di dalam lagu-lagunya). Meski berusaha untuk tidak terkesan seperti surat panjang-lebar yang bertele-tele, Ugo menulis lirik-liriknya dengan samar-samar untuk membikin siapa saja yang mendengarnya berpikir dua kali dalam mencerna kata-kata yang ada di dalamnya.
Nomor propulsif Dapur, NKK/BKK mengolok-olok sebuah peraturan yang ditetapkan oleh rezim fasis Orde Baru pada tahun 1977 bernama NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus / Badan Koordinasi Kemahasiswaan) yang ditandai dengan masuknya militer ke kampus-kampus serta dihapuskannya Dewan Mahasiswa, dan lirik lagunya terdengar cukup rumit yang berhasil menyulitkan saya untuk memahami makna konkret yang ingin disampaikannya pada kesempatan mendengarkan yang pertama: seorang “ibu berubah kupu-kupu” di dapur, ada bayi yang lahir prematur dan kemudian “dimakan anjing”; lalu, untuk beberapa alasan, tentara menyerang dan mengepung kota. Menguraikan maksud dari lirik-lirik yang ditulis oleh Ugo membutuhkan waktu yang tidak sebentar, namun hal itu merupakan aktivitas yang sangat menyenangkan ketimbang menonton sekumpulan orang bebal melakukan hal-hal konyol di televisi atau membaca ujaran kebencian dan hinaan di kolom komentar media-sosial.
Ada juga referensi lain yang dimasukkan oleh Melancholic Bitch di lagu-lagu dalam album NKKBS Bagian Pertama ini: sistem pendidikan yang konyol dan penuh cacat di materi 666, 6; memori dan pengalaman kolektif menonton film propaganda dalam trek Bioskop, Pisau Lipat; kenaikan harga komoditas kebutuhan pokok di nomor Cahaya, Harga; kampanye program diet Empat Sehat Lima Sempurna dalam materi Selat, Malaka; serta hantu-hantu masa kecil, guru PMP (Pendidikan Moral Pancasila), dan Babinsa (Bintara Pembina Desa) di trek Normal, Moral.
Namun tema yang paling penting di album ini adalah keluarga, sebuah unit terkecil dalam tatanan kehidupan sosial masyarakat. Selat, Malaka menyusun ulang kisah Tan Malaka untuk menceritakan tentang anggota keluarga yang pergi meninggalkan rumah, bertemu dengan sebuah ideologi, dan kemudian melahirkan anak-anak revolusi “Empat Sehat Lima Sempurna” yang “kini sudah pada mati sempurna”. Dengan irama yang memabukkan dan melenakan, Trauma, Irama bercerita tentang seorang pelarian yang merindukan rumah dan ibu di kampung halaman setelah mengalami teror dan siksaan mengerikan yang tidak bisa dijelaskan. Titik Tolak, Pelarian menindak-lanjutinya dengan penegasan yang memilukan tentang nasib tidak bisa pulang ke rumah.
Secara musikal, ini merupakan salah satu album musik yang penuh dengan energi liar cum aneh dan mengancam yang pernah saya dengarkan: Trauma, Irama mengajak untuk menyelami kedalaman vokal Ugo, Selat, Malaka memamerkan denting piano yang menari-nari, Normal, Moral dengan ingar-bingar suara gitarnya yang meliuk-liuk. Beberapa lagu diakhiri dengan sembrono, terkadang diselingi suara piano atau organ gereja yang menggelisahkan. Musiknya menyajikan kemarahan yang mematikan dan memberikan penghinaan yang memuaskan di bagian yang tepat, dan di sisi lainnya mengabarkan kesedihan memilukan yang menyesakkan dada. Sialan!
NKKBS Bagian Pertama adalah rekaman musik yang dinamis dan manis, serta mampu melampaui harapan yang disematkan di pundaknya. Melancholic Bitch selama ini dikenal sebagai grup musik yang selalu punya konsep unik, nyeleneh, dan artistik, yang selalu mengajak penggemarnya untuk bersabar dalam penantian. Masa-masa penantian itu selalu mampu ditebus oleh Melancholic Bitch dengan kejutan yang menggelora dan menyenangkan, dan hal itu berbicara tentang kualitas band ini. Album ini bukan cuma sekadar media untuk mengabarkan bahwa Melancholic Bitch masih ada: NKKBS Bagian Pertama merupakan karya estetis dan autentik dari salah satu penulis musik terbaik yang pernah ada di Indonesia yang mencoba menceritakan kembali kenangan masa kecilnya saat hidup di zaman yang doyan mengubah teror menjadi narasi (dan ilusi) melenakan. Jahanam!  [ѧ]
* * * * *
— Daftar lagu NKKBS Bagian Pertama
1) Normal, Moral
2) Cahaya, Harga
3) 666, 6
4) Selat, Malaka
5) Dapur, NKK/BKK
6) Bioskop, Pisau Lipat
7) Aspal, Dukun
8) Trauma, Irama
9) Titik Tolak, Pelarian
10) Peta Langit, Larung
11) Lagu Untuk Resepsi Pernikahan