Minggu, 20 November 2011

GitaAditya Berkata

Dari: gitaditya

Melancholic Bitch

Entah bagaiamana mengekspresikan perasaan saya pada band ini. Sering mendengar namanya sejak tahun 2008 atau 2009, tapi baru benar-benar mendengar lagu-lagunya suatu hari di bulan Mei.

Saya suka SEMUA lagu mereka. Di kedua albumnya. Anemesis dan Balada Joni dan Susi. Sebenarnya sedikit bingung. Saya suka lagu mereka karena orang yang mengenalkan saya pada band ini, atau karena band ini memang bagus. Tapi percayalah, lagu-lagu mereka layak disimak.

Saking jatuh cintanya dengan band ini, saya dan orang yang memperkenalkan saya pada band ini kerap menyamakan diri dengan "Joni dan Susi", nama dua tokoh yang ada di album mereka yang kedua "Balada Joni dan Susi". Sebuah album konsep yang tanpa harus berisi lagu-lagu cengeng, menceritakan tentang orang bernama Joni dan Susi yang kawin lari, jatuh miskin, dan karena tidak tega melihat Susi kelaparan, Joni mencuri apel di supermarket. Joni tertangkap lalu masuk televisi. Keren kan.

Waktu berlalu, hubungan naik turun dan pada akhirnya sampai pada satu titik perpisahan. Saya pun berhenti mendengarkan Melancholic Bitch. Terlalu sakit. Terlalu banyak kenangan di setiap lagu-lagunya. Konyol, tapi begitu benar. Sampai akhirnya hari ini, secara tidak sengaja saya menemukan sebuah link untuk mengunduh lagu-lagu baru mereka. Saya jatuh cinta sekali lagi pada melancholic bitch, dan jatuh cinta lagi pada kenangan masa lalu. Errr..

Coba dengar lagu ini:
http://soundcloud.com/simelbi/taman-bermain-waktu

Tidak terdengar jelas apa liriknya, tapi jelas nada-nadanya membuat perasaan saya seperti tidak jelas. Rasa sakit dan rasa apa pun itu yang dulu pernah ada seperti ada di sini lagi. Galau lagi mungkin. Hahahaha. Tapi lagu "Taman Bermain Waktu" ini kayak punya sihir gitu. Dengerin ini seperti sesaat balik ke Jogja di pinggir jalan ngeliati kopi suatu hari jam dua belas malam di jalan kaliurang. Bisa balik ke situ ga? Huhuhuhu..

Melancholic bitch.

Apakah saya sanggup mendengarkan kamu lagi?

Jumat, 18 November 2011

Press Release | Off Her Love Letter | Melancholic Bitch


Off Her Love Letter | Melancholic Bitch
Semacam Pengantar Kelahiran Kembali Anamnesis

Mari kita sedikit bercerita.
2003 EP Live ndalem Joyokusuman rilis. Ada 5 lagu cikal bakal Anamnesis.

2004 adalah tahun kelahiran Anamnesis yang sesungguhnya. Album pertama Melancholic Bitch.
Konser Beta Satin Merah. LIP. Akhir Maret 2004, menandai lahirnya Anamnesis. Tidak banyak yang mengira termasuk bandnya sendiri kalau malam itu mereka menera dan meniupkan nafas untuk sesuatu yang hidup dan melewati jaman.

Pada tahun itu, karena banyak keterbatasan, Anamnesis hanya dirilis dalam bentuk kaset yang jumlahnya terbatas dan sempat dirilis dalam bentuk CD juga dalam jumlah yang sangat sedikit. Nah, bisa jadi keberadaan rilisan fisik yang sangat sedikit itu membuat album ini hanya terdengar samar-samar dan menjadi dongeng yang tercantum di diskografi mereka.

Dongengnya berupa 11 lagu file MP3 yang beredar dari flashdisk ke komputer ke player dan seterusnya karena (akhirnya) dibagikan sendiri oleh bandnya juga karena begitu koneksi internet mulai jadi keseharian, banyak penggemar bandel yang dengan cueknya berbagi link-link unduhan entah legal atau tidak. Salah satu penggemarnya ada yang bilang, mengajak mendengarkan itu demi album dan bandnya tetap hidup.

Sesudah rilisan fisik habis, tak ada catatan yang jelas tentang keberadaan Anamnesis karena situs bandnya yang hidup segan dan akhirnya mati. Anamnesis terus hidup dari cerita, dongeng dan mitos tentang keberadaan Melancholic Bitch sampai kemudian mereka merilis album kedua Balada Joni dan Susi.

November 2009, pada saat launching Balada Joni dan Susi (BJS), Leliyani Hermiasih dikenal juga dengan nama panggung Frau, seorang solois perempuan dari Yogyakarta, diminta oleh Melancholic Bitch untuk membantu membawakan lagu "Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa" dari Album Anamnesis sebagai pembuka repertoar konser BJS. Dentingan piano, suara Frau dan Ugoran Prasad pada malam itu membuat dongeng tentang Anamnesis ini makin kuat keberadaannya. Apalagi ketika Frau memasukan lagu itu di album miliknya, Starlit Carroussel yang dirilis pada tahun 2010. Banyak yang penasaran dengan lagu versi asli dari Melancholic Bitch, banyak juga yang percaya bahwa lagu ini milik Frau dan Ugoran hanya seorang lelaki beruntung yang diajak Frau untuk berduet.

November 2011. Sebuah kabar menyapa. Tampaknya, dongeng ini bisa menjadi nyata.

Sebuah email mampir di malam hari, mengajak untuk menulis pengantar perkenalan lagi dengan Anamnesis. Tugasnya berupa menulis ajakan untuk mendengarkan sebuah lagu sebelum bertemu dengan wujud sesungguhnya dari dongeng yang selama ini terdengar samar.

Single yang pertama dipilih untuk dirilis sebelum album penuhnya nanti adalah Off to Her Love Letter. Untuk yang sudah mendengar lagu ini selama bertahun-tahun, jangan takut, versinya sangat berbeda dengan yang ada sebelumnya, di sini gantian para lelaki Melancholic Bitch yang mengajak Frau mendampingi mereka bernyanyi.

Liriknya pendek dan pedih.

wake up, don’t you hide now. sometime this morning someone, takes you on the run. breathe up all you can somehow, sometime this morning someone will take you run. takes you run.
takes you on the run, you can.
(somebody someone to feel you, to heal you, somebody someone to kill you, ever and ever)

Anamnesis yang artinya mengumpulkan ingatan masa lalu atau mengembalikan kenangan, diterjemahkan dengan lirik-lirik yang penuh kesedihan. Ditulis berbahasa Inggris dan berbahasa Indonesia, Melancholic Bitch mengantarkan melankoli dan ingatan posesif tentang cinta dan menyanyikannya tanpa terdengar cengeng sama sekali.

Bagi yang sudah pernah mendengarkan album ini tentu sudah tahu betapa adiktifnya lagu-lagu mereka dan pasti ingin mendengar versi barunya. Bagi yang belum, silakan dengarkan dan temukan jawaban mengapa album ini bisa bertahan sekian lama di playlist banyak orang.

Mari mengunduh dulu sebelum nanti siap-siap membeli rilisan fisiknya dan mendengar album penuh beserta banyak kejutan yang menyertainya. Mari kita gumamkan dan teriakan lagi kerinduan untuk melihat mereka pentas lagi. Ouch.  (Boit)

  Melancholic Bitch Feat Frau - Off Her Love Letter (single) by Melancholic Bitch

atau

Silakan klik link berikut untuk download lagunya : Off Her Love Letter

Melancholic Bitch:
Yosef Herman Susilo (Electric-Acoustic Guitar, Mix-Engineer), Ugoran Prasad (Voice, Lyric), Teguh Hari Prasetya (Bass, Keyboard), Yennu Ariendra (Electric Guitar, Synth, Laptop), Septian Dwirima (Percussion, Laptop); Collaborating Artist for BJS: The Wiryo Pierna Haris (guitar), Richardus Ardita (bass, voice), and Andy Xeno Aji (graphic, drawing).

Kontak Melancholic bitch di :
+62818259625 [yopie]
Management
OJie Adrianto Subroto
08156898423
mimelbi@gmail.com


Twitter:
http://www.twitter.com/simelbi


Web:
http://melancholicbitch.co.cc/

Rabu, 05 Oktober 2011

Lagu-lagu Yang Tidak Bisa Dipercaya EP


Catatan Pengantar:

Terimakasih mau mengunduh lagu-lagu b-side kami ini. ada banyak alasan kenapa kami tidak pernah merilisnya secara resmi; lagu taman bermain waktu, misalnya, terlalu pasif untuk era yang sebenarnya sedang genting ini. lagu kabar dari tepi.., juga ditulis tidak dalam keadaan mental yang bisa dimaklumi. dua lagu ini ditulis ketika kami sedang teramat jenuh, bosan, dan tak bertanggung jawab; orang-orang bijak selalu akan menyarankan untuk jangan percaya dengan apa-apa yang dikatakan orang yang sedang dilanda bosan; sebab kami tak bijak kami jadi sering terlalu asal cuap. Dua lagu yang lain, tidak dirilis berdasarkan lain alasan. kami sebenarnya sangat sayang pada komposisi ke 3 dan ke 4, dua lagu yang kami bikin sesudah anamnesis. Sial, keduanya (beserta beberapa lagu yang tak sempat terdokumentasikan) terpaksa di "buang" karena kelokan dan perjalanan kami ke arah BJS. bulan lalu, kami tiba-tiba mendapati @pamityang2an mulai rajin memutar keempat lagu ini. 2 lagu terakhir di ep ini, terus terang kami bahkan lupa kapan pernah merekam demonya, sepertinya bahkan operator studio merekamnya tanpa sepengetahuan kami :) kredit kami harus berikan setinggi - tingginya pada dimas zaki firdausi a.k.a samid @monsterkrupuk karena menjadi pengarsip maha selo nan bandel, bisa - bisanya dia punya rekaman demo melbi yang bahkan personil kami gak ada yang punya.

Kami lalu dengar, beberapa pendengar setia pamityang2an mulai meminta radio qwerty yang seru itu memutarnya lebih sering. Melalui sedikit diskusi kecil, terutama atas inisiatif Ojie Adrianto (Kongsi Jahat) dan Yopie Jenggot, kami memutuskan untuk membaginya saja sekalian, setengah resmi, terutama karena sudah bisa kami bayangkan (sebagaimana terjadi pada versi demo BJS), pastilah lagu-lagu ini sebentar saja akan beredar di internet, tanpa bisa kami cegah.

Pikiran sederhana kami, justru jika kami membaginya dalam semacam satu paket EP begini, kami jadi bisa menyertakan catatan pengantar ini, sekaligus memohon maklum atas keserampangan pikiran yang tertuang didalamnya, ketidaksempurnaan kualitas tata suara, dan berbagai kekurangan lainnya. sekali lagi, terimakasih sudah mau mengunduh dan melegakan hati dan telinga untuk mendengar lagu-lagu yang tak bisa dipercaya ini. 

Silakan: 
Track:
Dalam karya EP ini: Yosef Herman Susilo, Yennu Ariendra, Ugoran Prasad, Septian Dwirima, Teguh Hari. Recorded live at Kua Etnika dan Pengerat studio. Post recording by @simelbi

salam hangat, @simelbi
http://melancholicbitch.co.cc/ | http://listn.to/melancholicb1tch 2011 | http://twitter.com/simelbi 

*) free to share not sale

_________________________________

Catatan dari Kotakgelas: 
Terpujilah yang berisinisiatif menyelamatkan arsip Melancholic Bitch dan akhirnya 'memaksa' mereka untuk membagikan EP ini secara resmi. Sebagai catatan pribadi yang juga sudah saya sampaikan sendiri pada Ugoran, agak mengagetkan mendengar kembali Melancholic Bitch dengan versi 'semacam demo' setelah versi final Balada Joni dan Susi yang cukup epik. 
Tapi berhubung ini muncul ketika ada rencana merilis ulang Anamnesis, rasanya pas mendengarkan kembali Melancholic Bitch dengan nada-nada semacam ini, memutar kembali waktu seakan kembali ke masa tahun 90an akhir. 
Terima kasihMelancholic Bitch. :)
 

Senin, 08 Agustus 2011

Dari Omink - Majalah Sintetik

Saya Fans Melbi, Saya Menjijikkan?

Saya Fans Melbi, Saya Menjijikkan?
oleh: Omink

Diam-diam saya pernah membenci melbi. Saya mendengar 'Distopia' pada tahun 2009 di kereta dan mengerenyitkan dahi tanda tak suka. Ini karena Cholil “ERK” sempat mengaku bahwa melbi adalah versi tingkat lanjut dari Efek Rumah Kaca. Saya tak sudi. Chauvinisme saya terhadap Efek Rumah Kaca terguncang sakit hati. Hingga di kereta saat itu, 'Distopia' sengaja dilewatkan dan diganti “Distopia” Black Star hanya karena Cholil mengisi sebagai vokalis bayangan.

melbi sempat terus menjadi anak tiri dalam playlist mp3. Albumnya pun sempat sengaja dibiarkan berjudul “unknown”, bukannya “Balada Joni dan Susi”, agar susah dicari. Satu-satunya lagu milik melbi yang saya dengar adalah “Sepasang Kekasih yang Bercinta di Luar Angkasa” karena kebetulan mendengarnya di album Leilani. Selebihnya, saya sekedar tahu saja bahwa hidup mereka dekat dengan gunung merapi.

Siapa itu Melancholic Bitch, saya sempat tak mau kenal. Mungkin hanya Ugoran Prasad karena ia selalu berdiri di depan. Hilmi sering bercerita tentang melbi, tapi sering saya abaikan. “melbi bukan band seperti Efek Rumah Kaca. Mereka tak punya lirik sosial seperti anti kapital atau menjadi indonesia. Bagaimana bisa mereka menjadi versi upgrade dari Cholil, Akbar dan Adrian?” pikir saya setiap distopia diputar Hilmi dengan mata berbinar.

Dalam diri saya, isu sosial memang sempat memiliki kekuatan untuk meningkatkan citra peduli seseorang, juga meningkatkan harkat martabat musisi profesional. Mendengarkan band “cerdas” menjadi kewajiban bagi mereka-mereka yang mengaku cinta orang-orang marjinal. Saya ikut-ikutan. Maka jadilah, mata dan telinga saya sempat hanya melihat dan mendengar band “cerdas” seperti Efek Rumah Kaca atau para penirunya yang selalu berkoar tentang tema-tema sosial: kapital, korupsi, tawuran, hingga kejahatan seksual. Sampai kebahagiaan turut sempat dikendalikan hanya oleh musisi yang mengangkat kemiskinan dan masalah pendidikan sebagai tema andalan. Musisi yang berorasi tinggi soal korupsi dan menolak belanja terus sampai mati dengan suara nyaring, langsung terlihat mulia. Dan musisi yang tak memasukkan istilah-istilah sosial dalam syairnya, langsung terlihat nista.
Begitulah bagaimana melbi sempat masuk dalam daftar band yang tak saya gubris karena lirik mereka miskin kata-kata “belanja terus sampai mati” atau “anti pornografi”, kecuali kata “televisi” yang menjadi musuh literasi. Efek dari “Cinta Melulu” Efek Rumah Kaca berhasil membuat band yang mengangkat tema cinta pinggiran dalam "Balada Joni dan Susi: terasa mirip Armada lewat “Cinta Buta”-nya.

“melbi biasa saja. Cholil cuma basa-basi belaka,” yakin saya menenangkan hati sembari mengeraskan 'Hujan Jangan Marah' dari speaker yang baru dibeli. “Yaa.. Cholil cuma basa-basi belaka. Benar-benar cuma basa-basi.”
….
Enam hari yang lalu, tanggal 27, saya tertunduk malu. Diawali oleh wawancara cerdas yang dibaca kala mati lampu antara Ardi Wilda dengan Ugoran Prasad, saya melakukan pengakuan dosa di galeri art milik Pak Langgeng dimana salah satu pengurusnya adalah Goenawan Mohamad, idola saya. melbi ada disana. Melakukan pementasan akhir sebelum Ugo studi ke Amerika selama dua tahun bersama Armada Racun, juga Leilani, Silir dan Wvlv. Mereka tidak hanya mencubit pipi saya saat itu, tapi juga menampar lalu mengajak berdamai lewat art performance yang memukau. Saya malu. Seketika saya sadar terlalu mudah menafsirkan arti “Cinta Melulu”. Kecerdasan saya semu dalam memahami proses berkesenian melbi sejak pertama kali kami bertemu hingga menghasilkan penilaian keliru. Dosa besar. Karena sebelumnya, saya menanggapi Melbi dengan gerutu hingga bahkan dalam tulisan ini, di paragraf awal, saya enggan menulis huruf awalan “melbi” dan judul lagunya dengan huruf besar layaknya saran para editor bermutu. Saya malu. Saya malu, sembari menatap sepatu.
Sehari sebelumnya, saya berangkat ke Yogyakarta pada tanggal 26 pagi dengan semak hati. Itu hari pertama saya sedang menstruasi. Sempat ingin batal pergi, tapi kala itu saya terlalu arogan untuk melewatkan Melbi dan terlalu pelit untuk merugi karena sudah membeli tiket konsernya jauh-jauh hari karena terpengaruh Hilmi, bukan atas dasar kesadaran sendiri. Jadi, saya memutuskan untuk tetap angkat kaki.
Perjalanan darat dengan bus petang, seperti itu-itu saja. Tak banyak yang bisa diceritakan kecuali nyeri setengah mati yang kemudian dapat reda gara-gara Kiranti. Sesampainya di Yogyakarta pun masih biasa saja. Mungkin karena saat itu saya lebih peduli pada fase datang bulan dan nasib celana dalam daripada tempat penginapan, hingga ketika diputuskan untuk tidur di rumah salah satu personil Tripping Junkie, saya menerima dengan hati lapang. “Yang penting bisa tidur beralaskan lantai rumah, bukan lantai supermarket dengan logo K besar merah,” pikir saya terlalu lelah.
Esok harinya, tanggal 27. Rumah, tempat tidur, mati lampu. Kartu-kartu yang berserakan tiba-tiba berguna sebagai alat pembunuh waktu. Saya bosan, sampai kemudian seorang teman menyodorkan link wawancara Ardi Wilda dengan Ugoran. Saya penasaran dan membacanya dari awal, mulanya, dengan asal-asalan.
Frase “legenda hidup” di paragraf pertama masih bikin kesal. “Personil melbi beberapa kali terlibat dalam pementasan teater”? Baiklah, saya terkesan. “Ugo sedang melakukan riset sejarah kontemporer terkait dengan pertunjukkan di Indonesia pasca 1998”, wow! Ini beneran?. Membaca jawaban pertanyaan pertama, kedua, sampai empat, saya terperanjat. Jawaban “no fucking celebrity” di pertanyaan kelima, benar-benar mempesona. Kenyataan bahwa BJS (Balada Joni dan Susi) adalah hasil olah pemikiran Melbi terhadap budaya pinggiran, mulai bikin hati luluh, terus sampai jawaban di pertanyaan nomer sebelas: “bukan berarti Dedy Dores jelek lho ya. Dia hanya lebih tabah menyikapi lagu-lagunya. Sayangnya kita ga setabah Dedy Dores”. Astaga! Saya jatuh cinta! Jawaban pertanyaan nomer dua belas, tiga belas, empat belas, saya baca dengan terpesona tak berdaya sampai kemudian istilah “artist collective”, yang keluar dari jawaban pertanyaan nomer lima belas, terasa “cerdas” luar biasa menggantikan istilah “anti kapital” yang mulai banal. Enam belas, pemujaan saya sampai pada titik maksimal hingga ditutup dengan pernyataan yang menggambarkan betapa Melbi memiliki vokalis yang berintelektual sangar: “kebetulan aku dapat beasiswa dari program Erasmus Mundus dengan program yang sama yakni Performance Studies. Aku bakal studi di Universitas Amsterdam satu semester untuk kemudian lanjut ke Warwick University di Coventry, Inggris.”
Cukup. Sudah. Ini gila. Saya tergila-gila. Mulai malu. Malu tertunduk, menatap sepatu.
Itu paginya. Malamnya tanggal 27, pukul delapan lebih lima belas menit, terlambat sedikit dari pukul setengah delapan malam karena beberapa tragedi sulit, saya sudah duduk bersila di rumput galeri Pak Langgeng. Isinya sudah ramai anak muda Yogyakarta yang kebanyakan menenteng botol bir hijau karena diskon khusus untuk acara bertajuk “Keracunan Ingatan” malam itu. Bule-bule berserakan dimana-mana. Saya duduk agak di belakang bersama Hilmi, Henry, Tika dan Mikha, duduk dekat stand kamera. Saat itu, malu saya di pagi hari, berganti dengan perasaan haru minim gerutu untuk menebus kesalahan masa lalu. Saya mulai menunggu.
Masih Armada Racun. Saya bernyanyi di “Amerika” juga “Tuan Rumah Tanpa Tanah” sambil melihat sekitar. Terlihat Frau mondar-mandir di jarak kurang lebih 4 meter. Manusia yang lain, saya tidak kenal. Pasti ada Wok dan Ardi Wilda disana. Dua orang yang bikin penasaran bentuk nyatanya karena selama ini hanya tahu lewat hasil jepretan kamera di situs-situs jejaring sosial dunia maya. Tapi, saya masih tak tahu yang mana. Mereka bisa ada dimana saja.
Armada Racun selesai. Entah pada pukul berapa. Katanya, ini juga pertunjukkan terakhir mereka. Namun, seperti kata Ardi Wilda di tulisan ulasan konser ini di Jakartabeat, Armada Racun anti klimaks karena personilnya tak seperti seharusnya. Saya memang berharap melihat Nadya disana. Sayangnya, saya tahu belakangan jika kibordis lelaki yang saya kira hanya additional sementara, sudah ditasbihkan menggantikan Nadya untuk seterusnya. Kasihan saya.
“Melbi” didengungkan oleh MC lewat pengeras suara. Saya tegang, tak keruan rasanya. Ingin melihat orang-orang, terutama Ugoran, yang merubah benci saya menjadi jatuh hati hanya dalam waktu dua hari. Ingin melihat postur tubuh mereka, ingin melihat bagaimana pakaian mereka, ingin mendengar suara asli mereka, ingin mendengar gesekan gitar Jaguar mereka, juga ingin merasakan Balada Joni dan Susi diceritakan nyata, di depan mata. Saat itu, saya menyiapkan diri untuk terkesima, melihat dengan telinga, balada cinta pinggiran yang tak jelas batas imajinasinya.
Joni dan Susi ada disana. Joni berbaju kotak-kotak berkacamata, Susi berambut panjang dikepang dua. Joni dua satu dan Susi sembilan belas. Terkurung dalam kotak gelas, dingin dan cemas. Ia Joni, ia Susi.
Bulan madu di Venesia, di atas kanal venesia, jangan kencang-kencang, jangan hilang keseimbangan, kapal ini terlalu kencang, kapal ini goyang, membentuk tujuh semesta dalam suka atau duka, kaya atau papa, berdua mereka sampai kematian memisahkan, membelah jiwa raga mereka, “katakanlah jika aku israel kau palestina, jika aku amerika kau seluruh dunia, jika aku miskin kau negara, jika aku mati kau kematian lainnya, kamis jumat sabtu pepatkan seluruh semesta jika kau menginginkannya, pepatkan semesta di seluruh sisi-sisinya.”
Kereta mengantar mereka menuju semesta berdua, dalam kereta mereka berdua bersama selama-lamanya, kereta mengantar mereka menuju semesta berdua, hanya berdua bersama-sama selama-lamanya hingga televisi merusak suasana, merusak imajinasi, gila, berharap hanya mimpi lewat cubitan pipi, dasar televisi perusak imajinasi, dunia pepat dalam 14 inchi.
Susi lelah habis jalan-jalan, tidurlah susi, tidur, tidur, susi terlalu lelah jalan-jalan dalam pelarian sampai demam, minggu pertama pelarian mereka susi demam, joni gusar, miskin datang bikin tangan joni terkepal, joni miskin, lapar, susi pelan berbisik, “curilah roti, curilah roti”, tak akan dibiarkannya susi mati, curilah roti dari deret supermarket yang tersusun rapi, jangan biarkan susi mati, tapi pencurian merusak keseimbangan harga dunia, supermarket memerangkapnya, sebuah apel jatuh dari lubang saku celananya, itu apelmu adam, buang apelmu adam, buang apelmu, banyak orang yang menangkapnya, mengurungnya, mencekal pundaknya, membanting punggungnya ke aspal, banyak orang yang menjatuhkan hukuman Tuhan di wajahnya, joni bilang, “jangan libatkan polisi di cinta ini, jangan libatkan polisi di cinta ini” sementara televisi datang lebih cepat dari ambulans.
Joni masup tipi, lima belas detik kerajaannya, lebih baik, jauh lebih baik daripada seumur hidup tanpa lampu, lihatlah lihat betapa nyata cinta mereka kini, joni ada di tipi, susi ajarkanlah pada mereka bagaimana caranya mengeja, di jalan tertulis jejak luka, pemerintah tak bisa membacanya, susi ajarkanlah mereka mengeja.
Ketika joni dua satu dan susi sembilan belas, dunia terkurung dalam kotak gelas, dingin dan cemas, berdarah luka tangan mereka, saling menggenggam mereka mengikat darah mereka selamanya, akan berpinak banyak-banyak jadi sekawanan joni, jadi sekawanan susi, mari pergi dari sini, membuka lahan kebun apel seperti Tuhan, membuka lahan kebun apel seperti Tuhan, lalu kita dirikan menara yang tinggi, lebih tinggi. Tengadahlah joni dan susi. Tengadahlah. “Namaku joni, namaku susi. Namamu joni, namamu susi”
Bisa didengar kerinduan, pelarian ini telah usai, menjadi batu yang melesat menghancurkan, menjadi pisau berkilau yang teracuhkan, “jika kita bertemu di sudut sesal itu, lihatlah diwajahku ada wajahmu, dimatamu ada mataku”, namaku joni, namaku susi, namamu joni, namamu susi, namaku joni, namaku susi, namamu joni, namamu susi..
Ada encore setelah itu. Kira-kira 3-4 lagu. Seperti film, lagu-lagu encore itu menemani gerakan vertikal deretan daftar produser, sutradara, penulis skenario, dengan hanya dua tokoh utama: Joni dan Susi, dengan si Melbi yang bukan menjadi sutradara atau produsernya, tapi Tuhan-nya. Saya pulang dengan lega hati di dada. Balada ini terasa murni, kental seni. Dan layaknya seni, ceritanya tak akan habis disini meski Melancholic Bitch baru bernyanyi setelah dua tahun lagi.
Hari ini tanggal 2 Agustus, enam hari setelah konser Melancholic Bitch itu digelar. Saya sedang sembahyang siang. Biasanya, saya akan mematikan segala sumber suara agar tak memutus tali spiritual dengan Tuhan. Biar konsentrasinya tak hilang. Namun, kini Balada Joni dan Susi milik Melbi wajib ada di volume tertinggi saat saya mengatup kedua tangan, menuturkan puja-puji, berbau dupa wangi. Tampaknya, Balada Joni dan Susi telah menempati tempat kesekian setelah Tuhan, yang berhak mendapat pujian sakral.
“Namaku Joni, namaku Susi. Namamu Joni, namamu Susi. Jadi sekawanan Joni, jadi sekawanan Susi”

Minggu, 31 Juli 2011

Masih dari Jakarta Beat dot net

Keracunan Ingatan: Perpisahan Memorable Armada Racun dan Melancholic Bitch 

oleh: Ardi Wilda 


Ugoran Prasad tak perlu banyak bicara untuk membuat lebih dari tiga ratus orang yang memadati Langgeng Art Foundation, Yogyakarta berteriak bersama menyambut kehadirannya. Vokalis yang biasa disapa dengan Ugo ini memang tak bicara satu patah kata pun saat memulai konser, bahkan sekedar untuk mengucapkan sapaan klise khas para vokalis.

Namun aura yang ia hadirkan malam itu lebih dari cukup untuk sekedar berkomunikasi dengan penonton. Sesuai nama konsernya, para penonton memang dibuat “Keracunan Ingatan” oleh Ugo yang sudah lebih dari satu tahun lebih tak melakukan konser karena harus studi di New York.
Rabu (27/7) malam lalu memang menjadi malam yang sangat istimewa bagi scene musik independen di Yogyakarta. Dua band yang sangat penting di scene ini akan mengadakan konser perpisahan sebelum mereka vakum untuk waktu yang tak dapat ditentukan. Adalah Armada Racun dan Melancholic Bitch yang membuat Langgeng Art Foundation sebagai venue dipenuhi ratusan orang yang tak mau ketinggalan melepas salah dua band terbaik di kota ini.

Armada Racun membuka konser ini tepat pukul delapan malam, telat setengah jam dari jadwal yang direncanakan. Freddy sang vokalis dan bassist di band dengan platform red, rock and poison membuka malam itu dengan lagu “Lalat Betina” dari album perdana mereka, La Peste. Armada Racun kemudian berturut-turut membawakan nomor andalan seperti “Goodnews For Everybody”, “Mati Gaya” dan “Tuan Rumah Tanpa Tanah”. Sayangnya, penampilan Armada racun terasa sangat antiklimaks untuk sebuah konser perpisahan sebelum memutuskan vakum.

Banyak alasan yang menjadi penyebab antiklimaks penampilan band ini. Pertama adalah kenyataan bahwa Armada Racun sudah terlalu lekat dengan komposisi dua bass yang digawangi Freddy dan rekannya Dani, permainan keyboard yang menyayat dari Nadya Hatta, serta tabuhan drum khas dari Riyanto Rahmat aka Somed.

Sayangnya, malam itu Freddy dan Somed harus bermain tanpa dua kompatriotnya yang tak bisa hadir. Menyaksikan sebuah band berisi empat personil dan hanya menyisakan setengahnya saat konser perpisahan adalah sebuah antiklimaks yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Atau memang ekspektasi saya yang terlalu berlebihan terhadap band ini.

Kenyataan mengagetkan kedua adalah ucapan Freddy di panggung yang memperkenalkan Yudhistira sebagai keyboardis resmi mereka menggantikan Nadya Hatta. Tentu kabar ini mengagetkan para pendengar Armada Racun. Saat saya konfirmasi, Freddy menyatakan bahwa Yudhistira, yang juga personil band Quasimodo, memang telah secara resmi menggantikan Nadya Hatta sebagai penekan tuts keyboard di band yang juga mengisi album kompilasi Jogja Istimewa ini.

“Nadya memang sibuk dan kami mempersilakan dia untuk berkonsentrasi dengan kesibukannya,” jelas Freddy singkat saat saya konfirmasi mengenai pergantian personil di tubuh band ini. Ia juga menambahkan bahwa Armada Racun menambah personil seorang pemain saxophone bernama Moussadeq.

Menurut Freddy, penambahan ini untuk menjawab kebutuhan di album kedua kelak. “Album kedua kita emang butuh instrumen macam saxophone dan trombon, ini jadi kaya transisi dari album La Peste ke album kedua kami,” tambah Freddy. Di konser ini mereka juga membawakan sebuah nomor berjudul “Lies Lies Lies” yang akan ada di album kedua mereka.

Sayangnya penampilan Armada Racun dengan personil barunya ini belum dapat mengalahkan greget ketika Freddy yang berkarakter kuat, tabuhan khas dari Somed, Dani yang attitude dan permainan bassnya sama-sama liar, dan seorang Nadya dengan permainannya yang membuat platform red, rock, and poison menjadi benar-benar nyata.

Yudhistira sebagai pengganti Nadya nampaknya akan memiliki pekerjaan rumah berat karena karakter Nadya, yang aktif di Risky Summerbee and the Honetyhief dan Individual Life, terlalu kuat dan sulit untuk digantikan. Malam itu nampaknya Yudhistira belum mampu menggantikan sosok Nadya yang sudah tertanam di ratusan pendengar Armada Racun.

Beruntung Armada Racun memiliki nomor-nomor yang sangat anthemic macam “Boys Kissing Boys” dan “Drakula” yang berhasil membuat penonton melupakan soal ketidakhadiran Dani dan Nadya Hatta. Mereka pun terselamatkan oleh lagu “Amerika” sebagai penutup yang sangat lekat dengan band ini,. Dan Amerika jua yang menyelamatkan mereka dari sebuah antiklimaks. Namun jika titel konser ini adalah Keracunan Ingatan maka ingatan saya tentang Armada Racun adalah ingatan tentang Fredy, Dani, Somed dan Nadya, bukan hanya Freddy dan Somed semata.

Secercah harapan datang dari pernyataan Freddy. Ia menampik rumor yang menyatakan band ini akan bubar. “Banyak orang memang yang usul dengan masalah yang didera band ini terus bilang udah selesai aja dan tercatat sebagai legend. Tapi kita enggak pernah kenal istilah legend, fenomena sosial kan terus ada dan ini patut dicatat lewat lagu-lagu kami. Kami nganggep lagu-lagu kami seperti literatur, enggak mungkin literatur berhenti tengah jalan,” tutur Freddy memberi harapan.

Ia pun mengatakan band ini akan vakum sekitar satu tahun karena akan kembali ke studio dan mengumpulkan materi untuk album kedua. Tentu saja harapan yang diberikan Freddy menjadi penting untuk para pendengarnya. Armada Racun adalah salah satu band rock terbaik di Jogja. Akan menjadi sebuah kehilangan jika band ini berubah menjadi sekedar legenda yang telah mati.

Selesai dengan Armada Racun, penonton dibuat tak sabar dengan kehadiran Melancholic Bitch. Saat wawancara sebelum konser, Ugo hanya menganggap enteng dan tertawa saat saya berkata Melbi sudah seperti band cult. Namun melihat wajah dan mimik para penonton, agaknya tak ada yang salah dengan predikat itu.

Semua mata tertuju ke panggung ketika semua personil Melbi sudah berada di sana. Namun orang yang paling ditunggu malam itu belum juga terlihat batang hidungnya di panggung. Sekitar sepuluh menit kemudian Ugo menampakkan diri dari sisi panggung dengan kemeja merah lengan panjang dan rokok yang setia ia pegang sepanjang konser. Momen itu menjadi penanda kehadiran Ugo malam itu.

Vokalis yang baru saja menyelesaikan studi di Big Apple ini langsung menggebrak dengan nomor “Department Deities and Other Verses” dari album Anamnesis. Selesai dengan itu Melbi langsung membawa para penonton hadir dalam sebuah dunia ala Joni dan Susi.

Ugo memulai perjalanan ke dunia Joni dan Susi malam itu dengan bermonolog. “Joni dan Susi punya mimpi, mimpi jalan-jalan,” tutur Ugo. Monolog itu terasa sangat pas untuk membuka lagu “Bulan Madu” yang bercerita mengenai bulan madu imaginer pasangan Joni dan Susi ke penjuru-penjuru dunia.

Malam itu, Ugo lebih memilih bermonolog membuka sebuah lagu ketimbang berkomunikasi klise ala para vokalis yang membosankan. Sebelum memulai lagu “7 Hari Menuju Semesta” ia bermonolog. “Menciptakan dunia ini dalam tujuh hari, Joni dan Susi menciptakan ini dalam tujuh semesta,” ucap Ugo. Sampai detik ini penonton memang masih duduk-duduk santai dan hanya terpukau dengan aura Ugo yang sudah tak dirasakan selama lebih dari setahun.

Barulah ketika Melbi membawakan “Distopia” semua penonton sontak mulai berjoget kegirangan. Ya, berjoget dalam makna denotasi bukan konotasi. Wajar jika penonton berjoget, sebab seperti dalam versi albumnya, Melbi mengundang Silir Pujiwati untuk bernyanyi bersama. Silir Pujiwati adalah pesinden yang Melbi undang untuk memberikan cengkok ala dangdut pantura pada lagu ini.

Melbi seperti membuktikan kalau dangdut tak hanya mereka eskploitasi seperti para orientalis barat, melainkan mereka rasakan denyut dan jiwanya untuk kembali mereka rayakan dalam cara yang lain. Hal ini juga terlihat dalam pengakuan Silir malam itu.

Menurut Silir, lagu “Distopia” yang dulu ia dengar tak seperti saat ini. “Wah mbiyen lagune abot tenan mas, ora donk aku (Wah dulu lagunya berat sekali mas, saya tidak mengerti),” ujar pesinden yang juga dekat dan kerap tampil dengan Kua Etnika pimpinan Djaduk Ferianto ini.

Namun Melbi kemudian memberikan kebebasan pada Silir untuk mengubah lagu itu sesuai dengan cengkok Melayu dan Dangdut Pantura yang sangat kental dengan suaranya.
“Musik aku sama Melbi kan emang jauh sekali bedanya tapi ternyata kita bisa duet, jadi sadar kalau dangdut pantura juga bisa masuk ke musik band-band-an gini,” aku Silir. Terjalin sudah dialog antara musik pantura dengan musik yang dibawakan oleh Melbi.

Melihat penonton yang sudah on fire Melbi langsung menggebrak dengan lagu yang paling anthemic di album Balada Joni dan Susi, “Mars Penyembah Berhala”. Semua penonton sontak berdiri ketika lagu ini dimainkan oleh Melbi. Frase, “Siapa yang membutuhkan imajinasi, jika kita sudah punya televisi” bergemuruh di Langgeng Art Foundation malam itu.

Lompatan-lompatan para penonton, sing along sepanjang lagu dan botol-botol bir yang diangkat tinggi-tinggi menjadi penanda kalau lagu ini menjadi momentum terbaik yang membuat konser ini semakin memanas.
Melbi kemudian menurunkan tempo malam itu dengan memainkan “Nasihat Yang Baik” sebelum akhirnya mengajak salah satu nominasi “Susi” yakni Frau untuk bermain bersama. “Off Her Love Letter” menjadi sajian pembuka duet bersama Frau malam itu. “Sebuah kehormatan bermain dengan Frau dalam kondisi berdiri,” kelakar Ugo saat membuka lagu. Frau memang identik dengan bangku kecil dan sebuah teh hangat di sampingnya di setiap penampilannya. Namun kali ini ia rela meninggalkan semua propertinya untuk Melbi.

Tentu saja kemudian Frau dan Melbi berduet dalam “Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa”. Saya kemudian teringat dengan ucapan Frau setahun lalu saat konser di Tembi yang mengatakan bahwa “Akan terasa sangat berbeda memainkan lagu Sepasang Kekasih tanpa kehadiran Mas Ugo.”
Malam itu nampaknya kerinduan Frau terbayar lunas, duet ini terasa sangat manis dalam konser malam itu. Duet yang sudah dinanti-nantikan sejak setahun ke belakang.

Frau sendiri terlihat sangat sumringah saat saya temui setelah kerinduan berduet dengan Melbi terbayar lunas. Saya kemudian bertanya pada Frau perihal apa yang akan terjadi dengan Melbi jika konsep Ugo tentang mengganti vokalis Melbi dengan seorang solois wanita sebagai “Susi” terlaksana.

“Melbi kalau vokalisnya bukan Mas Ugo ya namanya bukan Melbi, mungkin karena gregetnya bakal beda ya,” jelas Frau. “Ibaratnya seperti Jikustik ganti vokalis,” tambah Frau berkelakar.
Menurut Frau walau yang menggantikan adalah seorang solois berkarakter sekalipun, seperti Tika misalnya, aura yang dihasilkan akan terasa sangat berbeda. “Jatuhnya juga bakal beda ya, karena yang nyanyi kan punya karismanya sendiri-sendiri,” komentar Frau.

Melbi melanjutkan penampilannya malam itu dengan memainkan “Akhirnya Masuk Tipi” sebuah lagu yang mengkritik industri media. Secara usia para personil Melbi memang sudah berumur. Namun energi mereka tak berkurang sedikit pun sampai menjelang akhir konser. Meski kemudian mereka beristirahat sejenak sebelum memainkan encore sebanyak tiga lagu di konser malam itu.

Dalam encore malam itu Melbi mengundang Ari WVLV dari Soundboutique yang membawa nuansa elektronik pada penampilan Melbi. “Kita Adalah Batu” dipilih sebagai encore pertama malam itu. Untuk kemudian disusul dengan sebuah tembang legendaris milik Melbi, “The Street”. Malam itu ditutup dengan sebuah lagu penutup di album BJS, “Noktah Pada Kerumunan”.

Selesai konser Ugo mengundang orang-orang yang pernah menjadi personil Melbi untuk naik ke atas panggung. Seperti dikatakan Ugo dalam wawancara yang saya lakukan sebelum konser, Melbi tak pernah mengenal istilah mantan personil. Dan malam itu seluruh personil yang pernah terlibat dalam artist collective bernama Melancholic Bitch naik ke atas panggung.

Para penonton kemudian dihadapkan pada pemandangan bagaimana sebuah band besar dilepas untuk kembali vakum. Band ini memang lebih sering vakum ketimbang aktif . Namun mengutip sebuah lirik di “Noktah Pada Kerumunan” yang berbunyi, “Kerinduan yang digumamkan”, ya semua pendengar akan terus bergumam mengenai band ini entah sampai kapan. Mereka akan tetap menjadi balada yang misterius di hati tiap pendengarnya layaknya seorang Susi merindukan Joni.

Konser Keracunan Ingatan ini berhasil membayar sebuah kerinduan akan penampilan Armada Racun dan Melancholic Bitch. Namun, malam itu juga jadi penanda kalau Jogja akan kehilangan salah dua band terbaiknya di scene independen sampai waktu yang belum diketahui. Boleh jadi konser malam itu akan menjadi konser paling memorable bagi banyak pasang mata yang menyaksikan.

Dari Jakarta Beat

Wawancara dengan Ugoran Prasad (Melancholic Bitch): "Fans Club adalah Konsep Menjijikan"

oleh: Ardi Wilda 

Band Melancholic Bitch (Melbi) jarang tampil, namun namanya sayup-sayup terdengar sebagai legenda hidup. Bagi orang yang mengenal band ini, nama yang pertama terlintas adalah Ugoran Prasad, sang vokalis yang lebih senang disebut sebagai penulis.

Ugo, begitu ia biasa disapa, boleh dibilang memang berperan sentral. Setahun lalu, ia pamitan untuk studi ke negeri Paman Sam dalam sebuah konser yang sangat memorable bagi banyak orang. Konser itu menjadi penanda bagaimana ia meninggalkan Melbi yang justru sedang menanjak karena album Balada Joni dan Susi (selanjutnya disebut BJS) banyak dibicarakan khalayak ramai.

Personil Melbi beberapa kali terlibat dalam pementasan teater. Di antaranya adalah Tubuh Ketiga yang merupakan pementasan oleh Teater Garasi di Salihara pada 12-13 Oktober 2010. Dalam pementasan itu, Yennu Ariendra dan Yoseph Herman Susilo (keduanya Gitaris Melbi) terlibat aktif. Pementasan itu adalah sebuah pementasan teater esai tentang kesenian Tarling Dangdut. Di situ, Yennu berkolaborasi langsung dengan gitaris asli Pantura bernama Rasmadi dan penyanyi tarling tradisional bernama Wangi Indria.

Dalam konser pamitan setahun lalu, Ugo berjanji akan tampil bersama Melbi lagi satu tahun ke depan.  Satu tahun itu berarti Juli 2011 ini.  Maka Jakartabeat.net mewawancarai Ugo lagi, selepas ia latihan bersama Melbi, yang lebih senang disebutnya sebagai artists collective ketimbang band, di sebuah studio di kawasan utara Yogyakarta beberapa hari lalu. Ia masih sosok yang ramah, jauh dari kesan rockstar yang dibuat-buat.
Ugo sedang melakukan riset sejarah kontemporer terkait dengan pertunjukan di Indonesia pasca 1998. Menurutnya, ini adalah riset mengenai isu generasional tentang bagaimana menyikapi kebebasan. Ia menyebutnya sebagai arsiran antara beberapa kelompok dalam mengakumulasi taktik pasca reformasi. Dalam risetnya ini, ia menyoroti Ruang Rupa, Common Room, Jember Fashion Carnaval, Kunci Cultural Studies dan beragam kelompok lain.

Kepada Jakartabeat.net Ugo bercerita mulai dari studinya, otokritiknya terhadap album BJS, hingga ketidaksukaannya pada media yang membentuk citra produsen kesenian sebagai mitos yang berujung pada terbentuknya fans club yang menurutnya adalah konsep menjijikan. Mitos rock star dan selebriti ia yakini harus dilucuti.  Ia juga bicara mengenai rencana konser Melbi yang akan diadakan pada tanggal 27 Juli 2011 di Langgeng Bistro, Yogyakarta.

Berikut wawancara yang dilakukan oleh Ardi Wilda, kontributor jakartabeat.net, di Yogyakarta:

Bung Ugo menghilang selama setahun untuk studi di Amerika, bisa diceritakan mengenai studi yang diambil?
Di Amerika aku ngambil performance studies. Ya kajian mengenai pertunjukan sebenarnya. Di tahun 70-an studi teater kan banyak berubah terkait dengan antropologi, sosiologi dan kajian lain yang interdisipliner jadinya. Jadi dalam studi yang saya ambil kita ngelihat kebudayaan lewat kacamata pertunjukan. Di situ banyak ngebahas soal perkembangan teater yang interdisipliner. Selain itu aku juga presentasi mengenai risetku soal pertunjukan di Indonesia pasca 98, bukan hanya teater. Tapi juga misalnya performance activity gerakan Islam kanan di Indonesia.

Konser perpisahan Melbi tahun lalu bertitel Joni dan Susi: The End Of Chapter I (The Beginning of Chapter II). Setahun sudah lewat, saya bertanya-tanya apa sebenarnya Chapter II yang dimaksud?
Oke kalau ini sebenarnya terhalang sama kesibukan seniman-seniman yang ingin kita diajak. Di dalam Melancholic Bitch kita sendiri juga sibuk Aan (Septian Dwirama, perkusi) sibuk dengan Jogja Broadway, Yennu (Gitar) dengan Belkastrelka juga udah mateng. Akhirnya secara waktu kami enggak mungkin mikir buat bikin sebuah konsep yang matang. Sebab, kami selalu mikir proyek-proyek pribadi juga penting dan selalu kami dukung kalau itu lebih visible. Belkastrelka jelas kami mendukung itu. Akhirnya mungkin baru setelah ini akan ada obrolan panjang dengan Tika atau Mian Tiara karena emang kemarin belum ketemu waktunya.

Saya melihat banyak kritik dan masukan untuk album BJS. Ada otokritik untuk album itu?
Mungkin otokritiknya berawal dari Melbi itu sendiri. Sebagai sebuah band Melbi udah lewat lah. Yang penting sekarang adalah jadi sebuah artists collective. Untuk jadi itu, penting banget challenge dari karya, bukan sekedar album ke album. Challenge sebagai artists collective untuk BJS ini masih kurang sebenarnya.
Yang paling dibutuhin sekarang adalah suara “Susi”. Dalam narasi yang kami buat di BJS, Susi itu tokoh sentral yang penting banget. Bahkan dalam sebuah narasi di BJS tertulis “Ajarkanlah pada mereka bagaimana cara membaca” (lirik ini tertulis dalam lagu "Akhirnya Masup Tipi" -red).
Artinya, Susi yang punya peran disini, kalau si Joni kan cuma nyolong roti aja ibaratnya (Tertawa).
Tapi di tengah jalan aku ngerasa BJS jadi  male driven sekali. Wajar mungkin, ya aku laki, Melbi semuanya laki-laki, secara enggak sadar mungkin jadi male driven. Aku ngerasa untukku sendiri ini udah mentok, harus ada female perspective disini. Aku enggak terlalu paham feminisme, menurutku penting untuk ngehadirin seorang yang paham soal ini.
Tika kami rasa orang yang tepat. Tika itu departemen lirik dan performancenya kuat banget. Aku rasa Tika juga bakal lebih paham soal seperti ini, kedekatannya dengan Ayu Utami juga bakal sangat membantu. Sebenarnya enggak hanya Tika aja, mungkin Mian Tiara atau Frau bahkan bisa mengisi ini.
Enggak bisa kita pungkiri lah beberapa tahun terakhir banyak muncul solois perempuan yang karakternya kuat banget. Sayangnya di lapangan yakni terkait waktu dan ruang hal itu belum bisa diwujudkan.

Sebenarnya bentuk kerjasama atau kolaborasi seperti apa yang bisa dilakukan Melbi dengan para solois itu?
Kita bener-bener bebasin mereka sebenarnya. Mereka bisa jammin’ dengan perspektif mereka. Space itu kita sediakan untuk mereka. Ibaratnya, silakan space itu di-abuse deh (Tertawa). Bisa jadi kan justru konsep yang mereka hadirin bertolak belakang dengan konsep awal BJS, ya enggak apa-apa juga. Harapan idealnya sih seperti itu. Tapi sayangnya kami enggak bisa nuntut banyak, karena ini kan beda dengan teater. Kemampuan produksi dan dana kayak di teater kan bisa jadi sebuah tuntutan. Kalau ini kan enggak.

Melbi sendiri sebenarnya mengharapkan respon bagaimana dari pendengar BJS?
Menurutku yang paling ideal itu seperti ketika Pameran Kelas Pagi Jakarta (sekolah fotografi gratis inisiatif fotografer Anton Ismael -red) saat merespon BJS. BJS itu kan dicuplik dari sebuah “keramaian.” Kalau dia bisa memproduksi sesuatu atau narasi yang baru dan menghadirkan “keramaian” lagi, itu jadi ideal. Aku ngerasa BJS belum terlalu mendorong orang untuk produksi, hanya konsumsi aja.
Gampangannya gini, BJS pingin nyiptain hubungan seniman dan pendengarnya sebagai kawan, No fucking celebrity. Kayak aku misalnya waktu kecil gila banget sama Slank terus jadi main band gara-gara Slank. Kaka pernah lihat Melbi mainin BJS karena si Anton Ismael kenal Kaka, itu rasanya kan asyik. Artinya kaya ngomong, “gw dulu main band gara-gara lo, sekarang lo nonton gw”, jadinya buat si idola kan juga apa yang dia lakuin nginspirasi orang buat produksi sesuatu.
Media kan selama ini juga salah ngebentuk itu, produsen kesenian itu kaya mitos yang susah dijangkau. Buatku mitos itu penting untuk dilucuti. Fans Club itu hal yang sangat menjijikan buatku. Kami mau kami bikin orang buat berproduksi dari karya kami, enggak berhenti sekedar mengkonsumsi.
Pameran foto Kelas Pagi dan penampilan kami Desember 2008 di Gedung Koran Tempo jadi titik balik kalau BJS ini harus jadi sesuatu. Penampilan kami di Gedung Tempo itu emang banyak dihina, secara sound hancur berantakan lah bisa dibilang, Felix Dass termasuk yang mencerca penampilan kami. Banyak yang benci dengan konser ini. Tapi fight dan energi buat jadiin BJS album ada disini.
Tadinya kami kan membayangkan BJS bakal jadi proyek visual atau audio, tapi momen ini dan saat ketemu Anton Ismael, membuat kita jadi yakin kalau BJS harus disikapi dengan lebih serius dan jadilah album BJS itu. Usaha kami panjang untuk ini. Kami ingin orang memproduksi sesuatu dari sini.

Saya membayangkan BJS akan sangat menarik jika diangkat menjadi opera seperti Opera Ken Arok Harry Roesli dulu, terpikir untuk ke situ?
Tentu saja ada pikiran kesana. Tapi aku masih bingung soal narasi dan formatnya bakal seperti apa. Akhirnya, rencana ini jadi semacam utang ke Teater Garasi. Sebab emang banyak tuntutan artikulasi saat membawa ini ke medium lain. Tapi buatku yang paling mendesak adalah penerjemahan yang terselip di antara lagu-lagu di BJS. Dan sebuah karya kan ada masa kadaluarsanya. Aku cuma berharap mudah-mudahan ada sesuatu yang lebih material dan nyata di akhir tahun ini.

Yang menarik bagi saya adalah mengapa Melbi selalu tertarik mengolah budaya pinggiran menjadi sebuah karya? Di BJS dan pementasan Tubuh Ketiga hal ini sangat terlihat.
Oh iya ya (Tertawa). Mungkin alasan utamanya karena saat itu di periode 2001-2005 Teater Garasi pertama kali membuat teater berdasarkan riset. Salah satu riset yang kami dapatkan adalah pada abad 16 pesisir kita sangat berjaya. Kudus, Gresik, atau Banten misalnya seperti jadi satelit peradaban dunia saat itu. Tapi kalau kita lihat dari realitas sosial sekarang daerah-daerah ini seperti dipinggirkan.
Padahal kalau kita mau jujur, kreativitas benar-benar muncul di sana. Lihat fenomena Kucing Garong atau House Music Dangdut dan semacamnya. Di situ kelihatan banget kalau kemampuan resistensinya tinggi. Di sana banyak nemuin dan nyiptain ruang buat kesenian baru.
Coba deh kamu kalau lihat pertunjukan dangdut di Indramayu, prek lah itu musik indie (Tertawa). Kita bakal lihat resistensi disana. Enggak ada lagi itu budaya tinggi atau rendah. Bukan berarti terus budaya pinggiran ideal juga. Di sana kan juga ada dimensi kekuasaan jenis kelamin tertentu.
Tapi dari situ juga kelihatan kalau peradaban pada akhirnya bergerak memusat. Menara akademis, menara pemerintahan misalnya memebuat pesisir jadi terpinggirkan. Tapi aku selalu melihat ada strategi dan taktik. Penguasa selalu punya strategi, sementara warga termasuk orang-orang di pesisir ini selalu punya taktik. Taktik warga pesisir itu kuat banget artikulasinya. Trio Macan itu artikulasinya kuat banget.
Coba sekarang bandingin sama band indie, masih kelihatan tuh band indie jejaknya kayak band ini atau itu. Lah kalau Trio Macan? Sampe pusing enggak ketemu jejaknya. (Melbi sebenarnya memiliki sebuah proyek yang sangat menarik mengenai budaya pesisir ini, namun Ugo meminta off the record mengenai proyeknya. Jika ide ini terwujud boleh jadi ini ide paling orisinil yang belum pernah dilakukan atau terpikirkan oleh satu band pun di negeri ini)

Bukankah yang seperti ini riskan jatuh ke pandangan orientalis atau eksotisme saja? Kenapa Melbi bisa terlepas dari itu?
Nah itu, kita sebenarnya harus bedain dulu antara politik ekonomi representasi dan politik representasi. Mahabarata Ramayana itu ceritanya diulak alik di sini enggak bisa dilihat orientalis karena sama-sama dari selatan. Dalam kasus ini misalnya Indramayu itu memamah dan memproduksi sesuatu dan kita kemudian memamah itu lagi. Hubungannya kemudian inspirasi kreatif. Kasus BJS berangkat dari tatanan keterhubungan itu. Kita berusaha memperlebar cara mengartikan sesuatu aja. Tapi menurutku tetap lebih berhasil Kucing Garong daripada BJS. Kucing Garong itu ikon. BJS belum ada apa-apanya dibanding itu.

Dalam halaman Melbi di Facebook dikatakan bahwa bung Ugo sedang mengembangkan ide “European Famine”. Ide apa itu sebenarnya?
(Tertawa) Itu sebenarnya asal ngomong aja. Ini gara-garanya waktu aku di Amerika tahun 2008 aku ngerasain situasi transnasional. Aku lihat imigran-imigran Indonesia di Amerika dan menurutku ada ruang-ruang sosial yang menarik disitu. Ada imigran ilegal yang kehilangan kontak sama keluarganya, juga ngelihat white collar, ngelihat orang Mexico waktu studi, ditambah lagi ada temanku di teater Garasi yang punya proyek soal TKI. Terakhir juga terkait sama kenyataan TKI kita di Arab. Menurutku fenomena-fenomena itu penting itu ditelusuri. Saya jadi mikir apa sih sebenarnya definisi dari warga dunia? Apa ini kebentuk dari ketidakseimbangan ekonomi dan jadi kayak gini?
Masih abstrak sekali sebenarnya, ya emang ada pengembangan dari ide ini tapi ya masih abstrak.

Ini ide untuk album ketiga?
Dibilang ide album ketiga mungkin aja. Tapi dalam nentuin ide untuk album itu kompetisinya gede-gedean di Melbi. BJS itu sendiri adalah ide ke enam yang terlontar setelah kita buat album pertama. Sebelum bikin BJS kita bahkan udah buat tiga lagu dengan ide besar diskomunikasi untuk album ke dua. Tapi mentok dan balik arah untuk konsep BJS.

Terkait soal proses kreatif ini, dalam sebuah wawancara bung Ugo pernah bilang, “Duduk jamming dan jadi lagu sih kaya Dedy Dores”. Bagaimana sebenarnya proses Melbi menciptakan sebuah lagu?
Yang jelas enggak fix dari awal nyiptainnya. Kita udah kenal satu sama lain. Efek dari situ buat kami bikin lagu itu gampang banget. Tapi masalahnya di situ, karena gampang jadi kami enggak mencintainya dengan sepenuh hati.
Contohnya aja misalnya kita tampil di nikahan Ria Pappermoon. Itu pertama dan satu-satunya Melbi tampil di nikahan, setengah jam aja jadi dua komposisi baru. Dulu mau main pernah drummer kami beberapa jam sebelum tampil tau-tau enggak bisa dateng. Kami suruh drummernya Anggisluka gantiin dia. Aku bilang ke dia, “Terserah deh itu mau digebuk kaya gimana drumnya”. Orang bilang mungkin ekspresif, spontanitas atau whatever tapi buatku tetep aja jadinya Dedy Dores (Tertawa).
Bukan berarti Dedy Dores jelek lho ya. Dia hanya lebih tabah menyikapi lagu-lagunya. Sayangnya kita enggak setabah Dedy Dores (Tertawa).
Kita harus lebih susah payah biar cinta sama lagu kita. Kalau balik lagi ke BJS, BJS itu bahkan diciptain awalnya dari prosa. Yennu, Aan dan aku itu workshop dengan penuh kekerasan. Kita dengerin Swami, Ken Arok, dan Badai Pasti Berlalu saat itu. Kalau dari luar kita denger Pink Floyd saat workshop, bukan buat rujukan musik tapi rujukan kemungkinan-kemungkinan yang bisa diciptakan. Yosi berperan menjaga keseimbangan, kalau enggak ada Yosi enggak bakal jadi lagunya.

Berarti kalau dibilang anda frontman yang sangat front itu salah?
(Tertawa) Enggak ada itu frontman segala. Hanya kebetulan saya yang paling artikulatif jadi saya yang banyak bicara. Kuncinya Melbi itu ada di semuanya bukan hanya di aku.

Apa satu tahun bung Ugo tinggal di Amerika akan sangat berpengaruh pada proses kreatif Melbi selanjutnya?
Yang jelas jadi malu (Tertawa). Gila, di sana itu band bagus banyak banget, ibaratnya kamu dari 3rd ke 4th Avenue udah bisa nemu dua band yang bagus banget, lagi ngamen pula. Tapi mungkin itu juga jadi masalah ya. Karena kebanyakan band bagus, pertanyaannya mungkin di New York band-band jadi mikir: “ini mau ngomong apa lagi?”
Permasalahannya jadi beralih ke gimana bikin kontak sama audiensnya mungkin ya. Kebutuhan di medan produksinya itu, karena kayaknya ada kejenuhan teks dan naratif. Di teater juga gitu, jadi lebih sulit juga karena Amerika sedang krisis ekonomi, funding-funding berkurang, di ranah estetiknya juga.
Kasarnya di sana mau telanjang di panggung terus bersetubuh enggak bakal diserbu FPI juga (Tertawa). Nah kalau udah kaya gitu kan bingung jadinya komunikasinya harus gimana?
Enggak ada satu hal tunggal yang harus dijawab di sana. Kalau di sini sebenarnya kan ada urgensi yang harus segera terjawab. Misalnya apa yang harus dijawab komunitas indie atas radikalisme Islam atau FPI? Di sana enggak ada soal seperti itu. Soal itu, New York kurang (Tertawa).
Itu refleksi dari setahun saya di Amerika yang belum bulat sebenarnya. Dalam arti, aku juga enggak tahu efeknya ke Melbi dari refleksi itu gimana. Tapi kalau secara general, aku lihat dari segi teknis kita enggak kalah jauh. Tapi kalau soal rambahan estetis, ya masih jauh lah kita.

Tanggal 27 Juli besok Melbi bakal konser lagi setelah setahun vakum, seberapa penting konser ini?
Sebenarnya ini kan karena tugas mana yang mau kita wujudin. Dan kebetulan kita udah terlanjur janji sama pendengar Melbi. Jadi harus tanggung jawab lah kalau udah janji. Konser ini buat bayar utang lah ibaratnya.

Kabarnya ini juga bakal menjadi konser perpisahan Melbi lagi karena bung Ugo mau melanjutkan studi lagi, benar begitu?
Kita konser perpisahan terus ya? (Tertawa) Ya tapi ini kaya another konser perpisahan karena kecelakaan istilahnya. Just another konser kok ini. Sebenarnya kita di tahun 2007 juga cuma konser sekali. Tapi dulu kan belum ada twitter, jadi beda sama sekarang. Kalau sekarang, karena ada twitter jadinya semua orang ribut, “Eh Melbi konser sekali doang tahun ini” ya macem-macem gitu lah.
Dibilang kecelakaan karena ya aku mau studi lagi dan berangkat hari pertama lebaran. Yennu juga akan tampil ke Centre Stage pada Juni-Juli 2012 besok. Tapi kaya gini harusnya jadi pelajaran buat kita. Kalau emang konsepnya mau artists collective dan bukan band, ya harus memperluas logika itu. Sebagai kolektif, harusnya punya lima vokalis. Jadi kalau emang aku enggak cocok buat nyanyiin sebuah lagu, bisa diganti yang lain. Aku disini kan menempatkan diri sebagai penulis dan pengarang, bukan vokalis. Gampangnya, kalau enggak cocok kenapa harus gue yang nyanyi. Tapi di tahun 2002-2003 dipaksa nyanyi, yaudah terima aja (Tertawa).

Tadi bung Ugo bilang No Fucking Celebrity dan mengutuk istilah frontman. Tapi bukankah kalau begini terus Melbi bisa kejebak pada kutukannya sendiri? Jadi sebuah mitos yang diagung-agungin, konser aja setahun sekali.
Di titik lain, hal kayak gitu emang enggak bisa dihindarin. Kalau dilihat follower twitter kita misalnya ada 900 orang. Aku bayangin jaman SMA ada 1600 murid, kalau 900 itu ya kenal dua angkatan lah (Tertawa). Masih bisa diterima sebagai sebuah keluarga kecil. Lagipula hubungan kita sama pendengar atau yang nonton sangat direct kok, kita bukan mitos. Aku percaya kita masih berada di track yang benar dalam menolak star system. Yang seneng pun akhirnya jadi temen buat kita.
Dulu sempet mikir bikin konser tunggal itu sesuatu yang menakutkan. Tapi lama-lama mikir, “Udah nyantai aja, gak mungkin terkenal juga kok (Tertawa)” kita kan enggak pernah manggung di depan ribuan orang juga. Tapi emang setelah konser di Salihara dan Tembi, kita jadi sadar kalau ternyata keluarga kita udah jadi besar.

Bung Ugo akan mengambil studi apa sampai harus meninggalkan Melbi lagi?
Tahun kemarin statusku kan hanya visiting scholar. Jadi mengunjungi kelas-kelas tapi tiap bikin paper enggak bisa dilihat sama profesor karena statusku itu. Makanya aku mikir risetku enggak bakal rampung kalau begini caranya, dilihat aja enggak. Maka aku nyari beasiswa buat jadi graduate student, jadi paperku bisa dilihat dan dikasih masukan sama profesor di sana.
Kebetulan aku dapet beasiswa dari program Erasmus Mundus dengan program yang sama yakni performance studies. Aku bakal studi di Universitas Amsterdam satu semester untuk kemudian lanjut ke Warwick University di Coventry, Inggris.

Tulisan Ardi Wilda yang lain tentang Melancholic Bitch bisa dibaca ulang di: http://www.jakartabeat.net/musik/kanal-musik/ulasan/355-melancholic-bitch-lirik-terbuka.html

Kamis, 16 Juni 2011

Profile Band



Melancholic Bitch (d/h bernama On Genealogy Of Melancholia), mula-mula adalah laboratorium kecil yang dibangun oleh Ugoran Prasad dan Yosef Herman Susilo di tengah aktifitas mereka di Performance Fucktory pada tahun 1999. Sejak tahun 2000, ruang eksperimen ini mulai dimasuki berbagai seniman lain, sekedar singgah (di antaranya: Jompet Kus Widananto, Moh. Marzuki a.k.a KilltheDJ, Werko Kowena, La Konde, Anton W.A) atau yang datang untuk menetap : Teguh Hari Prasetya, Yennu Ariendra, Septian Dwirima, Richardus Ardita dan Pierna Harris. Cerita mereka cukup panjang, terlalu panjang untuk diceritakan ulang; juga tak terlalu penting. Singkatnya; mereka sudah muncul sejak jaman Parkinsound masih rutin diadakan tahunan; sesekali main band di panggung lokal, sesekali main di luar kota, sesekali main musik untuk performance dan teater, sesekali main musik untuk film, tapi lebih sering duduk-duduk, bercanda, saling memusuhi lalu berdamai sebelum permusuhan berikutnya. Sebuah band, bagaimanapun, cenderung meniru sebuah keluarga. Mengutip Anna Karenina: Seluruh keluarga bahagia selalu sama; keluarga tidak-bahagia, selalu tidak berbahagia dengan caranya masing-masing. Keluarga tidak berbahagia yang sering disingkat namanya menjadi Melbi ini disfungsional, retak, tapi selalu punya alasan untuk berkumpul di hari raya. Hari raya yang sibuk mereka ciptakan sendiri.

Hari raya baru mereka di antaranya, ditandai oleh keterlibatan mereka di pertunjukan Waktu Batu #3: Deus Ex Machina and My Feeling For You (produksi Teater Garasi (2004), dipentaskan di Jakarta, Singapore, Berlin dan Tokyo antara 2004-2006), produksi LP pertama mereka Anamnesis (Love Records, 2005) yang kemudian di rilis ulang menjadi  Re-Anamnesis (Pintu Kecil, 2013), dan Balada Joni dan Susi (Dialectic Record, 2009), sebuah album-konsep yang berkisah tentang petualangan sepasang kekasih dalam mewujudkan impian mereka di tengah dunia yang semakin mencekik. Untuk karya yang disebut terakhir ini, Rolling Stone Indonesia mengganjarnya sebagai satu dari 20 album Indonesia terbaik 2009. 

Bisik-bisik di lingkungan penonton mereka menyebut band ini sebagai band-hantu; mereka senang dengan term ini terutama karena tanpa sengaja --terutama disebabkan karena kesibukan personilnya—mereka tak bisa sering muncul di panggung band. Melancholic Bitch adalah sebuah keluarga-bentukan yang mendorong berbagai potensi di dalam dirinya lebih jauh dari sekedar sebuah group untuk bermusik. Maka mereka membebaskan Ugoran Prasad untuk menekuni kerjanya sebagai fiksionis dan berkelana demi menempuh pendidikan sebagai periset-pertunjukan, mendorong proyek-proyek musik Yennu Ariendra sebagai komposer dan musik director (diantaranya bersama Teater Garasi dan Belkastrelka), atau memberi ruang bagi eksperimen dan rekam kerja Yossy Herman Susilo sebagai sound-engineer. Hal serupa juga berlangsung pada Teguh Hari (kini hiatus), Septian Dwirima  (music director pada beberapa proyek pertunjukan), Richardus Ardita (bermusik bersama Shoolinen, Individual Life, dan Armada Racun), Pierna Haris (saat ini sedang di berkelana di U.S.).

Latar di atas memang membuat mereka pada dasarnya tak menjadikan kuantitas album dan frekuensi main di panggung sebagai ukuran kebersamaan mereka; lebih jauh, kecenderungan pada ukuran kuantitatif ini sebisa mungkin ingin mereka hindari. Keluarga yang semakin lama semakin membesar ini memutuskan untuk menempuh jalan sebagaimana yang diambil oleh rekan-rekan mereka sesama seniman di komunitas Teater Garasi, yakni lebih dulu memperjuangkan karya sedalam-dalamnya daripada target dan mantra pabrikan yang “sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya”. Akibat negatifnya, tentu saja, lingkungan penonton dan rekan-rekan mereka terpaksa menunggu lama kehadiran album dan pertunjukan mereka; sesuatu yang menurut Jakartabeat.com membuat mereka tampak seperti band cult. Sebaliknya, akibat positif dari hal ini bukan tak ada. Sebagian pertunjukan dan konser-penuh mereka adalah hasil dari kelola seluruh unsur pertunjukan yang tereksekusi dengan maksimal dan matang, entah itu dari dimensi performer, tata suara, tata ruang, lampu, teks pertunjukan sampai dramaturgi. Konser-penuh Balada Joni dan Susi di gedung parkir Koran Tempo (produksi bersama Kelas Pagi Anton Ismael, Jakarta, 2009), studio Yayasan Bagong Kussudiarja (prod. bersama Kua Etnika, Yogyakarta 2009), Teater Salihara (prod. bersama Teater Salihara, Jakarta, 2010), Langgeng Art (prod. Kongsi Jahat Syndicate, Yogyakarta, 2011) adalah deret dari serangkaian konser berkelas itu. Terakhir, paska peluncuran Re-Anamnesis (2013), mereka melebur seluruh teks dari kedua album mereka dan memperkenalkan satu konser penuh dalam durasi 1 jam 45 menit, sebagaimana yang pertama kali mereka mainkan di konser spesial #MenujuSemesta (prod. Limunas dan Djarum Black, Bandung 2013), pertunjukan pertama mereka di Bandung sejak 13 tahun terakhir.  Diluar semua itu, bisik-bisik menyebut mereka sudah mulai mengedarkan draft demo proyek mereka terbaru yang rencananya akan dirilis di tahun 2014.

Cerita mereka, sepintas bagi yang tak awas tampak terputus-putus, dipastikan bersambung […]

16 jun 2013

Rabu, 11 Mei 2011

Dari Rlinggaisnatan


Ketika Joni dua satu dan susi sembilan belas,
hidup sedang bergegas di reruntuh ruang kelas
kota-kota menjalar liar dan rumah terkurung dalam kotak gelas,
dingin dan cemas.
Namaku Joni,
namamu Susi.
Namamu Joni,
namaku Susi.

Bait pendek di atas adalah perkenalan, intro dari dua tokoh imajinasi, Joni dan Susi, dalam rangkaian repertoar Balada Joni dan Susi, sebuah karya teater yang dikemas dalam sebuah cakram padat 12 lagu berisi dentuman psychedelic ala Melancholic Bitch.

Agak menyesal ketika baru tahun 2009, dan baru di album BJS, mengenal band aneh dari Jogja ini. Sebenarnya banyak band aneh di Jogja, cuma aku belum pernah bertemu band yang saking anehnya hingga membuatku kepincut. Dengan konsep teatrikal album ala Melbi, risih untuk sekedar menyebutnya sebagai sebuah band. Apapun itu.

Cholil ERK pernah menyebut musik Melbi sebagai musik Efek Rumah Kaca untuk tingkat yang lebih advanced.

Musiknya sebenarnya sangat sederhana, katanya sih. Tapi rasanya kok sederhana disini bukan ditujukan untuk telinga awam. Sedikit tersinggung. Sekali dengar, susah untuk langsung mengerti, apalagi suka. Pun demikian denganku, untungnya naluri untuk menyukai berlanjut. Hingga aku bisa benar-benar mampu menikmati musik mereka. Beruntung.

Aku bukan orang sastra ataupun teater, hanya punya kapasitas memahami lirik-lirik yang ditulis oleh Ugoran Prasad, secara ringan saja. Artinya, jangan harap aku mau menjawab pertanyaan tentang apa maksud dari Album BJS ini. Kalau dipaksa menjawab, jawabannya ya… Album ini tentang Joni dan Susi. :) 

Jika diibaratkan dengan sosok manusia, maka Melbi adalah seorang pintar yang senang membicarakan hal serius, tapi masih jadi teman bicara yang menyenangkan dan tak intimidatif. (RollingStoneINA)

Tembi Rumah Budaya, 9 Agustus ’10, untuk pertama kali (dan terakhir, tahun ini, semoga) aku melihat langsung seperti apa sebenarnya Melbi. Terakhir? Maksudnya, penampilan terakhir Ugo di Melbi, taun ini. Karena Ugo akan segera terbang terbang ke New York, Beasiswa studi seni katanya. Rasa penasaran terjawab. Sangat luar biasa, mengingat sebelumnya hanya bisa melihat mereka melalui streaming di youtube. Maklum, band ini bukan banci tampil. Jangan harap mereka tampil di acara pentas seni anak SMA. Ga ada yang nonton nanti.

Di acara milik Kongsi Jahat Syndicate ini, Ada Tika, Lani, Wok the Rock, Mbak Silir di panggung. Di bangku penonton terlihat beberapa wajah langganan di kalangan seniman Jogja, salah satunya Djaduk Ferianto, dedengkot Kua Etnika, yang juga pendukung dalam produksi album BJS. Komplit. :)

Banyak yg kemudian bertanya, “Katanya bagus ya Ling kalo Melbi tampil live?”
Bingung, soalnya sama sekali belum pernah liat langsung sebelumnya.
Jawab asal aja, “Ya kalo jelek ga akan nonton”.

Nyaman rasanya, ada sesuatu yang berkualitas dan layak dicintai di tengah kerumunan penyembah berhala.

“Bersama-sama kita, bersama selama-lamanya, bersama-sama selamanya”.
Ada sisi romantis di album ini,
tapi tak perlulah untuk diceritakan disini. :)
Distopia.