Sabtu, 30 September 2017

Review | Kitab Ajaran Keluarga Para Jalang Melankolis

Kitab Ajaran Keluarga Para Jalang Melankolis

 Arasy Aziz
Ada sebuah shelter bus Trans Jogja di ujung selatan kawasan Malioboro, berdiri berhadap-hadapan dengan Taman Pintar. Pada hari-hari yang riuh, akhir pekan yang panjang, shelter itu akan penuh sesak dengan calon penumpang yang hendak beranjak ke ragam penjuru angin Jogjakarta. Antrean bisa mengular hingga ke tangga landai yang ujungnya menyatu ke permukaan trotoar. Beberapa menit sekali, bus Trans Jogja akan singgah mengangkut penumpang.
Jika bus-bus yang datang dari timur telah sama penuhnya dengan isi shelter, maka antrean panjang itu harus bersabar sekali lagi. Hanya satu dua akan terangkut. Sisanya terpaksa melengos beberapa kali. Menunggu bus yang datang belakangan.
Lalu bus yang lebih lengang tiba. Penumpang naik satu per satu, dan udara di shelter sempit kembali melegakan.
Dalam sejumlah lawatan ke Jogja, saya beberapa kali menumpang Trans Jogja dari shelter di depan Taman Pintar itu. Biasanya setelah seharian mengeluyur sendirian di Malioboro dari ujung ke ujung. Perjalanan mengelayap umumnya akan saya akhiri di pasar buku di belakang Taman Pintar, mencomot beberapa buku untuk di bawa pulang. Berjalan kaki dari pasar menuju shelter memakan waktu kurang dari 3 menit.
Namun pada kunjungan ke Jogja di bulan Januari 2014, situasinya berubah sedikit berbeda. Menunggu bus datang di shelter yang sama terasa nelangsa detik demi detik. Kala itu saya memilih bersandar di salah satu sisi pintu penaikan-penurunan penumpang yang hampir tak pernah tertutup. Beruntungnya, halte pada hari-hari itu cukup lengang. Cuaca Jogja tak begitu panas, bahkan cenderung abu-abu. Mendung.
Mata saya tak lepas dari kendaraan yang mencoba membelah jalanan sekencang mungkin, sebelum hujan benar-benar turun. Tak ada yang mau terjebak hujan di jalanan. Mata saya tak lepas, namun pikiran saya sedang tidak ada di sana. Tidak di jalanan itu, tidak di dalam shelter. Tidak sekalipun mengekor sepeda motor yang berlalu. Saya memang terserang sakit jiwa tingkat pertama waktu itu. Suasana di sekitar shelter yang sesungguhnya baik-baik saja berubah menjadi serba sentimentil.
Lalu hujan akhirnya benar-benar turun.
Pada saat itu, sayup-sayup intro “Departemental Ditties and Other Verses” mulai terdengar. Lalu sealbum penuh “Re-Anamnesis”, milik Melancholic Bitch (Melbi). “We are very slightly change…”


Sejak saat itu, segala tentang Melbi menjadi serba melekat pada suasana shalter busway di selatan Malioboro itu. Pada sendunya yang remang-remang, sebelum dindahkan ke dalam ragam situasi yang lain. Eksistensi fisikal shelter yang tiga dimensi barangkali telah samar-samar, namun saya menyimpannya sebagai sebuah kategori perasaan tersendiri.
Lagu-lagu Melbi diramu untuk mengiyakan kegelisahan a la shelter itu. Memperbincangkan cinta dengan cara dan sudut pandang tak jamak. Makna literer shelter sebagai tudung perlindungan dimaknai ulang sebagai cukup ruang personal untuk memahami kegelisahan. Menciptakan rasa aman yang hadir dari penerimaan dan usaha untuk mengerti.
Lalu pada putaran lagu-lagu Melbi yang kedua, saya mulai menyimak liriknya dengan saksama. Setiap katanya seolah dijahit berdasarkan riset puluhan tahun atas kebudayaan manusia. Setiap katanya dipilih secara hati-hati sebagai sajak, sebelum ditimpali dengan bebunyian dari instrumen yang kaya. Di dalam musiknya saya temukan instalasi cermin untuk sebuah refleksi.
Pada putaran ketiga dan selanjutnya, yang terjadi adalah adiksi menahun.
Sebagaimana terhadap banyak band favorit, saya diam-diam mulai menyimpan asa untuk menyaksikan band ini secara langsung, hadap ber hadapan. Masalahnya, Melbi sendiri bukanlah band yang mudah ditemui. Sebagaimana lagu-lagunya mengubah sebuah shelter Trans Jogja menjadi imaji tak terjelaskan yang melulu kontekstual, eksistensi band ini pun hampir sama abstraknya.


Konon sejak merilis “Balada Joni dan Susi” -album penuh kedua mereka- pada tahun 2009, penampilan live Melbi dapat dihitung dengan jari sebelah tangan. Personelnya lebih banyak berkutat dengan urusan masing-masing. Salah satunya melanjutkan studi ke luar negeri, yang lain berkeliling Indonesia sebagai sound engineer. Mite tentang Melbi diperbincangkan kasak-kusuk, sementara bandnya, sebagaimana istilah yang dipergunakan banyak media, memasuki fase hidup segan mati tak mau.
Namun pada suatu hari, tanpa gerhana atau meteorit, laman media sosial mereka mendadak genit kembali dan sibuk bercuit-cuit. Melbi menggoda penggemarnya dengan isyarat kelahiran sebuah proyek baru. Lalu tanggal konser pada permulaan September segera ditetapkan. Yang membahagiakan dua kali lipat, konser tersebut sekaligus menjadi ajang peluncuran album mutakhir mereka setelah 8 tahun, NKKBS Bagian Pertama.
::
Saya tiba di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM 15 menit kurang pukul 7 malam. 12 jam sebelumnya, saya masih menunggu kereta api di stasiun Senen.
Pintu arena pertunjukan masih tertutup sekenanya. Selain para penjaga pintu, aktivitas panitia hanya tampak di booth penukaran dan pembelian tiket. Sementara orang-orang yang menunggu menyemut hingga ke halaman parkir. Saya memilih merebahkan diri di salah satu pojok yang lengang dekat pintu masuk. Ketika pukul 7 terlampaui, belum ada tanda-tanda pintu akan dibuka. Saya melanjutkan apa yang telah saya lakukan sejak pertama kali tiba; mengamati detil-detil album baru Melbi di tangan saya.
Nomor-nomor di dalam NKKBS Bagian Pertama dijuduli dengan cara yang ganjil. Umumnya terdiri atas dua kata atau frasa, dengan dipisahkan koma di tengahnya. “Normal, Moral”, “Dapur, NKK-BKK”, “Aspal, Dukun”, “Selat, Malaka”, semisal. Satu-satunya lagu dengan judul yang memenuhi unsur sebuah kalimat normal tersisa di akhir album, “Lagu untuk Resepsi Pernikahan”. Saya menebak-nebak alasannya. Jika mengingat-ingat kebiasaan artistik Melbi, cara penulisan ini barangkali adalah sebuah detil metaforis yang tak lepas dari tema umum album itu sendiri.
Lamunan saya buyar ketika para penjaga pintu mulai sahut menyahut menyilakan orang-orang untuk masuk ke gedung. Saya bergabung ke dalam antrean masuk.

Malam itu, Interior PKKH dibalut dengan kain hitam sepenuhnya. Kami harus melalui koridor, sebelum kain hitam panjang itu menemui ujungnya.  Di sisi dalam telah berdiri sebuah panggung besar dengan instalasi patung yang terbungkus terpal, dililit berutas tambang. Sayup-sayup diperdengarkan lagu mars Keluarga Berencana (KB) lewat pengeras suara. Sementara di latar panggung diproyeksikan potongan gambar dari proyek seni rupa “Indonesian Family Potrait Series” karya Akiq AW. Syahdan, NKKBS Bagian Pertama terinspirasi dari serangkaian intalasi ini.
Tepat pukul 8, Nadya Hatta yang mengisi seluruh bagian keyboard dalam album ini naik ke panggung. Ia mulai memainkan sejumlah nada, sebelum vokalis Melbi yang kesohor itu menyusul naik. Dari kerongkongannya yang penuh asap sigaret, mulai berdengung lirik yang segera saya kenali.
We are very slightly change / From a semi apes who range / India’s prehistoric clay / India prehistoric clay //”
Departemental Ditties didapuk sebagai intro konser. Saya menyeru sendiri dengan haru tertahan mengiringi Ugo bernyanyi. Pada nada terakhir, konser berlanjut dengan resital seluruh isi album NKKBS Bagian Pertama, dari awal hingga lagu terakhirnya.
::
Mendengarkan NKKBS Bagian Pertama ibarat membaca sebuah laporan penelitian sosial komprehensif mengenai struktur sosial masyarakat Indonesia sejak merdeka. Di dalamnya, Orde Baru ditempatkan berdiri di tengah-tengah, membagi titi mangsa sejarah kebangsaan diantara pendahulu dan setelahnya.
Konteks NKKBS Bagian Pertama rasanya telah dimulai jauh semenjak bulan-bulan jelang kemerdekaan. Pada sebuah perdebatan di BPUPKI, Prof. Soepomo mengajukan sebuah konsep kontroversial mengenai bentuk negara yang hendaknya dianut Indonesia kelak. Ia menyebut dengan malu-malu Jepang dan Jerman, dua negara yang notabene mengawali kekacauan Perang Dunia II, sebagai sumber inspirasinya. Malu-malu, karena sebelum terlalu jauh dituding mencomot gagasan fasis, Soepomo buru-buru berkilah bahwa konsep yang ia bawa tak sepenuhnya sebangun dengan idelogi itu. Yang hendak ditekankannya adalah betapa negara haruslah mencakup segala tanpa terkecuali di dalam sistem yang meniru dinamika keluarga. Pemerintah menjalankan lakon sebagai seorang ayah.
Salah satu konsekuensinya, konstitusi Indonesia kelak tak perlu memuat klausul-klausul mengenai Hak Asasi Manusia (HAM). Selain dituding kelewat liberal dan kebarat-baratan, perlindungan HAM sudah menjadi wewenang intrinsik pemerintah, tanggung jawab moral struktural, sehingga tak perlu diucapkan secara formal di dalam perundang-undangan. Beruntung di dalam forum yang sama bermukim sosok Hatta dan Yamin. Ide ini, pada akhirnya, tak benar-benar diterapkan secara utuh.
Namun kerangka pengaman yang didirikan para pendiri bangsa dari bahaya laten integralisme itu rupanya tak benar-benar kuat. Mudah ditebak, karena hanya berwujud satu pasal di dalam UUD 1945. Kekuasaan tokoh-tokoh revolusi 1945 berakhir pada tahun 1966, beberapa bulan setelah peristiwa kontroversial G30S. MPR sebagai lembaga tertinggi negara pada waktu itu mengalihkan mandat pemerintahan dari tangan Soekarno kepada Soeharto, sang pahlawan G30S. Orde Baru berdiri di atas remah-remah rezim sebelumnya.
Di tangan Soeharto, konsep integralistik akhirnya menemukan dimensi praktikal. Di dalam monograf bertajuk “Pahlawan-pahlawan Belia: Keluarga Indonesia dalam Politik”, Saya Sasaki Shiraishi menggambarkan bagaimana sang Jendral berusaha memapankan posisinya sebagai bapak bangsa. Warga negara diperlakukan sebagai anak yang harus senantiasa manut terhadap standar moralitas rezim. Slogan Tut Wuri Handayani diwacanakan ulang sedemikian rupa dalam relasi kuasa a la militer, sehingga kepatuhan setiap orang menjadi tak bersyarat. Segala bentuk penyimpangan sudah sepantasnya dihukum sebagai bentuk kasih sayang. Pemahaman ini belakangan melegitimasi tindakan represif Orde Baru atas ekspresi yang bertentangan dengan haluan politik rezim, atau apa-apa yang dinilai dapat mengganggu stabilitas.

Dan negara yang dijalankan dengan prinsip kekeluargaan membawa konsekuensi lain. Di dalam sebuah keluarga, batas-batas antara privasi anggotanya hampir-hampir samar. Keluarga adalah oikos itu sendiri, muasal pranata rumah tangga yang paling asali. Dengan demikian di dalam negara kekeluargaan, pemisahan antara yang privat dan yang publik berusaha dihilangkan. Negara perlu menyerobot dan mengontrol ruang-ruang paling pribadi warga negaranya dalam kedudukannya sebagai pemimpin pranata keluarga.  Mereka perlu tahu siapa gadis yang dibawa anak laki-lakinya ke dalam kamar, dan pada pukul berapa mereka bersenggama. Negara harus tau masakan apa yang di masak ibu hari ini. Negara perlu mengetahui berapa anakmu, dan kalau perlu, mengatur jumlahnya.
Konsep keluarga ideal pada akhirnya menjadi wacana dominan dalam sentrum politik Indonesia, dan semakin mapan di era Orde Baru. Melalui beragam kanal, ia menelusup sebagai doktrin yang menjamah sub-sub kesadaran manusia Indonesia. Sekalipun tatanan Orde Baru telah berakhir hampir 20 tahun silam, gaungnya tetap terasa hingga hari ini. Bagi mereka yang lahir dan bertumbuh sebelum ’98, kesadaran itu barangkali masih utuh. Namun bagi generasi yang lebih muda, pengetahuan sadar mengenai daya rusak Orde Baru hanya dapat dikenali melalui informasi pihak kedua, ketiga.
Narasi besar album NKKBS Bagian Pertama kemudian menjadi peretas bagi gap ingatan antar generasi itu. Fokus utamanya memang tentang pembacaan kritis atas konsep keluarga a la Orde Baru. Namun apabila ditimbang-timbang, NKKBS justru telah beranjak kepada sebuah epos yang hampir lengkap mengenai percobaan rekayasa sosial yang berusaha ditutupi rezim dengan gincu pembangunan. Kadang-kadang tekstual, namun lebih banyak disampaiakn dengan majas dan lelucon gelap, dingin.
Sejak track pertama, saya dibawa kepada banyak tinanda tandingan atas diksi-diksi yang kerap digunakan Orde Baru di dalam demagoginya. Kita tahu, kata “hantu” selama Orde Baru terpersonifikasi di dalam propaganda anti Komunisme, agar ideologi yang disebut belakangan terus-terusan hadir sebagai musuh bersama. Melbi mengajukan “Bioskop, Pisau Lipat” sebagai single pertama album NKKBS. Sebuah balada tentang memakai “bendera sebagai seragam,” ketika “digelandang ke bioskop jam 9”. “Bioskop, Pisau Lipat” dirancang untuk lebih mudah dicerna dan dinyanyika ulang, dan dengan demikian, membangkitkan sebuah trauma kolektif masa sekolah dasar.
Pendekatan hantu Orwellian a la Orde Baru tidak hanya berkutat pada wacana anti komunisme. Ia meraba jauh ke sela selangkangan, ke atas tubuh perempuan. Di dalam “Normal, Moral”, pelekatan gaib sang “hantu” dialihkan pada subyek guru Pendidikan Moral Pancasila yang hadir di “ranjang tempat kau bercumbu,” dan “tidak senang mendapati istrimu tak lagi perawan.” Sang guru adalah wakil dari big brother yang mengonstruksikan alam bawah sadar manusia Indonesia dengan gagasan tentang keperawanan sebagai prasyarat ideal seorang wanita lajang.
Ajaibnya, beberapa hari setelah album ini dirilis, seorang hakim mengusulkan tes keperawanan sebagai prasayarat pernikahan. Apabila seorang perempuan gagal melaluinya, negara dapat mengambil tindakan preventif dan represif. Novum maha tolol ini diklaimnya dapat menekan tingkat perceraian, sehingga laki-laki tak perlu rugi menikahi wanita yang tak lagi perawan. Si hakim adalah dokumentasi aktual dari generasi yang merawat nilai-nilai yang tengah dicemooh Melbi. Saya terpukau dan hampir-hampir mengira bahwa Ugoran Prasad dan kolektifnya memang merupakan sekumpulan nabi.
Keberlanjutan wacana politis Orde Baru dalam situasi kekinian dapat dibaca di lagu lain. Nomor “666,6” dinyanyikan sebagai kritik gamblang terhadap rendahnya literasi dan kemahiran saintifik masyarakat Indonesia, dibanding penguasaan mereka terhadap kitab suci. Kecenderungan yang muncul belakangan di kalangan orang beriman justru skeptisisme atas perkembangan ilmu. Perdebatan tidak perlu mengenai bentuk bumi kembali mengemuka ke ruang publik setelah ratusan tahun. Lagu tersebut dijuduli dengan epigram jumlah ayat Al Quran, seolah-olah menunjukkan adanya pemahaman yang terbalik tentang relasi agama dan akal sehat.
Yang berbahaya, kemalasan membaca itu berbanding lurus dengan syahwat untuk memaksakan moralitas agama sebagai standar retribusi hukum. Lelaku masyarakat dinilai berdasarkan “apa yang surga, apa yang neraka.” Artinya, peran agama semakin di dorong untuk masuk ke urusan polis secara utuh.

Apa yang terjadi hari ini barangkali adalah buah dari pergeseran konstituensi Orde Baru pada dekade terakhir rezim. Sejak 1965, Angkatan Darat (AD) menjadi lengan politis utama Soeharto. AD membantunya membangun fundamen-fundamen dasar pemerintahan, dimulai dari elemen-elemen  prinsipil hingga ke dalam praktik birokrasi. Namun di akhir ’80-an, sang jendral memutuskan memperbaiki hubungan dengan kaum islamis yang selama ini dipecundanginya.
Robert Hefner di dalam “Civil Islam” menyebut, rekonsiliasi ini bermula oleh keputusan Soeharto untuk menunaikan ibadah haji. Haji notabene adalah rukun agama yang memiliki kuasa labeling penting dalam pergaulan sosial masyarakat Indonesia. Dapat diartikan, sang jendral berusaha meminimalisasi citra sekular dan kejawen yang selama ini dia tunjukkan, dengan meraih status sosial tertentu. Soeharto kemudian menyokong pendirian pranata-pranata sosial berbau keislaman, sekalipun tidak mengiyakan seluruh tuntutannya, termasuk Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).
Di akhir kekuasaan Orde Baru, ketika huru-hara krisis ekonomi mulai terjadi, militer diam-diam membentuk unit-unit kombatan sipil di bawah naungan program Pamswakarsa. Komposisinya terdiri atas beragam latar belakang ideologi dan sosial, termasuk kaum islamis. Pada hari ini, ketika mereka yang menklaim bernafas Pancasila tampak kekurangan ekspos kamera, kolektif yang disebut belakangan justru semakin berkembang dalam kecepatan yang mengkhawatirkan, serta aspirasi politik yang vulgar; membentuk tatanan sipil berdasarkan “apa yang surga, apa yang neraka.”
Selain kekayaan wacananya, NKKBS Bagian Pertama juga melangkah lebih jauh dalam ekplorasi musikalitas. Dua album pendahulunya dihidangkan dengan rona yang lebih gelap, meminjam unsur-unsur psychedelic dan post-punk ’80-an. Di dalam NKKBS, Melbi melakukan pengayaan dengan musik rock yang lebih segar dan bergerigi. “Aspal, Dukun” mengocok gitar dan melengking dengan sentuhan rockabilia, sehingga terdengar menyenangkan untuk didengarkan sembari berkendara di jalan raya. Kebetulan, lagunya bertutur tentang franchise toko serba ada yang berkembang biak mengikuti pertumbuhan aspal. Masuk ke pelosok-pelosok, hingga dituding sebagai “jimat orang kota.”
Dengarkan pula nomor penutup “Lagu untuk Resepsi Pernikahan” yang menggelikan. Struktur nadanya memang memenuhi kriteria ideal lagu pengiring pengantin, namun liriknya membawa pesan yang jomplang. Ia mencerca praktik resepsi pernikahan hari ini yang gemerlap, namun menyisakan utang. “Cinta…” ujarnya “diseret paksa” sehingga pelaminan dapat terisi oleh pasangan yang berbahagia. “Lagu untuk Resepsi Pernikahan” menjadi bab akhir bagi NKKBS Bagian Pertama dengan simpulan yang cenderung melankolis atas institusi keluarga.
::
11 lagu di dalam NKKBS Bagian Pertama purna dibawakan Melbi dalam 46 menit. Enam orang di atas panggung memohon undur diri. Namun pertunjukan belum selesai. 10 menit berselang, para personel Melbi kembali ke atas panggung dengan kaki-kaki yang lebih segar.
Jika pada sesi pertama penonton lebih banyak tergagu, sesi kedua konser NKKBS ibarat pelukan panjang pelepas rindu para penggemar Melbi. Sungguh hangat dan karib.

Sebuah intro panjang digaungkan, menemani salam-salam Ugo kepada mereka yang menunggunya. Berturut lelagu penting mulai dinyanyikan dari kerongkongannya yang masih penuh asap. “Akhirnya Masup Tipi”, “Tentang Cinta”, “7 Hari Menuju Semesta”, “Mars Penyembah Berhala”, “Sepasang Kekasih yang Bercinta di Ruang Angkasa”, “The Street”, “Menara” hingga “Nasihat yang Baik”. Sepanjang set kedua, gedung PKKH riuh dan penuh oleh paduan suara dadakan para penonton.
Saya sendiri terus bernyanyi kesetanan seperti orang-orang yang lupa jalan pulang. Diam-diam, NKKBS mengganti imaji tentang shelter Trans Jogja di selatan Malioboro. Yang tersisa dari sana adalah refleksi yang menerus, sementara kegusarannya menguap ke udara. Meluruh sepenuhnya dengan lampu sorot warna-warni dan keringat beterbangan. Saya melompat dengan beringas ke kanan dan ke kiri, ke depan ke belakang, setengah lupa bahwa di sekitar saya masih ada orang lain. Mengacungkan lengan di “Mars Penyembah Berhala”, berteriak-teriak semaunya. Merekam “Sepasang Kekasih yang Bercinta di Ruang Angkasa” untuk pacar yang batal turut serta karena acara keluarga mendadak. Sang terang, bagaimanapun, harus tetap merasakan secuil atmosfer NKKBS.
Saya bersikap seolah konser malam ini adalah konser terakhir Melbi dalam beberapa tahun. Atau seolah akan menunggu lama kembali untuk NKKBS Bagian Kedua.
Namun pada akhirnya, Melbi buru-buru menepis ketakutan ini. Konon, tidak akan ada lagi penantian hingga 7 tahun atau lebih. “Kita akan segera bertemu kembali,” tegas Ugo sebelum mengajak Melbi berpamitan yang sebenar-benarnya. (*)

Sabtu, 23 September 2017

Artikel | Melancholic Bitch: "Orde Baru Cerdas Ganti Baju"


Melancholic Bitch: "Orde Baru Cerdas Ganti Baju"

Melancholic Bitch: "Orde Baru Cerdas Ganti Baju"
Grup musik asal Yogyakarta, Melancholic Bitch. FOTO/Istimewa
23 September, 2017 dibaca normal 5 menit
Penantian delapan tahun terbayar tuntas selepas melihat mereka kembali lagi di panggung musik.
tirto.id - Ambalika Larasati tentu tak menyangka jika malam itu, Sabtu 9 September 2017 menjadi salah satu malam yang tak terlupakan. “Gue hampir nangis. Badan merinding liat tata suara, lampu, dan nyanyian-nyanyian intim yang memberi kesakralan,” begitu kira-kira isi pesan yang ia kirim kepada saya.

Ambalika jauh-jauh datang dari Jakarta untuk menyaksikan lahirnya kembali band veteran Yogyakarta, Melancholic Bitch yang pada 9 September 2017 lalu melangsungkan konser peluncuran album baru bertajuk NKKBS Bagian Pertama. Euforia terhadap Melancholic Bitch tak bisa disangkal semenjak mereka memutuskan kembali lagi ke studio, merekam materi, hingga akhirnya menyapa publik Yogyakarta yang sudah menantikannya.

Rencana pembuatan album baru kiranya sudah mereka susun sejak jauh-jauh hari. Antara bulan Juni dan November 2016, Ugoran Prasad, Yennu Ariendra, Richardus Arditta, dan Yossy Herman mulai membicarakan wacana tentang album baru yang menurut catatan, terakhir kali mereka rilis adalah saat Balada Joni dan Susi (2009). Pada Januari 2017, Melancholic Bitch melakukan workshop materi yang menjadi landasan komposisi tiap lagu di akhir bulan.

“Dalam album baru ini kami ketambahan personel baru yakni Nadya Hatta dan Danish Wisnu Nugraha. Semua berlangsung deras dan cepat seperti dikejar setan. Problemnya persis seperti itu, dikejar setan lalu bikin deg-degan. Dan belum tertangkap setan bukan berarti tidak akan tertangkap. Siapa tahu dia menunggu di kelokan. Maka kami memutuskan daripada pasif dikejar mending kami mengejar,” terang Ugo mengenai fase awal pembuatan album baru kepada Tirto.

Dalam album barunya, Melancholic Bitch mengusung keluarga sebagai tema utama. Mereka menelusuri apa dan bagaimana keluarga disusun serta dibayangkan secara sosial. Di Indonesia, salah satu manifestasinya adalah NKKBS.

Tajuk NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera) tak bisa dilepaskan dari jargon propaganda yang dilahirkan pemerintah Orde Baru di era 1980an. Lewat NKKBS, Soeharto bercita-cita menyelaraskan tujuan percepatan ekonomi dan persemaian ideologi politik Orde Baru melalui kehidupan rumahtangga.

“NKKBS mungkin saja dianggap barang lama, hasil produk Orba. Tapi tak semua barang lama basi. Orba misalnya, barang lama yang sepertinya enggak mati-mati. Cerdas ganti baju. Layaknya setan, Orba masih setia di balik setiap kelokan,” ungkap Ugo yang saat wawancara dengan Tirto berada di Sydney, Australia untuk menyelesaikan disertasinya.

Ketika ditanya apakah album ini mencerminkan sisi politis Melancholic Bitch, Ugo menjawab, “Enggak juga. NKKBS Bagian Pertama enggak lebih politis dari Balada Joni dan Susi atau Anamnesis. Kalau lebih lugas, mungkin.”

Selama proses pembuatan album, Ugo mengakui bahwa kurasi nada dan lirik saat menyusun komposisi adalah bagian terpenting agar tercipta hasil yang sesuai. Bahkan tak jarang beberapa lagu harus direkam ulang akibat terdapat lirik yang kurang tajam.

Total terdapat 10 lagu dalam NKKBS Bagian Pertama. Tiap lagu memberikan penggambaran khas dari situasi tertentu yang tak lepas dari benang merah keseluruhan. Misalnya dalam “Normal, Moral” yang kental akan simbol-simbol Orde Baru, mulai dari Babinsa hingga Pendidikan Moral Pancasila.

Begini bunyi liriknya: Pos Ronda Berencana/Babinsa Bahagia/Pak disepakpak para preman/Awas awas bahaya anjing gila/Ada guru Pendidikan Moral Pancasila.

Atau di “Cahaya, Harga” yang menyentil kondisi perekonomian dan kesenjangan dalam negeri (Radio mengumumkan kematian harga cabai/Bahan bakar minyak dicampur air untuk obat/Pusing pusing menahun sembuh dalam sekejap/Padamu negeri jiwa raga ampas kami/Radio mengumumkan kematian harga diri).

Sementara itu pada “Dapur, NKK/BK,” Melancholic Bitch bertutur tentang aksi militer dalam tragedi 1965 (darah kupu-kupu/tentara/Kota sudah dikepung tentara/Sudah dikepung tentara).

Tak ketinggalan pula melalui “666,6”, Melancholic Bitch ingin memperlihatkan kelakuan para begundal yang berkedok pembela agama (apa yang berdarah dan luka apa yang terengah tak pernah bisa kau kurung dengan sejuta kerudung/apa yang surga apa yang neraka/kumpul kumpul tukang pukul/benda-benda tajam tumpul/kumpul kumpul tukang pukul).

Namun di antara lagu lain, balada berjudul “Bioskop, Pisau Lipat” dianggap menjadi kekuatan penting dalam album NKKBS Bagian Pertama. Lagu tersebut terinspirasi oleh pengalaman Ugo ketika menyaksikan film propaganda Orde Baru, Pengkhianatan G30S/PKI. Jika dikaitkan dengan situasi terkini, lagu “Bioskop, Pisau Lipat” kiranya relevan untuk didengar.

“Pada titik tertentu relevansi adalah kerja politik (negara, media, warga) agar sesuatu menjadi relevan. Tapi subyek propaganda ini sebagai problem yang berkelanjutan, agak berbeda. Misalnya, kerja IPT (International People Tribunal) 65 belum selesai dan perjuangannya masih harus diteruskan.

Terus ada jargon-jargon yang terus jadi hantu hari ini, berkat keberhasilan propaganda Orba. Ini problem berkelanjutan. Kekusutan politik sejarah membuat kita akan sulit memahami hari ini, apalagi besok,” terang Ugo.

Baca juga: Memahami Selera Musik Milenial

Keseluruhan lagu di NKKBS Bagian Pertama digarap oleh Ugo, yang mengibaratkan menulis lirik lagu tak ubahnya kegiatan belanja di pasar atau supermarket. Mulanya membuat daftar namun di tengah-tengah bisa saja terjadi improvisasi untuk membeli apa yang tidak tertera dalam daftar. “Akhirnya, kesetiaanku pada daftar adalah 60 banding 40.”

Bagi Ugo, perbedaan mencolok album ini dibanding Balada Joni dan Susi ialah ketiadaan penggebuk drum Septian Dwirima yang dalam kata-kata Ugo adalah "sosok drummer penuh magis". Menurut Ugo, ketidakhadiran Septian dirasakan sebagai kehilangan besar.

“Tapi di album ini kami kedatangan Nadya Hatta, keyboardist yang juga magis, serta Danish Wisnu, drummer yang energinya sangat muda. Hasilnya membuat kami merasa sedang mencuri usia. Ini sepertinya menjadi perbedaan mendasar,” terang Ugo.

Cita-Cita yang Belum Kesampaian

Melancholic Bitch dibentuk pada tahun 1999 oleh Ugoran Prasad dan Yosef Herman Susilo di sela-sela aktifitas mereka dalam proyek kesenian Performance Fucktory. Setahun kemudian menyusul masuk Teguh Hari Prasetya, Yennue Ariendra, Septian Dwirima, Richardus Ardita, dan Pierna Harris.

Melancholic Bitch sesekali mengisi panggung lokal, bermain di luar kota, meramaikan musik teater dan film, akan tetapi mereka lebih sering duduk bersama, bercanda, lalu berdamai sebelum memulai "permusuhan" berikutnya.

Dalam perjalanannya, Melancholic Bitch lebih menempatkan diri sebagai keluarga yang kerap mengutip kalimat pembuka novel Anna Karenina bahwa “seluruh keluarga bahagia selalu sama; keluarga tidak bahagia, selalu tidak berbahagia dengan caranya masing-masing.”

Sejauh ini Melancholic Bitch sudah menghasilkan beberapa karya dan terlibat pentas panggung. Untuk albumnya sendiri, Melancholic Bitch tercatat telah mengeluarkan Anamnesis (2005), Balada Joni dan Susi (2009), Lagu-lagu Yang Tidak Bisa Dipercaya (2011), serta album rilis ulang Re-Anamnesis (2013).

Album Balada Joni dan Susi, yang berkisah tentang petualangan sepasang kekasih mewujudkan impian di tengah peliknya dunia, diganjar sebagai satu dari 20 Album Indonesia Terbaik 2009 versi Rolling Stone Indonesia.

Sementara itu untuk urusan pementasan panggung sendiri Melancholic Bitch terhitung telah melakukan pelbagai pementasan mulai dari konser penuh Balada Joni dan Susi di gedung parkir Koran Tempo (diproduksi bersama Kelas Pagi Anton Ismael pada 2009), pementasan di Yayasan Bagong Kussudiarja (produksi bersama Kua Etnika pada 2009), pementasan di Teater Salihara (produksi dengan Teater Salihara, pada 2010), serta pementasan di Langgeng Art (produksi bersama Kongsi Jahat Syndicate pada 2011).

Tak hanya itu, Melancholic Bitch juga pernah terlibat dalam pertunjukan "Waktu Batu #3: Deus Ex Machina and My Feeling For You" (produksi bersama Teater Garasi pada 2004) yang dipentaskan di Jakarta, Singapura, Berlin, hingga Tokyo antara 2004 hingga 2006. Banyak beranggapan konser dan pementasan Melancholic Bitch merupakan hasil kolaborasi dari seluruh unsur pertunjukan mulai dari tata suara, ruang, cahaya, komposisi, teks, hingga dramaturgi yang tereksekusi dengan baik.

Secara gaya bermusik, Melancholic Bitch menolak untuk mendefinisikan sekaligus terjebak dalam putaran genre yang sudah akrab di khalayak ramai. Menurut Ugo, genre musik sebaiknya hanya digunakan untuk membantu saat belajar tentang ragam dan variannya. Tak lebih dan tak kurang.

Melancholic Bitch: \



“Perasaan kita awalnya main band karena enggak suka diseragamin di sekolah, kok begitu main band malah sibuk cari seragam baru. Ini indikasi dari bibit paramiliter dan parafasis yang berkerak di tubuh semua institusi sosial, termasuk jangan-jangan di musik juga ada hal semacam ini. Biar yang sibuk ngomong baju seragam itu kalo enggak pramuka ya kaum fundamentalis agama aja,” papar Ugo.

Meski demikian, Melancholic Bitch dikenal sebagai entitas musik yang kerap ‘menghilang’ dari peredaran akibat kesibukan masing-masing personelnya, entah itu di Teater Garasi Yogyakarta, membikin musik latar film, hingga proyek seni lainnya. Bagi para penggemar, Melancholic Bitch tak ubahnya mitos yang selalu dinanti.

Menanggapi hal tersebut Ugo berpendapat. “Ini patut dicurigai. Operasi mitos kan terjadi karena jarang keluar ke permukaan tapi sekalinya muncul jadinya menggelegar. Hal itu sebenarnya enggak ada urusannya sama nilai atau isi yang ada di dalamnya.”

Sementara ketika disinggung tentang karya-karya Melancolic Bitch yang dianggap monumental bagi perkembangan musik Indonesia, Ugo justru mengungkapkan keengganannya disebut demikian.

“Karya yang monumen itu phallic, konstruksi patriarki, dan wujud glorifikasi. Sungguh seram kalau kami dianggap bikin karya monumental dan terus kegeeran sendiri, lalu mematut matut diri supaya cocok dengan anggapan ini. Bagi kami hal itu sangat ngeri.”

Album sudah ada, konser juga telah terlaksana. Untuk Melancholic Bitch, kiranya ada keinginan yang urung terlaksana.

"Sepertinya salah satu cita-cita kita yang belum tercapai itu malah kepengin jadi band."


Baca juga artikel terkait BAND atau tulisan menarik lainnya M Faisal Reza Irfan
(tirto.id - fri/win)

Jumat, 22 September 2017

Album review | 'NKKBS Bagian Pertama' by Melancholic Bitch

Album review: 'NKKBS Bagian Pertama' by Melancholic Bitch

Stanley Widianto The Jakarta Post
'NKKBS Bagian Pertama' by Melancholic Bitch (Melancholic Bitch/File)
The term Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (Prosperous and Happy Small Family) was a foundation on which Soeharto’s New Order regime issued the Keluarga Berencana (Family Planning) program.

Theoretically, Soeharto wanted to limit Indonesian families to just two children. In 1992, the program was encoded into law; its spirit — small family equals warranted prosperity — became the regime’s trademark.

Melancholic Bitch, the quiet storm of a band from Yogyakarta, has rekindled this once-virulent credo by immortalizing the Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera abbreviation, NKKBS, as the name for its third album, NKKBS Bagian Pertama (NKKBS Part One).

As the title implies, it will carry the NKKBS abbreviation through for the band’s upcoming records. In an interview with VICE, the writer, artist and frontman Ugoran “Ugo” Prasad said that he still had no idea how many records would constitute the NKKBS series.

The NKKBS comprises heady concepts for an album — family, childhood pains, childhood gains — but the band is no stranger to them. For example, its 2009 Balada Joni dan Susi (The Ballad of Joni and Susi) is a short story of a struggling couple that was committed to tape.

Born in the late 1970s, Ugo — like some of the other names on NKKBS I’s credits, including Yossy Herman Susilo (guitar), Richardus Arditya (bass), Nadya Hatta (keyboard), Yennu Ariendra (guitar/synth) and Danish Wisnu Nugraha (drums) — grew up nurtured by the regime, transforming it into a lived experience, a recalled observation.

On “Aspal, Dukun” (Asphalt, Shaman) an ecstatic cut of the album, the picture painted in the lyrics might seem opaque or even absurdist at first, but through Ugo’s vision, the song feels legitimately rooted in reality: “Aspal sampai di kampung terujung / Ini pasti jimat orang kota” (Asphalt gets to the end of the village / This must be the city people’s talisman).

And this is what you get from a Melancholic Bitch song. Its intermittent presence might be a good primer, but this is what the lyrics are supposed to do to you. They make you think, or, if you are like me, ready a bunch of Google tabs to ascertain the references within. But Ugo still steers his lyrics away from becoming a screed, obfuscating them enough to make you think twice.

Save for the title, the lyrics on the propulsive cut “Dapur, NKK/BKK” (Kitchen, NKK/BKK). This song mocks a regulation issued by the regime called Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (Normalization of a Campus Life/University Students Coordinating Body) and is twisted enough to make it hard for you to wrest a concrete meaning.

It tells of a baby born prematurely and subsequently being eaten by a dog. Then for some reason, there is a military strike, a village besieged. It is fun to parse this stuff, it may be double the work, but it is all in good fun.

In other places, there are references to the babinsa (village supervisory officers), hiked-up prices for daily needs, covert abuse of the education system and even the empat sehat, lima sempurna (four healthy, five perfect) diet campaign.

But the most important theme in NKKBS I is family, the smallest unit of social agents.

For example, “Selat, Malaka” (Strait, Malaka) repurposes the national hero Tan Malaka’s story to tell of a family member leaving his nest. With its staggering build-up, “Trauma, Irama” (Trauma, Melody) tells of a protagonist missing his mother and home after an unexplained ordeal.

Musically, this is one of the most manic, menacing Melancholic Bitch albums to date. The guitars swirl (“Normal, Moral”), the piano dances (“Selat, Malaka”), Ugo’s deep vocals glide (“Trauma, Irama”). Some songs end flippantly, sometimes with a piano exercise or a disquieting church organ. The music delivers contempt and anger when necessary, sadness when prompted. It is a dynamic, admittedly quite heavy, record to listen to in one sit-through.

But it towers over expectations. Melancholic Bitch is known for the wait it put its fans through. The wait is never unrewarded and that speaks of the band’s quality. What NKKBS I means for the band is not just a smooth re-entry into the scene. It is a key to one of the country’s best lyricists, one of the best bands working presently.

Minggu, 17 September 2017

Review | NKKBS Bagian Pertama Propaganda Usang, tapi Tak Hilang

Propaganda Usang, tapi Tak Hilang
Herlambang Jaluardi
image4
Polisi dan ormas, sama-sama berseragam, merangsek ke kantor Lembaga Bantuan Hukum Jakarta di bilangan Menteng, Sabtu (16/9/2017). Mereka menggagalkan pertemuan para penyintas peristiwa 1965. Dalihnya klasik: acara itu tak berijin. Bah!
Komunisme yang telah lama diluluhlantakkan—kini jadi dongeng di belahan dunia mana pun—masih menghantui negara rupanya. Padahal dulunya mereka juga yang memburu habis ideologi itu, partai dan orang-orang yang diseret-seret terlibat jadi hitungan statistik belaka.
Perihal benar dan salah tak lagi perlu diterangkan. Toh yang benar bisa dianggap salah, dan yang salah jadi benar. Tergantung propagandanya. Tergantung siapa (pemerintahan) yang melantangkannya.
Alia Swastika mengutip penjelasan Profesor Matteo Stocchetti perihal propaganda. Katanya, propaganda diperlukan setiap rezim pemerintahan. Tujuannya tak melulu untuk mengubah cara pikir masyarakat, tapi juga menginspirasi perubahan komunal, perubahan yang dikerjakan bersama-sama.
Maka rezim Orde Baru yang dipimpin Soeharto mendaraskan propaganda bahaya komunis pada awal kekuasaannya. Siapa pun yang terlibat kegiatan Partai Komunis Indonesia dianggap nista, tak layak hidup, tak pantas membela diri. Tuduhan pun tersebar layaknya cumbuan minyak tanah pada api. Orang-orang yang lahir sebelum 1965 gusar bukan kepalang; siapa saja bisa terkena tuduhan membabi-buta itu.
Teror itu tak berhenti pada mereka. Anak-anak mereka kena imbasnya pula. Mereka dipaksa menonton film manipulatif tentang pembantaian “orang-orang komunis”. Sejak 1980-an sampai Orde Baru tumbang, film itu diputar setiap tahun di televisi, di ruang-ruang keluarga. Sekolah kadang mewajibkan muridnya menonton.
Biasanya, keesokan harinya, kami anak-anak yang masih berseragam putih-merah itu membicarakan film horor sarat adegan penyiksaan itu di sekolah. “Darah itu merah, Jenderal!” adalah kalimat yang sering kami tirukan. Beberapa bocah-bocah berlomba-lomba menjadi Kapten Pierre Tendean yang mati melindungi atasannya, Jenderal AH Nasution. Ia muda, gagah, dan heroik.
Ah, lugunya kami kala itu. Cuci otak mereka, lewat film, berhasil.
Pengalaman bersinggungan dengan film itu juga mengendap di benak Ugoran Prasad, penulis lirik di kolektif musik Melancholic Bitch, selanjutnya disebut Melbi. Ugo dan semua kolaborator di Melbi lahir pada masa Orde Baru.
Kursi kursi bioskop penuh kutu
Naik dari bangku ke dalam saku
lalu menyelinap ke buku-buku
Lalu menggeliat menjadi hantu
Darah itu merah dipancar terang benderang ke layar lebar
Perempuan liar jangan dibiarkan main main pisau lipat

Itu adalah bait kesatu dari lagu “Bioskop, Pisau Lipat”, lagu pertama yang mereka sebarkan dari sepuluh lainnya di album baru NKKBS Bagian Pertama. Nuansanya cenderung mencekam walau musiknya berlanggam pop. “Pisau lipat” terdengar menyeramkan. Bait itu dilanjutkan dengan larik “kami pakai bendera sebagai seragam ketika digelandang ke bioskop jam sembilan”.
Dalam wawancara dengan Vice, Ugo membenarkan bahwa lagu itu adalah bangunan ulang dari pengalamannya “dipaksa” menonton film Pengkhianatan G30S/PKI ketika masih bocah.
Album penuh ketiga itu mereka luncurkan pada Sabtu (9/9/2017) silam. Tentu saja lagu itu mereka mainkan pula. Pertunjukkannya bagus, terlihat lancar hingga selesai. Sialnya, sepekan setelah lagu itu berkumandang di panggung untuk kali pertama, aparat negara masih menunjukkan bahwa propaganda itu masih berlaku. Propaganda bahaya komunis masih meneror warga, meski rezim telah berganti.
image3
Keluarga
Penggalan “kisah bioskop” itu adalah satu cukilan dari narasi besar album. Sebelas lagu dnegan durasi total 47 menit ini berbicara tentang keluarga, dan hal-hal yang terkandung di dalamnya. Ugo sebagai penulis narasinya, mengambil segi norma keluarga kecil bahagia sejahtera (NKKBS).
NKKBS itu adalah program konstruksi keluarga yang dilancarkan pemerintah Orde Baru, sejak pertengahan dekade 1970-an, sebagai penjabaran dari konsep keluarga berencana. “Dua anak cukup” adalah bentuk kampanye NKKBS, yang ujungnya mendengungkan pemakaian alat kontrasepsi. Urusan kawin-mawin disusupi negara.
Tujuan program itu bisa jadi mulia: demi kehidupan keluarga yang lebih sejahtera. Tapi pelaksanaannya tak semudah berucap. Urusan moral tak selesai hanya dengan menyarungkan kondom, atau memaksa perempuan pasang spiral. Coba simak lirik di lagu “Normal, Moral” ini:
“Ada guru Pendidikan Moral Pancasila terus menghantui sepanjang hidupmu,
sebab kau tak peduli saat dia dulu mati bunuh diri
setelah hutang menggunung, kalah judi”

Anak, yang katanya sebaiknya dua saja itu, kelak ketika besar juga dikisahkan menimbulkan riak bagi keluarga. Mereka merantau, pergi dari rumah. Program NKKBS tidak mengajarkan bagaimana sebaiknya orang tua menyikapi anaknya yang tak kunjung pulang. Anak juga bisa jadi tidak tahu harus pulang ke mana.
Pada lagu “Aspal, Dukun”, Melbi bernyanyi, “Sulung bermimpi ke tempat tinggi dan lupa jalan pulang. Bungsu anti kitab suci dan alim ulama. Paman cemas dengan tanda-tanda terutama pelanggan warung pindah agama waralaba.”
Sialan.
Demi “pertunjukkan NKKBS” itu aku pulang setelah lebih dari delapan belas bulan tak menginjakkan kaki di rumah, sok-sokan merantau. Sok-sokan mengatur alur hidup sendiri.
Tempat pulang itu sudah tentu berubah. Aku pakai jemputan yang kupanggil lewat aplikasi di ponsel. Ada lokasi parkir baru di stasiun. Ada kedai Starbucks di Jalan Kaliurang. Ada aspal mulus membelah sawah. Ada kanal televisi kabel di ruang tengah. Ada pendingin udara di kamar tidur. Ada keponakan yang menempati kamar lamaku.
Ada yang tetap: foto keluarga ala diorama NKKBS masih terpajang. Ada juga tempe garit hangat dan sambal bawang di meja.
“Desember diusahakan pulang lagi ya, le…,” pinta Bapak.(*)

catatan: Alia Swastika tercatat sebagai produser album NKKBS Bagian Pertama bersama Melancholic Bitch. Album ini diproduksi oleh Trauma Irama Rekord. Adapun kolaborator Melancholic Bitch untuk album ini adalah Richardus Ardita, Yennu Ariendra, Ugoran Prasad, Yossy Herman Susilo, Nadya Hatta, dan Danish Wisnu Nugraha. Kunjungi blog Kotakgelas mengenai profil Melancholic Bitch lebih detil.

Kamis, 14 September 2017

Yang mau beli CD



CD Album #NKKBSBagianPertama seharga 50K,
bisa diperoleh di:
Omuniuum,
Pengerat Shop,
Rilisan Fisik Kaset, Cd, Piringan Hitam,
Eternal Store Bogor,
Langensrawa Records

Kenapa Bikin Album Baru?


Lirik NKKBS Bagian Pertama

Not in any particular order
1. Normal, Moral
Hantu-hantu masa kecil
Bangkit dari tidurnya yang panjang
Hantu-hantu masa kecil, lepas
Berbaris dan bergerak
Pos Ronda Berencana
Babinsa Bahagia
Pak disepakpak para preman
Awas awas bahaya anjing gila
Ada guru Pendidikan Moral Pancasila
Di hari perkawinanmu
Di ranjang tempat kau bercumbu
Ia tidak senang, mendapati istrimu, tak lagi perawan.
Ada guru pendidikan moral pancasila
Terus menghantui sepanjang hidupmu,
Sebab kau tak peduli
Saat dia dulu mati bunuh diri
Setelah hutang menggunung, kalah Judi

2. Cahaya, harga
Radio mengumumkan kematian harga cabai
Bahan bakar minyak dicampur air untuk obat
Pusing pusing menahun sembuh dalam sekejap
Padamu negeri jiwa raga ampas kami
Radio mengumumkan kematian harga diri
Bahan bakar minyak dicampur hutang luar negeri
Pusing pusing menahun sembuh dalam sekejap
Padamu negeri jiwa raga gadai kami
Sebelum cahaya berubah bencana ia hanya api kecil di sudut ruang keluarga
Di sudut ruang keluarga, ia hanya ia cuma
Debar jinak udara;
Kau segera
Marabahaya
Mesti tiba tiba
Marabencana

3. 666, 6
6666 ayat
Tapi matematika kita cacat
6666 kalimat
Tapi tata bahasa kita sesat
Tapi cita cita kita singkat
Tapi kesimpulan kita tamat
apa yang rahasia apa yang benderang pula tak pernah bisa kau jinakkan lama-lama
apa yang berdarah dan luka apa yang terengah tak pernah bisa kau kurung dengan sejuta kerudung
apa yang surga apa yang neraka
kumpul kumpul tukang pukul
benda-benda tajam tumpul
kumpul kumpul tukang pukul
tajam tumpul pakai dengkul
otak dempul mulut bisul
sundal sundul tajam tumpul
kumpul kumpul otak dengkul
knalpot polpot otot ngesot
dedengkot kolot
semprat semprot knalpot
semprat semprot knalpot
Garis lurus patah pecah lalu terlipat
Sekilas sempat harapan

4. Selat, Malaka
….
Ia bertemu laki-laki itu di buku sejarah
Lalu mereka kencan di kedai
Melubangi waktu dengan mencerca astrologi
Cinta lahir dari judi dan menguat karena lampu mati
sehingga lampu mati
Aku nikahi engkau Tan Malaka
Dengan mas kawin tiket kapal laut seputar Asia, tunai
Anak-anak kita dulunya revolusi semua
Syukurlah kini sudah pada mati sempurna
Syukurlah kini empat sehat lima sempurna
syukurlah
Aku nikahi engkau Tan Malaka
Dengan mas kawin tiket kapal laut seputar Asia, tunai
Ia bertemu laki-laki itu di buku sejarah
Lalu mereka kencan

5. Dapur, NKK/BKK
Di dapur ibu berubah kupukupu
Di dapur
adik kecil lahir prematur,
adik kecil di makan anjing Tetangga mengecat rumah dengan darah Ungu darah kupukupu
Di dapur, hutang berubah bisik bisik Tetangga berubah polisi Berubah Imam Berubah kota….
darah kupu-kupu
tentara
Kota sudah dikepung tentara
Sudah dikepung tentara

6. Bioskop, Pisau Lipat
....
Kami pakai bendera sebagai seragam
Ketika digelandang ke bioskop jam Sembilan
Matahari naik lebih cepat dari sebelumnya
Mengintip dari belakang bioskop tua
bernama Raya
Kursi kursi bioskop penuh kutu
Naik dari bangku ke dalam saku
lalu menyelinap ke buku-buku
Lalu menggeliat menjadi hantu
Darah itu merah dipancar terang benderang ke layar lebar
Perempuan liar jangan dibiarkan main main pisau lipat
Perempuan liar jangan dibiarkan main main pisau lipat
Kami pakai bendera sebagai seragam

7. Aspal, Dukun
Aspal sampai di kampung terujung
Sembari memanggul, punggungnya,
jaringan waralaba, toko segala ada
Aspal sampai di kampung terujung
Di dapan warung dia tertegun
Aspal sampai di kampung terujung
Ini pasti jimat orang kota
Cantik pupuran seluruh parasnya
Ini pasti jimat orang kota
Cemas dan kita panggil dukun sekarang
Bapak bermimpi menyusui, Ibu tertenung bulan
Sulung bermimpi ke tempat tinggi dan lupa jalan pulang
Bungsu anti kitab suci dan alim ulama
Paman cemas dengan tanda-tanda terutama
Pelanggan warung pindah agama waralaba
Jangan ditanya kemana dia pergi
Bapak pergi ke dukun

8. Trauma, Irama
Kenang kukenangi malam kukenang
Malam di tanah lahirku kukenang
Rindu kurindu ibuku kurindu
Jauh disebrang lautan kurindu
Mimpi kumimpi tidur kubermimpi
Buruk mendengar irama
kampung menenung....
Trauma Irama
Denyut nadiku
Kembara
Trauma Irama
Terusir ku selamanya
berita anak malang tak bisa pulang
larung di lautan terkutuk hilang
Pergi kami, tak kembali, terus lari sampai kami mati sampai kami mati
Mati kami, tak kembali, terus lari
Sampai kau berhenti, sampai kau berhenti
Bumi kami tak kembali milik kami
Pagar besi dan perangkap kaki kami
Bumi kami tak kembali milik kami
Neraka kami ini neraka kamu nanti

9. Titik Tolak, Pelarian
Ada yang jatuh gelimpang
Diterabas laju larinya mengejar
Ada yang jatuh gelimpang
Dihajar mimpi-mimpi masa depan
Ada yang jatuh gelimpang
Mengejar dunia berburu senggama
Ada yang jatuh gelimpang
Diterabas penguatan batas negara
Ada yang jatuh gelimpang
Jatuh dengan lutut menghantam aspal
Ada yang jatuh gelimpang
Sebab deru larimu mengguncang
Kita dan pelarian
Dengus dan gusar, nafsu dan getar, merinding dan keringat di selangkangan
Dengus dan gusar,
Kita dan pelarian
Kita dan pelarian
Ada dada dan jantung dan degup dan deru dan dendam yang hidup dan
mati yang kini pantas kau tunda
Waktu menulis di wajahmu
Punggungmu, di kakimu

10. Peta langit, Larung
Ini malam sudah bulat
Untuk penat dan pelikat
Kita sepenuhnya milik cahaya
Sepijar
Sepijar
Malam telanjang di dadamu
Kita penat dan pelikat
Kita sepenuhnya jadi cahaya
Berpendar
Berpendar
Jatuh tubuhmu di peluk
Bahtera yang sesat terapung
Laut yang murung

11. Lagu untuk resepsi pernikahan
Cinta kita seret paksa sampai kemari
Cinta kita rampas dari mimpi dan tidur
luka-luka di lengan dan di kaki
bilur tajam di dahi dan di pipinya
Cinta kita seret paksa sampai kemari
Cinta kita renggut dari lidah puisi
Kering sehingga kemarau
Dahaga yang luas sampai disini
Tiba di sudut tak ternamai
Sebal cinta melamun sendiri
Kering dan kemarau
Kering
Cinta tinggal di rumah sekam

Artikel | Alasan Melancholic Bitch Membahas Keluarga Bahagia dan Rezim Suharto di Album Terbaru

Dari Vice. 

Alasan Melancholic Bitch Membahas Keluarga Bahagia dan Rezim Suharto di Album Terbaru

Kepada VICE, Ugoran Prasad—vokalis band legendaris Yogya ini —menjelaskan persoalan KB, tumbuh besar di bawah teror Orde Baru, dan penyebab album ketiga mereka butuh waktu penggarapan delapan tahun.

Foto-foto dari arsip band. Diunggah seizin Melancholic Bitch.
Setelah delapan tahun tak terdengar kabarnya, band asal Yogyakarta, Melancholic Bitch, tanpa banyak aba-aba merilis album penuh ketiga NKKBS Bagian Pertama yang berisi 11 lagu pada 9 September lalu. Setelah Balada Joni dan Susi muncul pada 2009, saya terpukau. Rilisan Melancholic Bitch terasa sangat segar, sebab mereka adalah salah satu band Indonesia yang masih punya nyali mengelaborasi gagasan besar untuk musiknya.
Saat mendengar Melbi, julukan band ini yang diberikan oleh fans, merilis album ketiga, saya tak sabar menantikannya. Bukan perkara musik saja, tapi karena saya penasaran seperti apa cerita di balik pembuatan albumnya kali ini. NKKBS Bagian Pertama rupanya membahas keresahan Melbi terhadap kontrol pemerintah dalam urusan terkecil—keluarga—hingga represi Orde Baru yang meneror batin para personel Melancholic Bitch yang kini tak bisa dibilang berusia remaja lagi. Sehari setelah pesta peluncuran albumnya tagar NKKBS Bagian Pertama sempat menjadi trending topic di Twitter selama empat jam.
Saya berbincang-bincang dengan vokalis Melbi sekaligus sastrawan, Ugoran Prasad, demi menyelami bermacam aspek dari konsep yang ingin mereka usung di album baru. Pria kelahiran Tanjungkarang Lampung, 6 Oktober 1978 ini adalah simbol Melbi itu sendiri. Selain lirik, dia pula yang menggodok konsep narasi utama dari album mereka. Ugo belakangan sering berpindah-pindah negara, seringkali resah, dan terus berusaha menantang diri sendiri untuk melampaui pencapaian artistik di masa lalu.

Kepada VICE, Ugo menjelaskan kenapa mereka tertarik membahas konsep keluarga kecil bahagia, bonus demografi, undang-undang anti-kontrasepsi, serta alasan Melancholic Bitch tak pernah peduli dengan review bagus atau jelek di website atau majalah musik.
VICE Indonesia: Album ini kalian sebut bagian pertama, apa nanti bakal dibikin semacam trilogi atau tetralogi? Kenapa butuh waktu pengerjaan delapan tahun?
Ugoran Prasad: Kami sih belum tahu akan bikin berapa banyak. Bagian pertama ini adalah semacam proses dengan banyak kolaborator. Di album selanjutnya nanti kita udah kebayang sih, pengin ngajak teman-teman lain buat kerja bareng, jalan-jalan, ngobrol-ngobrol. Sebenarnya di tengah-tengah waktu kemaren ada beberapa proyek di Melancholic Bitch, tapi yang paling menuntut untuk diselesaikan ya album NKKBS Bagian Pertama ini. Proyek lain enggak terlaluurgent. Album ini udah jalan beberapa waktu lalu, kami udah bikin demo, para kolaborator juga cepet banget langsung menggubah banyak hal, bereksperimen bareng dan terus berlanjut.
Dalam Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS), seolah-olah Rezim Suharto dulu bisa menjamin keluarga akan bahagia asal menuruti aturan pemerintah. Apakah itu keresahan yang membuatmu mengangkat tema ini?
Problem yang kami rasakan itu bukan pada konsep NKKBS-nya. Benar atau salah itu bukan persoalan. Tapi yang saya rasakan adalah presentasi konsep itu dalam lanskap politik dulu dan sekarang. NKKBS itu sudah menjadi semacam ingatan kolektif yang tertanam. Saya juga pengin bikin keluarga kecil. Namun di belakang itu pemerintah masih saja melakukan kontrol moral, politik dan sosial, belum lagi bias ideologi dan politik.
Bahagia itu apakah bisa diukur? Seperti apa keluarga bahagia untuk seorang Ugo?
Gagasan kebahagiaan itulah letak soalnya. Semua berhak punya mimpi untuk bahagia. Sekarang secara eksplisit pemerintah seolah-olah bisa mengatur kebahagiaan keluarga, makanya ada norma-norma keluarga. Keluarga hendak dijadikan agen perubahan. Ketika negara menstabilisasi peran keluarga lengkap dengan segala infrastrukturnya sampai level paling bawah seperti posyandu dan babinkamtibmas, di situ ada semacam gagasan sosial soal apa yang tabu dan tidak. Dulu mungkin pemerintah memakai cara-cara militer buat mengatur itu semua, tapi di era reformasi sekarang kami justru cemas, bagaimana pemerintah secara implisit beroperasi di sekolah dan keluarga?
Lantas apakah jargon 'banyak anak banyak rezeki' enggak relevan lagi ya?
Saya pribadi mikirnya ini persoalan problematis, secara ekologi enggak memungkinkan apalagi dari segi sumber daya alam. Perkembangbiakan manusia bisa berbahaya kalau enggak dikontrol. Tapi itu pilihan sih. Saya enggak melarang, mereka punya alasan sendiri.
Dari Twitter banyak netizen (sebenernya siapa sih netizen itu?) banyak yang komplain kok cuma main di Yogyakarta aja, kenapa enggak ada tur
Ya karena kendala waktu juga. Tur itu gampang lah, kita sih pasrah aja. Nanti kalau ada kebutuhan tur ya tinggal jalan aja. Saya kebetulan [sedang mukim] di Sidney tapi bisa lah bolak-balik ke Indonesia.
Dua tahun lalu DPR dan pemerintah menggodok revisi KUHP. Ada pasal yang bakal mengkriminalisasi siapa pun yang memamerkan kondom. Apa gagasan ini justru anti terhadap ide keluarga berencana?
Saya lebih melihat logika kontrolnya. Jangan sampai kayak soal kriminalisasi hijab di Perancis. Gampangnya apa orang harus pakai hijab karena tuntutan norma sosial? Enggak kan. Melarang pamer kondom itu bentuk opresi, seolah-olah negara itu adalah orang tua yang menganggap warga sebagai anak yang bodoh.
Konser NKKBS di Yogyakarta pada 9 September. Foto dari arsip Melbi.
Menurutmu, bisa ga kita punya konsep keluarga bahagia?
Enggak bisa lah ada konsep gituan. Kalau ada konsep diri yang ideal, gimana kita memaknainya? Kalau di Indonesia mungkin harus punya rumah, mobil, anak. Konsep bisa dibangun. Ideal itu yang gimana sih? Itu kan tergantung kondisi dan situasi.
Ada lirik 'Perempuan liar jangan dibiar/ ibu-ibu liar jangan diberikan pisau lipat' di lagu 'Bioskop, Pisau Lipat' single utama NKKBS. Itu cuma akrobat kata-kata, atau memang ada makna tertentu?
Awalnya saya khawatir soal impresi teks itu, tapi setelah ngobrol dengan Intan Paramadhita (novelis) saya lanjut aja. Ini soal demonizing gerakan perempuan di Indonesia. Kayak di film Pengkhianatan G30SPKI. Gerakan perempuan digambarkan sebagai monster. Di film itu secara harfiah ada adegan perempuan menari dengan liar. Itu impresi masa kecil yang melekat sampai sekarang. Maka saya bikin perempuan jangan dibiarkan main pisau lipat. Padahal di film itu harusnya perempuan memegang silet, tapi enggak tau yang melekat itu pisau lipat. Saya jadi harus belajar soal sejarah gerakan perempuan.
Lantas kenapa kamu menulis lirik 'digelandang ke bioskop jam 9' di lagu yang sama?
Itu bagian dari memori masa kecil menonton film G30SPKI, dulu pas SD kelas 3 atau 4 anak-anak wajib menonton film itu di bioskop. Saya ingat temen-temen perempuan pada menjerit-jerit. Itu dari awal adegannya kan sudah serem, ada rombongan menyerang masjid atau gereja gitu. Kita itu dibikin trauma oleh negara, kita tidak tahu efeknya. Secara psikologis negara harus bertanggung jawab.
Ngomongin soal propaganda Orde Baru apa masih relevan di Abad 21?
Saya enggak tahu. Saya juga enggak mau terlalu romantis. Yang jelas saya pengin ngomongin soal keluarga. Kalau soal relevansi, kita selalu bertaruh. Sejarah yang kita lihat itu parsial, kita cuma melihat fragmen-fragmennya. Bohong kalau ada orang bilang melihat sejarah secara utuh. Salah satu yang bikin kami teguh untuk mengambil isu ini karena kami melihat masih banyak orang membicarakannya. Saya tidak butuh menjadi orisinal, saya cuma ingin mengambil bagian dalam percakapan atau diskursus.
Kamu lebih suka dianggap penulis atau musisi?
Enggak penting. Saya itu amatir. Salahkan Asrul Sani yang bikin arti amatir jadi meleset. Amatir artinya kan mencintai, saya pengin mencintai sesuatu.
Saya beberapa kali nyinyir sama band dan nulis topik kontroversial soal musik. Menurutmu gimana sih kalau ada media yang nulis jelek-jelek soal Melancholic Bitch?
Mau nulis jelek atau bagus enggak masalah. Polaritas bagus dan jelek itu enggak penting. Menyukai sesuatu itu bisa jadi malah merasa bersalah. Ada aspek yang tidak bisa dijelaskan kenapa kita suka atau tidak suka terhadap sesuatu. Saya lebih suka ketika sesuatu itu mendorong obrolan, bukan kompetisi. Band-band sekarang lebih sibuk kompetisi kayak ikut Indonesian Idol. Itu cuma politik seni. Enggak bikin kaya pemaknaan, malah memiskinkan. Kalau suka silakan, kalau enggak ya udah.