Dari
GilaNada
[Ulasan Konser] Limunas Trauma, Irama : Mitos Itu Benar- Benar Nyata!
Ini konser apa ulangan bahasa Indonesia?
Malam Minggu (14/10), Bandung macet dan aku tak henti memaki situasi.
Klakson mobil saling bersahutan, ada juga yang memaki angkot yang
kutumpangi karena si sopir berhenti dimana pun seenak jidat. Menyebalkan
memang, semua orang tak bisa membaca, semua orang tak bisa mengeja,
sedangkan Susi sedang menunggu di Institut Francais Indonesia (IFI)
Bandung, dibawakan Melancholic Bitch, mengemis-ngemis minta ditonton.
Aku tiba di IFI pukul delapan. Masih memaki-maki situasi karena tak
bisa menonton Jon Kastella yang hendak jadi pembuka acara. Dua hari
sebelumnya, aku berjanji pada Bang Jon -sapaan akrab Jon Kastella- bahwa
aku hendak menonton setiap performa dia. Suaranya merdu, syahdu, dan
benar-benar besar; mungkin sebanding dengan ukuran tubuhnya yang gempal
dan wajah yang selalu tersenyum.
Meski demikian, penampilan lain cukup memukau untuk membuka konser
ini. Hari ini adalah konser Liga Musik Nasional (Limunas) yang aku lupa
sudah memasuki rangkaian ke berapa semenjak konser pertamanya;
Rajasinga, Kelelawar Malam, dan Vrosk sekitar enam tahun lalu.
Kali ini, helatan Limunas diberi judul
Trauma, Irama yang
dibawakan oleh Melancholic B1tch (Melbi), band aneh yang kerap muncul
sebagai mitos. Bikin album tak tentu kapan waktunya, bikin konser tak
tahu kapan waktunya, dan menghilang lagi tak tahu kapan waktunya. Aneh
memang, kerjaannya bikin rindu penggemar dan vokalisnya, Ugoran Prasad
seringkali seenak jidat membakar rokok di ruangan ber-AC. Menyebalkan.
Sebagai pembuka acara, Jason Ranti hadir untuk membantuku memaki
situasi. Liriknya ngehe, dan membuatku tertawa puas. Semenjak
kedatanganku, setidaknya ia membawakan tiga lagu untuk kusaksikan. Dua
lagu, “Suci Maksimal” dan “Do’a Sejuta Umat” berasal dari album Akibat
Pergaulan Blues dan satu lagu baru yang entah apa judulnya, pokoknya
berisi tentang bagaimana seorang etnis Tionghoa melindungi istrinya yang
hamil tua menjelang aksi 212. Setidaknya, penampilan Jason Ranti cukup
memukau tadi. Apabila dideskripsikan dalam satu kalimat; Jason Ranti
adalah Iwan Fals yang sedang konsumsi segaris marijuana.
Yha.
Panggung cukup gelap waktu itu. Tak ada properti apa-apa selain
sebuah manekin raksasa yang mengenakan pakaian sipil yang sedang
dibungkus
blackbag entah oleh siapa -mungkin oleh Creepy Creedy
dalam film V for Vendetta atau mungkin oleh Penembak Misterius (Petrus)
yang jadi momok paling menakutkan di era Orde Baru (Orba).
Konser ini sendiri merupakan rangkaian tur Melbi untuk mempromosikan album barunya yang berjudul
NKKBS Bagian Pertama.
Secara keseluruhan, album ini mengisahkan tentang berbagai cara yang
dilakukan Orba untuk mengontrol masyarakatnya dari berbagai aspek. Mulai
dari aspek terkecil seperti keluarga lewat program Norma Keluarga Kecil
Bahagia Sederhana (NKKBS), kekerasan budaya lewat film
Pengkhianatan G30S-PKI karya Arfin C. Noer, hingga cara-cara gelap lainnya.
Band ini aneh, ungkap Jeje -panggilan akrab Jason Ranti- saat
memersilakan band aneh ini naik ke panggung. “Ini band jarang maen, tapi
efek gitarnya seambregan,” kata Jeje yang disambut oleh tawa penonton.
Jeje pergi, manekin tinggal sendiri beserta instrumen lain yang sudah
disiapkan. Di tengah panggung ada Oscar -piano milik Leilani Hermiansih
alias Frau, sendirian ditinggal sahabatnya yang kini sedang di Berlin-
yang dimainkan oleh Nadya Hatta. Sebentar kemudian, Ugo sang vokalis
datang menyusul dan dilanjut dengan kedatangan personel lainnya. Apabila
sebelumnya kita hanya mengenal Ugoran Prasad pada vokal, Yennu Ariendra
pada gitar, Yossy Herman Susilo pada gitar synthesizer, dan Septian
Dwirama pada perkusi, maka kali ini Simelbi mendapat dua personel
tambahan; Nadya Hatta (Individual Life) pada piano dan Danish Wisnu
Nugraha (FSTVLST) pada perkusi yang menggantikan posisi Septian.
Lampu gelap, musik dimulai, Ugo marah karena Yennu telat dan Nadya main piano sendiri. Sebagian penonton terdengar berceloteh;
“Kapan dong mau ngerokok?”
“Kalian pengen banget lihat saya merokok?” jawab Ugo. Penonton tertawa, musik pertama dimainkan.
Lagu pertama dibuka dengan “
Departemental deities and the other verses” yang merupakan trek pembuka dari Anamnesis dan
Re-Anamnesis;
rilisan terakhir mereka paska Joni dan Susi. Semua penonton mulai
menyanyikan musikalisasi dari puisi milik Rudyard Kipling ini. Atmosfer
mulai terbangun, sekejap kemudian seluruh IFI terdengar semakin riuh.
Lagu dilanjut dengan “Norma, Moral” yang terbilang cukup anthemic.
Tepat di belakang Ugo, ada sorotan slideshow berisi lirik lagu. Penonton
menyanyikan
reffrain yang memaki Orba secara blak-blakan lewat termin yang lantas berubah jadi jargon; “
Pos ronda bahagia/ Pak disepak para preman/awas-awas bahaya anjing gila/Ada guru Pendidikan Moral Pancasila.” Apabila Orba masih hidup, semua penonton mungkin sudah menjadi properti panggung; dibungkus
blackbag dan mayatnya hilang entah ke mana.
Setelah “Norma, Moral”, Melbi kembali membawakan beberapa trek dari
NKKBS Bagian Pertama
seperti “Dapur, NKK/BKK”, dan “666,6” sebuah kritik terhadap hegemoni
yang telah tercipta hingga saat ini. Otak manusia jadi tumpul,
kebanyakan dicecoki pemahaman agama secara mendangkal hingga Ugo harus
‘mengetes penonton’ untuk menghapal lirik-lirik Melbi.
“Kita lihat, sejauh apa kalian mampu menghafal lagu-lagu kami,” tantang Ugo.
“Dapur, NKK/BKK” dimainkan. Teks di
slideshow benar-benar hilang, semua penonton tetap
sing-along. Semua orang mendadak gila seperti lagunya;
Kota telah dikepung tentara! Ini gila,
ini konser apa ulangan bahasa Indonesia?
Tak terasa, dua belas trek
NKKBS Bagian Pertama sudah
dibawakan. Trek terakhir dari album ini “Cahaya, Harga” berhasil menarik
animo penonton yang seolah sudah hafal di luar kepala liriknya.
Perlu diingat, menonton Melbi adalah mitos. Mitos seperti kata
Barthes, seni bertutur paling mendasar dari manusia. Mitos bukan hanya
sekadar cerita-cerita tentang dewa, tentang Tuhan, atau tektek bengek
lainnya. Selama ia dipercaya oleh manusia, aspek budaya sekecil apapun
layak disebut mitos, tak terkecuali menonton Melbi di mana semua
penonton bisa bernyanyi sampai mampus.
Paska menyanyikan trek dari
NKKBS Bagian Pertama, Melbi
membawakan kembali lagu-lagu dari Balada Joni dan Susi serta Anamnesis.
Trek pertama dibuka dengan “Akhirnya Masup Tipi”. Penonton cukup
antusias, dan tak hentinya berteriak; “
Susi ajarkanlah pada mereka/ bagaimana caranya mengeja,” berulang-ulang dan tak ada yang mampu membacanya hingga saat ini.
lagu lantas dilanjut dengan “7 Hari Menuju Semesta”, “
The Street“,
dan “Tentang Cinta”, dua lagu andalan dari album Anamnesis yang
diteruskan di puncak keriuhan acara; “Mars Penyembah Berhala” dimainkan.
Semua penonton bernyanyi, ada beberapa yang melakukan
crowd-surfing. Sebuah momentum menakjubkan untuk konser balada.
Penonton lelah, penonton terlalu lama bermain seharian, “Nasihat yang
Baik” pun dibawakan. Sebagian penonton ingin dangdutan, minta
“Dystopia” dimainkan, namun tak digubris. Lagu tetap dilanjut dengan
trek lain dari Balada Joni dan Susi; “Dinding Propaganda” dimainkan.
Menjelang dua lagu terakhir, asap rokok berkecamuk di tengah panggung. Band ini brengsek memang, merokok
kok
di ruangan ber-AC. Sebagian penonton ada yang mengeluh dan Melbi
bersiap untuk pergi. Semua peralatan dirapikan kembali tapi penonton
tetap minta encore. Joni pasrah, mereka memberikan dua trek encore,
“Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa” pun dinyanyikan
hingga penonton bahagia.
Konser ini sendiri ditutup dengan “Menara”, lagu terakhir dari
Balada Joni dan Susi. Penonton riuh kembali, sambil berteriak mereka mengumandangkan
anthem terakhir; “
Membuka lahan kebun apel/ seperti Tuhan/ lalu kita dirikan menara yang tinggi/ lebih tinggi,”
mereka tengadah, seperti Joni, seperti Susi. Total 22 lagu dibawakan
Melbi, konser ditutup dengan lulabi yang dikumandangkan bukan untuk
Joni, bukan untuk Susi, ataupun sekawanan Joni, maupun sekawanan Susi. “
Tidurlah Isra, tidurlah Ilana“.
Mengutip Anna Karenina; sebuah keluarga bahagia, bahagia bersama-
sama, keluarga tidak bahagia, tidak bahagia dengan caranya masing-masing
(Lev Tolstoy, Anna Karenina, 1877).