Selasa, 18 Mei 2010

Mari Kita Ucapkan Selamat

untuk entah keberapa kalinya, melancholic bitch bikin situs resmi.
mari kita lihat tahan berapa lama. :)
silakan klik linknya berikut ini ya.

http://melancholicbitch.co.cc/

Dari Rolling Stone

Merayakan Fallentine Bulan April di Yogyakarta
Penampilan menarik dari The Trees and The Wild, Melancholic Bitch, Armada Racun dan sebagainya.
Oleh : Ardi Wilda

Adalah Forum Musik Fisipol (FMF) UGM yang menggagas acara tahunan bertitel Fallentine#3 pada Jumat malam (2/4) lalu sebagai antitesis dari perayaan Valentine atau hari kasih sayang. Fallentine sendiri merupakan sebuah konsep pertunjukkan yang memadukan sebuah band dari luar Jogja untuk bermain bersama dengan beberapa band dari Jogja sebagai sarana untuk bertukar spirit musikalitas. Tahun ini The Trees and The Wild dipilih sebagai band tamu sekaligus untuk bermain bersama empat band lokal Jogja.

Fallentine kali ini menamakan pertunjukkannya dengan “Hasta Manana” sebuah istilah bahasa latin yang berarti sampai berjumpa kembali besok. Hasta Manana sendiri merupakan nama yang kerap digunakan oleh The Trees and The Wild dalam setiap showcase mereka sebagai sebuah ungkapan dan harapan agar bisa bertemu kembali dalam pementasan selanjutnya.

Fallentine#3 Hasta Manana dibuka oleh penampilan dari Individual Life, band instrumental asal Jogja yang berdiri pada 2007 lalu. Beranggotakan sembilan orang termasuk di dalamnya Quartet String, Individual Life berhasil membawa penonton untuk mulai larut dengan pertunjukkan di Jumat malam lalu. Selesai larut dengan instrumentasi dari Individual Life penonton dimanja oleh penampilan dari Black Stocking. Meski tak bermain bersama pemain bas dan piano aslinya namun Black Stocking mampu menyedot perhatian dengan paduan sound rock, jazz dan sedikit funk di pertunjukkan ini. Band jebolan Indiefest ini berhasil untuk memanaskan penonton sebelum penampilan dari band rock and roll asal Jogja, Armada Racun.

Dengan duo bass yang memainkan musik rock sangat kotor dan seorang pianis dengan sound menyayat-nyayat Armada Racun membawa penonton untuk mulai meninggi sebelum diteduhkan oleh The Trees and The Wild. Armada Racun di pertunjukkan ini juga memainkan lagu baru mereka yang dibuat dua hari lalu, selain tentunya memainkan nomor lama mereka macam "Train Song". Dan Armada Racun menyebarkan racun rock kasar mereka dengan sangat gemilang melalui nomor penutup yang sangat anthemic, apalagi kalau bukan lagu mereka yang berjudul "Amerika".

Setelah puas dengan sound rock kotor ala Armada Racun giliran tembang-tembang folk yang meneduhkan dari The Trees and The Wild hadir di tengah penonton. Bagi band yang meneguk sukses lewat album Rasuk ini, pertunjukkan kali ini merupakan showcase pertama mereka di Jogja.

Mereka membuka penampilan dengan lagu "Berlin" yang disambut sangat meriah oleh sebagian besar penonton. Band dari Jakarta ini kemudian menyajikan beberapa lagu andalan mereka mulai dari "Malino", "Kata", "Honeymoon on Ice" sampai "Irish Girl". Meski banyak mengalami masalah teknis namun pertunjukkan pertama mereka di Jogja ini terbilang sukses. Trio akustik ini kemudian menutup showcase mereka dengan tembang "Derau dan Kesalahan" yang disambut dengan sing along oleh mayoritas penonton perempuan malam itu.

Fallentine #3 ditutup oleh penampilan dari Melancholic Bitch, band yang baru saja sukses mengangkat nama Jogja bersama Risky Summerbee and The Honeythief dengan penampilan mereka di Teater Salihara Jakarta yang banyak mengundang respon positif dari scene musik ibukota. Melancholic Bitch atau Melbi lebih banyak menyajikan lagu lawas mereka dari album Anamnesis dan beberapa lagu dari album Balada Joni dan Susi.

Di pertunjukkan ini Ugo sang vokalis juga mengajak Andrea, seorang pianis Jogja yang belum lama ini bermain bersama Risky Summerbee and The Honeythief dan Tika saat mengadakan konser di Jogja, untuk menyanyikan "Distopia". Sekitar tengah malam Fallentine#3 Hasta Manana merampungkan keseluruhan pertunjukkan, sebuah konser apik dari empat band dari scene lokal Jogja dan sebuah band dari ibukota.

Dari Rolling Stone

Pertunjukan menghentak dari band cerdas Yogyakarta
Oleh : Wening Gitomartoyo

Di dalam gedung pertunjukan, panggung dihias dengan empat payung terbuka yang mengambang beberapa meter dari permukaan tanah. Melbi (panggilan akrab Melancholic Bitch) memulai dengan “Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate San Fransisco”, yang diambil dari album pertama me-reka, Anamnesis (2005), sebuah cover version dari musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono berjudul sama. Mereka melanjutkan dengan album brilian Balada Joni dan Susi (2009), bercerita tentang sepasang kekasih yang dicobai oleh hidup.
Melbi adalah vokalis Ugoran Prasad yang juga aktif di dunia sastra Indonesia, gitaris Yossy Herman Susilo dan Yennu Ariendra yang juga memainkan synth, pemain bas dan keyboard Teguh Hari Prasetya, dan pemain drum Septian Dwirima. Kolektif yang dibentuk akhir ’90-an ini punya kemampuan menghasilkan atmosfer rock yang mengungkung dan mencekam, serta lirik yang menohok.
Mengikuti urutan lagu di album, Melbi mengulang kisah Joni dan Susi. Ketukan yang berpacu dari “7 Hari Menuju Semesta” mengantar pikiran masuk ke dalam hidup sepasang kekasih itu. “Distopia” membawa dunia yang meriah dan ber-tabur warna dengan hadirnya sinden Silir Pujiwati yang berduet dengan Ugoran. “Mars Penyembah Berhala” yang bertenaga menyusul, sebuah ‘lagu cinta’ pada stasiun-stasiun televisi menyuguhkan Ugoran yang merentetkan amanat: “Siapa yang membutuhkan imajinasi/Jika kita sudah punya televisi”.
Sekitar 150 penonton sibuk mengayun kepala dan bernyanyi bersama. Melbi sendiri bermain eksplosif: emosi mereka demikian nyata di album, tapi ketika di panggung, segalanya seolah beratus kali lipat. Dengan sound yang sangat baik dan permainan lampu yang atraktif, segala-galanya seperti dilambungkan. Suara Ugoran terdengar lebih berat, lebih geram, lebih muram. Sentuhan-sentuhan kecil tapi mematikan dari gitar atau keyboard terdengar lebih menggaung dan menekan. Walau di awal pertunjukan terlihat gugup, mereka tak butuh waktu lama untuk bisa bermain lepas, sambil sesekali melemparkan lelucon pada penonton.
Lagu-lagu penghujung album yang juga menjadi penutup pertunjukan adalah vonis Tuhan tentang Joni dan Susi. Kisah cinta yang terpaksa putus menjadi dinding-dinding muram yang berdiri di Salihara. “Menara” menjadi semacam misa kematian dengan gitar yang melintir dan merintih sepanjang lagu.
Encore adalah tiga lagu dari Anamnesis: “Tentang Cinta”, “Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa”, dan “The Street”. Terkenal jarang manggung, Melbi di malam itu berhasil membekaskan rasa kagum yang tak kunjung selesai.