Senin, 23 Oktober 2017

Artikel | Trauma Irama Ugoran Prasad


Trauma Irama Ugoran Prasad

oleh Raka Ibrahim

23 Oktober 2017 Durasi: 8 Menit
Trauma Irama Ugoran Prasad Foto: Adhytia Putra
“Kursi kursi bioskop penuh kutu
Naik dari bangku ke dalam saku
lalu menyelinap ke buku-buku
Lalu menggeliat menjadi hantu
Darah itu merah dipancar terang benderang ke layar lebar
Perempuan liar jangan dibiarkan main main pisau lipat.”
Melancholic Bitch, “Bioskop, Pisau Lipat”

Suatu saat nanti, seorang jurnalis musik pemalas akan meriwayatkan sejarah musik Indonesia ke dalam buku, dan nama Ugoran Prasad belum tentu ada di sana.
Pasalnya, ia terhitung rockstar yang tidak niat – kalaupun ia ingin disebut rockstar, dan saya yakin tidak. Ia tiba di Jakarta malam sebelum kami jumpa di kolam renang, dan bermain-main dengan sebungkus rokok Dji Sam Soe di sebelah tangan. Dari jarak dekat, rambutnya tampak lebih beruban dari yang saya kira. Ia seperti kerabat jauh yang saya kenang dari masa kecil, dan saya temui lagi setelah bertahun-tahun melanglang buana.
Band-nya, Melancholic Bitch, sering – terlalu sering, malah – disebut sebagai “band mitos”. Mereka beken di lingkarannya sendiri di Yogyakarta sejak berdiri di penghujung dekade 1990-an, lantas berubah haluan dan merilis satu album berjudul Anamnesis, tahun 2005. Empat tahun kemudian, mereka merilis Balada Joni dan Susi – album konsep tentang kisah cinta tragis dua sejoli yang kawin lari dan “akhirnya masup tipi”. Pada akhir tahun, Balada Joni dan Susi disebut sebagai salah satu album terbaik Indonesia tahun 2009 oleh majalah Rolling Stone Indonesia.
Datang ke konser Melancholic Bitch terasa seperti mampir ke suatu kelompok pengajian yang belum pernah kau dengar. Siapa band ini? Mengapa tiap ucapan vokalisnya – pria dengan kacamata kebesaran dan rambut urakan yang sering merokok di atas panggung – selalu disambut meriah? Penonton yang membludak ini datang dari mana? Bagaimana cara mereka hafal lirik dari semua lagu yang dimainkan? Mengapa mereka begitu lantang menyebut dirinya Joni, dan pasangannya Susi, begitupun sebaliknya? Melancholic Bitch adalah definisi band cult sesungguhnya – pahlawan enggan yang menjadi bara dalam sekam, rahasia umum di antara orang-orang yang lebih tahu. Dan sudah tentu, setelah itu mereka menghilang. Begitu saja.
Kenyataannya agak banal. Ugoran – seorang penulis yang juga aktif di Teater Garasi – pindah ke luar negeri untuk melanjutkan studi. Personil yang lain – Yennu Ariendra, Yossy Herman Susilo, dan kawan-kawan – aktif di band-band lain, juga di beberapa kolektif seniman di Yogyakarta. Mereka semua orang sibuk yang tidak tentu jadwal kumpulnya. Kalaupun mereka reuni, belum tentu niatan bermain band terbersit. Belum tentu pula, niat bermain band itu disalurkan ke Melancholic Bitch. Maka, dari kurun waktu 2009 hingga 2017, jumlah konser Melancholic Bitch bisa dihitung dengan jari. Tiap perjumpaan dengan mereka terasa spesial karena kau betul-betul tidak tahu kapan sundal melankolis ini akan manggung lagi.
Maka, bayangkan decak kagum saya ketika mereka menyudahi pengembaraan mereka tahun ini. Seperti hadiah Natal yang tiba terlalu cepat, mereka melepas lagu Bioskop, Pisau Lipat dan disusul album NKKBS Bagian Pertama. Malam setelah saya mewawancarainya, Melancholic Bitch konser di Jakarta dan para penonton di garis depan sudah hafal lirik setiap lagu baru yang mereka nyanyikan.
Setelah satu-dua bulan yang ganjil ini, Ugoran akan kembali ke luar negeri dan Melancholic Bitch akan terlelap lagi sampai waktu yang tidak ditentukan. Saya kira, memang lebih baik begitu.
****
Ugoran Prasad tumbuh di Tanjung Karang, Bandar Lampung. Dalam pengakuannya sendiri, ia tinggal di keluarga ‘kelas menengah’ yang menikmati privilese tertentu, namun tak sepenuhnya nyaman. Bapaknya Pegawai Negeri, Ibunya guru agama, dan mereka tinggal di perkampungan kecil yang “hidup hand-to-mouth, hanya kelas menengah dalam spektrum sejarah.”
“Aku selalu merasa hidupku itu soal kebocoran-kebocoran kecil,” tutur Ugo, sapaan akrabnya. “Walaupun kami tinggal di perkampungan, dan aku ingat banyak warga kampung yang kena hutang, tetap saja ada bubble tersendiri yang mengisolir kami dari kejadian di dunia luar. Orde Baru memang berhasil menciptakan bubble-bubble seperti itu.”
Peristiwa seperti Insiden Talangsari di Lampung, yang disebut Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) di tahun 1989, mengusik zona nyaman ini. “Lho, ini kenapa?” ucapnya, kala itu. “Ternyata ada hal-hal di luar bubble kami yang mulai merangsek masuk. Ada ‘hantu-hantu’ dari luar yang semakin kelihatan.”
Ketika SMA, misalnya, ia dan kawan-kawannya les fisika dengan seorang guru yang membuka kursus privat di pasar. “Dia Bapak-bapak, sudah tua, dan kami semua mengagumi kepintarannya,” kenang Ugo. “Lalu, kami mendapat informasi bahwa Bapak ini enggak boleh mengajar di sekolah formal lagi karena dia dulu lulusan Rusia. Kami mulai penasaran, ‘Memangnya kenapa kalau dia lulusan Rusia?’”
Seiring ia tumbuh dewasa, Ugoran tambah peka terhadap “kejanggalan-kejanggalan kecil” semacam ini. “Bapakku dulu punya buku Bumi Manusia dan Jejak Langkah-nya Pramoedya Ananta Toer, dan kedua buku itu enggak pernah ditaruh di rak,” kisah Ugo. “Cuma ditaruh di kamarnya, dan dalam situasi apapun, buku itu enggak boleh keluar ke ruang tengah. Jadi, ada banyak keanehan yang begitu. Di balik sesuatu yang rapi – atau dirapikan – seperti ada sesuatu yang tidak beres.”
Namun, perlu waktu agak lama sebelum kejanggalan-kejanggalan ini menemukan konteks. “Setelah baca Saksi Mata-nya Seno Gumira Ajidarma, aku baru tahu apa yang terjadi di Timor Timur,” ucap Ugo. “Kalau enggak ada itu, penjajahan Indonesia ke Timor buatku enggak nyata. Seterusnya aku jadi melihat puisi, sastra, dan cerpen sebagai tempat di mana informasi semacam itu bisa ‘bocor’, dan kebocoran semacam itu yang bikin aku senang dengan sastra.”
Kemudian, pemahaman Ugoran muda dipertajam oleh buku-buku seperti Potret Pembangunan Dalam Puisi karya W.S Rendra, novel-novel Pramoedya Ananta Toer, hingga karya fiksi akademisi termasyhur Kuntowijoyo. “Karena sastra, kebocoran yang aku lihat dalam kehidupan sehari-hari jadi berada dalam paragraf, berada dalam narasi,” tutur Ugo. “Enggak cuma aku tangkap sebagai indeks-indeks tak terjelaskan.”
“Waktu itu, kanon sastra negara ada di sub-bab terakhir Apresiasi Bahasa dan Sastra, dan yang selalu muncul namanya itu Toto Sudarto Bachtiar,” kenang Ugo. “Nah, nama-nama yang enggak ada di sana kesannya asyik!”
Ia pun berkisah panjang mengenai bagaimana ia mencopet buku Abad yang Berlari karya Afrizal Malna dari salah satu toko buku, dan bagaimana ia membaca Mata Pisau karya Sapardi Djoko Damono secara sembunyi-sembunyi, sebab buku sastra yang tidak masuk pelajaran bisa disita guru, dan ia tidak ingin ketahuan membaca buku puisi yang romantik dan kemayu sementara kawan-kawannya dicegat guru akibat membaca Enny Arrow. “Sastra dulu gendered banget!” ucapnya sembari terkekeh. “Kalau ketahuan baca Sapardi, aku bakal dibilang banci.”
Dari sinilah ia belajar menulis puisi, yang kemudian ia terjemahkan menjadi lirik lagu. Pada tahun 1996, ia pindah ke Yogyakarta dan kuliah di jurusan Sosiologi, Universitas Gajah Mada. Melancholic Bitch lahir dari tongkrongan Fakultas Sosial-Politik UGM – yang kemudian mencetuskan perhelatan legendaris Parkinsound, dan grup hip-hop ternama Jogja Hip Hop Foundation.
Saat itu, warna musik Melancholic Bitch berbeda jauh dengan balada-balada bersahaja yang kita kenali sekarang. “Banyak yang digital rapcore, banyak teriak-teriak dan distorsi,” kenang Ugo, sembari tertawa terbahak-bahak. “Pokoknya kencang, mainnya sambil dilemparin orang, brutal lah!”
Setelah pencarian ulang jati diri yang agak panjang, pada tahun 2005 mereka merilis album Anamnesis, dan disusul Balada Joni dan Susi pada tahun 2009. Lalu, mereka mati suri selama delapan tahun (ada rumor – yang dikonfirmasi oleh mereka sendiri – bahwa pada tahun 2013 mereka sempat workshop lagu baru yang kemudian dibuang). Dalam berbagai wawancara dengan media, Ugoran bersikeras bahwa Melancholic Bitch “tidak bubar”, namun sedang mencari alasan untuk berkumpul lagi.
****
Alasan itu adalah NKKBS Bagian Pertama, atau Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera. “Kami semua berkeluarga dengan cara kami masing-masing,” tutur Ugo, ketika saya bertanya mengapa album terbaru Melancholic Bitch memilih tema keluarga. “Di lagu seperti Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa (dari album Anamnesis – red), pergi dari rumah itu kenyataan subyektif pelakunya. Sementara di NKKBS, pergi dari rumah jadi kenyataan yang punya komplikasi. Kalau kita pergi, Ibu kita gimana? Anak kita gimana?”
“Di rentang waktu yang berjejal dan memburai
Kau berikan sepasang tanganmu, terbuka dan membiru, enggan
Di gigir yang curam dan dunia tertinggal gelap membeku
Sungguh – peta melesap, dan udara yang terbakar jauh
Kita adalah sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa.”
Melancholic Bitch, “Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa”
Tak seperti Balada Joni dan Susi yang (sekilas) terdengar lebih romantis, NKKBS adalah album konsep yang tak biasa. Setiap lagu di album tersebut terdengar seperti catatan trauma mengenai masa-masa Orde Baru – mulai dari surat cinta untuk pembangunan di lagu berjudul Aspal, Dukun, bangkitnya “hantu-hantu masa kecil” di Normal, Moral, kota yang dikepung tentara di Dapur, NKK/BKK, hingga Bioskop, Pisau Lipat – balada murung tentang anak-anak kecil yang dipaksa menonton film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI.
“Aku enggak mau ngomong soal Orde Baru dalam konteks nostalgia,” tukas Ugo, “karena Orde Baru masih terang-terangan kita pakai. Sekarang ini kita masih Orde Baru. Mungkin nilainya berubah, pemainnya berubah, tapi struktur pengetahuan dan epistemologi kita masih Orba banget.”
Pengalaman para personil Melancholic Bitch yang mulai berkeluarga, serta kesadaran mengenai Orde Baru yang belum binasa ini, lantas melahirkan NKKBS. “Keluarga kita sekarang berasal dari generasi yang terpapar dengan politik keluarga – bagaimana konsep keluarga diciptakan dan dipolitisir di Indonesia,” lanjutnya. “Peran Bapak, peran Ibu, dan peran dua anak yang dikisahkan bernama Budi dan Tini itu dibikin oleh negara. Ada moralitas yang mau dimainkan.”
Seterusnya, tutur Ugoran, ‘keluarga ideal’ Indonesia bikinan Orba ini menjadi penyebar sekaligus penegas propaganda negara. “Keluarga itu unit politik paling kecil,” ucap Ugo. “Dia agen sejarah, dan sejarah versi negara masuk lewat sana. Semua koridor propaganda masuk lewat keluarga berupa Bapak, Ibu, dan dua anak ini – termasuk film propaganda seperti Pengkhianatan G30S/PKI.”
Percakapan kami pun beralih ke kali pertama ia menonton film propaganda yang disutradarai Arifin C. Noer tersebut. “Susah banget aku lepas dari adegan pertama: orang-orang bawa celurit, menyerbu masjid dan gereja,” kenang Ugo. “Atau, darah orang tua yang mengguyur ke anaknya. Menurutku, itu ada di tubuh banget. Kamu merasakan ngeri itu sampai ke tubuhmu. Karena film itu afektif, dia politik emosi, dia sama sekali enggak rasional.”
“Aku enggak paham seluruh adegan rapat Politbiro,” lanjut Ugo. “Sebagai anak kecil, kita enggak tahu sebab-akibat. Yang aku tahu cuma, PKI ini ngeri. Tampang mereka seram, mereka merokok Dji Sam Soe, dan musiknya seram. Pokoknya yang kami tahu, mereka itu orang-orang jahat. Mereka jahat ke kita, kita melawan, dan kita menang. Orang Indonesia sekarang adalah pemenang karena mereka sudah tidak ada lagi. Narasinya begitu.”
“Orang meninggal, lho, pas nonton film itu,” tuturnya. “Mereka sampai injak-injakkan di Jawa Timur gara-gara film itu. Anak-anak kecil yang nonton film itu pada menjerit di dalam ruangan!” Nada suaranya berubah menjadi separuh jijik, separuh terperangah. “Anak SD umur 8 tahun kamu suruh melihat adegan orang menyilet orang lain. Gila apa? Lapisan traumanya lebar banget.”
Namun, bagi Ugoran, warisan paling mendalam dari propaganda film Pengkhianatan G30S/PKI terasa di wacana politik dan watak masyarakat kita saat ini. “Film ini ditonton satu generasi, angkatan yang sekarang umur 40-an tahun,” ucap Ugo. “Bagi generasi ini, sejarah politik Indonesia menjadi politik emosi. Sejak awal, emosi sudah meminggirkan segalanya. Dari yang kamu lihat dan kamu dengar soal PKI saja kamu sudah muak, dan barangkali kamu trauma.”
"Hantu-hantu masa kecil
Bangkit dari tidurnya yang panjang
Hantu-hantu masa kecil, lepas
Berbaris dan bergerak
Pos Ronda Berencana
Babinsa Bahagia
Pak disepakpak para preman
Awas awas bahaya anjing gila!"
Melancholic Bitch, "Normal, Moral"
“Makanya susah banget untuk membahas komunisme dan sejarah 1965 sampai sekarang,” keluhnya. “Kita cuma bisa melihat mereka sebagai hantu masa kecil. Kita sudah tidak bisa memandangnya secara obyektif. Kita bisa bilang bahwa ada pemikir yang membahas Marxisme dari sudut pandang Islam, tapi enggak bakal tembus. Pokoknya kalau lo komunis, lo pasti atheis. Urutan yang otomatis ada di pikiran kita begitu. Upaya meluruskan sejarah jadi susah banget.”
“Belum lagi image yang direpresentasikan film itu,” lanjutnya. “Dulu, Gerwani itu salah satu gerakan politik perempuan yang paling menonjol di dunia, lho! Mereka perempuan paling pintar di Indonesia saat itu, yang jago ngomong di forum, dan berdiri sama tinggi dengan laki-laki di zaman yang sangat patriarkal. Tapi, gara-gara film itu, mereka cuma jadi monster.”
Bagi Ugoran, kegagapan kita dalam menanggapi persoalan 1965 – yang tampak dari pembubaran diskusi soal ’65 dan pengepungan gedung LBH Jakarta sebulan lalu – adalah cerminan dari dominasi politik emosi yang dipertegas di ruang keluarga. “Sekarang, musuh terbesar kita adalah grup WhatsApp keluarga,” ucap Ugo, serius. “WA Group itu yang meneguhkan nilai-nilai tertentu dan jadi corong propaganda politik. Kalau tidak ada WA Group keluarga, apa akan ada gerakan seperti Aksi 212?”
“Kalau kita cek, generasi yang sekarang mulai mengoceh lagi soal film G30S ada di rentang usia yang sama – antara 35 sampai 50 tahun,” tuturnya. “Pada saat yang sama, generasi inilah yang kemudian mengajukan pertanyaan ulang dan bersikap kritis.” Pertentangan batin dan dualisme ini, bagi Ugoran, adalah kutuk yang mesti ditanggung oleh generasinya. Ketika mereka berusaha mempertanyakan nilai-nilai moral dan politik manapun yang disusupi negara melalui propaganda, biasanya mereka justru bertentangan dengan kawan-kawan seangkatan.
“Mau tidak mau, kita harus berhadapan dengan keluarga yang secara politik belum tentu sepemikiran,” tutur Ugoran. “Ini baru soal grup keluarga, belum lagi lingkar Alumni SMP atau SMA. Tapi, kalau kita gagal dewasa secara politik di ruang keluarga, bagaimana kita mau ngomong di level kota dan negara? Terus terang itu yang ngeri.”
Percakapan kami sore itu terjadi pada saat yang tepat. Ketika kami berjumpa, masih banyak yang membicarakan ujaran Presiden Jokowi mengenai perlunya film Pengkhianatan G30S/PKI versi millenial. Ugoran tampak separuh geli, separuh marah ketika saya menanyakan saran apa yang akan ia berikan pada calon sutradara film terkutuk ini. “Sudahlah, enggak usah bikin!” ucapnya, tegas.
“Kamu bakal menyesal,” lanjutnya. “Arifin C. Noer itu bikin Trilogi Sandek di teater pada tahun 1970-an, kritik awal untuk ideologi Pembangunan Orde Baru. Dan naskah teaternya itu salah satu trilogi naskah terkuat di Indonesia. Terus dia bikin G30S dan dia berdosa. Saking paniknya, dia langsung bikin film Matahari Matahari. Kalau kamu lihat trajektori kariernya, dia tahu banget dosa film G30S.”
“Kalau kamu bikin film ini, kamu kayak dikasih jalan untuk membuat sesuatu yang bisa merusak satu generasi penonton Indonesia,” kritik Ugo. “Itu main Tuhan banget. Gila kamu kalau mau dikasih beban kayak begini, karena kamu cuma jadi kaki di antara skala operasi politik dan pelebaran sirkulasi ideologi yang enggak bisa kamu kendalikan.”
“Film dengan skala sebesar ini, dalam sejarah cuma ada di film-film Nazi,” tutupnya. “Estetikanya jelas: estetika fasis.”
****
“Sialnya, Melancholic Bitch itu anak-anak perantau yang enggak pernah pulang,” katanya, pahit. Ada benarnya juga – Ugoran berasal dari Bandar Lampung, Richardus Ardita asal Sumatera Selatan, dan anggota terbaru, Nadya Hatta, berdarah Sulawesi Selatan. Sementara, Yannu Ariendra berasal dari Banyuwangi, dan Yossy Herman Susilo asli Sragen. Mengembara, kisah Ugo, membuat mereka berjarak dari kampung halamannya – tak hanya secara fisik, namun juga secara mental dan paradigma.
“Setiap aku lihat grup WA keluarga, aku cuma bilang iya-iya saja,” tuturnya, terkekeh. “Padahal di luar, aku sudah mempertanyakan semua nilai yang ada di sana. Pokoknya aku dianggap aneh sendiri. Dan akhirnya di WA keluargaku, enggak ada percakapan soal politik supaya enggak berantem.”
“Berantem sama keluarga itu capek,” ucapnya, sembari menyalakan rokok. “Dan enggak akan selesai juga – toh setiap Lebaran bakal ketemuan.”
Setelah percakapan kami usai, Marzuki Muhammad – pentolan grup Jogja Hip Hop Foundation – menghampiri meja kami, dan berbincang akrab dengan Ugo. Bertahun-tahun lalu, Marzuki mencetuskan grup seni pertunjukan Performance Fucktory, yang banyak mempengaruhi Melancholic Bitch. Tadi, Ugo sempat tersenyum simpul sembari mengisahkan salah satu penampilan Melancholic Bitch era awal. Seorang penampil menyikat gigi selama 30 menit tanpa jeda di pinggir panggung, sampai “giginya berdarah”. Mulutnya disorot close up oleh kamera, dan disiarkan langsung ke atas panggung selagi Melancholic Bitch tampil.
Syukurlah, performans nekat semacam ini absen dari konser mereka, beberapa jam setelah wawancara kami usai. Sementara penonton diguyur gerimis, para personil Melancholic Bitch siap sedia di atas panggung dengan kostum hitam-hitam. Mereka memulai dengan Akhirnya Masup Tipi, ode pahit dari Balada Joni dan Susi, dan legenda itu hidup di depan mata kami lagi, meski hanya selama 40 menit ke depan.
Setelahnya, saya percaya, mereka akan kembali tidur panjang sampai ada alasan lagi untuk berkumpul. Entah kapan, dan entah kenapa. Kami semua pulang dari konser itu dengan membawa doa agar Hari Raya itu segera tiba. (*)
****
"Ini malam sudah bulat
Untuk penat dan pelikat
Kita sepenuhnya milik cahaya
Sepijar
Sepijar
Malam telanjang di dadamu
Kita penat dan pelikat
Kita sepenuhnya jadi cahaya
Berpendar
Berpendar
Jatuh tubuhmu di peluk
Bahtera yang sesat terapung
Laut yang murung."
Melancholic Bitch, "Peta Langit, Larung"
https://jurnalruang.com/read/1508942178-trauma-irama-ugoran-prasad?section=Recent%20Article&position=4https://jurnalruang.com/read/1508942178-trauma-irama-ugoran-prasad?section=Recent%20Article&position=4https://jurnalruang.com/read/1508942178-trauma-irama-ugoran-prasad?section=Recent%20Article&position=4