Minggu, 01 Februari 2015

Dari Okky

Dapet email dan tulisan dan telat banget dimasukin sini. Maaf dan terimakasih atas kirimannya!
O ya, karena tulisannya panjang, di bagi dua postingan ya.. :)

Tulisan Melbi
From : reski okky


Permisi, Maaf mengganggu,

saya okky,
salam kenal sebelumnya, sudah lama saya menyimak blog kotak gelas, dan menemukan banyak tulisan bagus tentang melbi, sebuah blog yang didedikasikan untuk mereka yang menggemari grup ini dalam skala yang tidak main-main. saya pun pernah memberanikan diri menulis tentang mereka. meski saya tidak tau juga tulisan ini bagus atau tidak. benar atau salah. saya hanya ingin berbagi kesukaan pada melbi dengan mereka yang sama-sama menyukainya. berikut saya lampirkan tulisan saya, sebelumnya tulisan ini pernah saya muat di kanal keroyokan dengan beberapa teman: mengebiriwaktu.tk.

terima kasih untuk perhatiannya, salam.
okky 

*********


Menghidupi Narasi-Narasi Yang Tidak Sekedar 

Sepengalaman saya, sesungguhnya saya hampir tidak pernah terinspirasi oleh keindahan kasih kinasih di sekitar saya, semuanya sudah terasa hambar, saya merenung dan berfikir mengapa hal seindah cinta kini bisa hadir begitu banal di permukaan, mungkin saya yang salah dalam mengantisipasi semangat  zaman, atau saya telah dikalahkan. Semangat zaman berlari begitu cepat dan saya terseok-seok mengejarnya, saya mendapati sekeliling saya, dimana segalanya begitu terstandarisasi - dalam  mengemas cinta dan mengumbarnya, lagu-lagu yang tidak puitis, film-film yang stagnan dan sinetron-sinetron yang ajaib.

Beruntung saya terselamatkan,  menemukan katarsis, saya yang babak belur dipukuli zaman menemukan oase, obat penyembuh dan seketika ada embun yang bermunculan di kerongkongan saya, lirik-lirik gelap yang puitis, semangat cinta yang begitu rock n roll namun romantis segera membekap alam atas dan bawah sadar saya. Pernyataan-pernyataan cinta semacam inilah yang sesungguhnya saya nantikan dalam hidup saya, ia begitu jujur dan polos, mengumbar realitas sepenuhnya dan bukan sesuatu yang semu. Saya menemukan keberadaan saya pada band ini, ada sesuatu yang dalam pada tubuh Melancholic Bitch, ya band itu, sesuatu yang ketika saya tenggelam masuk ke dalamnya, bisa dipastikan saya begitu sulit keluar, melainkan terus terhempas semakin dalam, dan dalam. Saya menikmati kedalaman isi yang dipaparkan Melancholic Bitch.

Melancholic Bitch adalah band asal Yogyakarta yang terbentuk di akhir tahun 90an. Beranggotakan Yosef herman Susilo (Electric-Acoustic Guitar, Mix-Engineer), Ugoran Prasad (Voice, Lyric), Yennu Ariendra (Electric Guitar, Synth, Laptop), Septian Dwirima (Percussion, Laptop); The Wiryo Pierna Haris (guitar), Richardus Ardita (bass,voice). Collaborating artist for Menuju Semesta: Faiz Wong (Drum and Synth0 dan Anton W.A (Sound Enggineer) seperti yang tertera di laman kotakgelas.blogspot.com, sebuah blog yang diperuntukan bagi banyak orang untuk saling berbagi (melalui tulisan) tentang Melancholic Bitch.

Lagu-Lagu Cinta yang Tidak Begitu
Saya bisa mengambil beberapa lagu dari Melanchoic Bitch, agar lebih terstruktur, baiknya saya akan membuka dari album pertama mereka, ‘Anamnesis’ yang rilis di tahun 2004, perkenalan personal saya dengan album ini agak terlambat, yaitu kala Melbi (Melancholic Bitch) sedang hangat-hangatnya merilis album keduanya ‘Balada Joni dan Susi’, track-track Anamnesis yang dibiarkan gratis di laman last.fm mereka saya donlot satu persatu, setelah sebelumnya seorang teman memberikan lagu-lagu dari ‘ live at ndalem Joyokusumandalam format mp.3.

Pada album Anamnesis, Melancholic Bitch menjabarkan beberapa larik cinta di luar kaidah yang ada, setidaknya bagi saya personal, lagu-lagu seperti, ‘tentang cinta’, ‘off her love letter’, ‘sepasang kekasih yang bercinta di luar angkasa’, juga ‘my feeling for you now’, mengajarkan saya bahwa ada lagu cinta jenis lain yang tidak selamanya glamor dan mengumbar pernyataan cinta yang permukaan; ‘aku cinta kamu, sayang kamu, segalanya kamu, lebih baik mati tanpamu’, ia mendobrak penulisan lagu cinta dengan lirik seperti,

wake up, don’t you hide now. sometime this morning someone, takes you on the run. breathe up all you can somehow, sometime this morning someone will take you run. takes you run. takes you on the run, you can. (somebody someone to feel you, to heal you, somebody someone to kill you, ever and ever.)” atau seperti “kita adalah sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa seperti takkan pernah pulang (yang menghilang) kau membias di udara dan terhempaskan cahaya. Seperti takkan pernah pulang, ketuk langkahmu menarilah di jauh permukaan.” Sangat monumental, lirik-lirik ini membuat saya berfikir bahwa lagu cinta sebenarnya bisa dibahasakan dengan begitu puitis dan melenakan, bukan membosankan seperti yang kebanyakan kita lihat di tipi.


Resistensi Dilahirkan dari Kisah Cinta
Di album keduanya Melbi, ‘Balada Joni dan Susi’ musik mereka disajikan lebih dahsyat lagi, Melbi membuat album konsep yang bercerita dari lagu pertama hingga  lagu terakhir, kisah perjalanan cinta Joni dan Susi.

Syahdan,
“Ketika Joni dua satu dan susi sembilan belas,
hidup sedang bergegas di reruntuh ruang kelas
kota-kota menjalar liar dan rumah terkurung dalam kotak gelas,
dingin dan cemas.
Namaku Joni,
namamu Susi.
Namamu Joni,
namaku Susi.”

Melbi mengawali abum mereka dengan outro begitu, sebuah larik dan musik yang begitu menyentuh, memaparkan dua orang kekasih yang hidup di zaman yang serba cepat namun tak hangat. Modernisasi dimulai dan sisi-sisi kemanusiaan perlahan mulai ditinggalkan, ada resistensi yang dijabarkan.

Pertama mendengarkan album ini, cd-nya tak bosan saya putar di player saya, terlebih saya berkesempatan menyaksikan penampilan mereka di Salihara, juga menyusul ke Mitos Melankolia, di at america dan Menuju Semesta di IFI bandung, putaran cd itu mengantarkan saya mengunjungi mereka bermain secara live.

Joni dan Susi yang kasmaran di album itu lantas menyatakan ingin berbulan madu, mereka yang berangkat dari keterbatasan materi rupanya ingin juga bermimpi mencicipi hidup sebagai orang kelas atas.
“Pejamkan mata kita di atas kapal di kanal Venesia.
Jangan bergerak terlalu kencang
Kau terlalu kencang
Terlalu kencang, lalui nepal, tanpa sempat singgah di oslo dan budapest. Kencang tanpa sempat nanking, tanpa sempat rio, tanpa sempat lima, tanpa sempat, kencang tinggalkan capetown.
Rentangkan kedua tangan, jangan hilang keseimbangan.”

Ikatan cinta mereka – seperti juga perasaan saya yang berdebar-debar mengikutinya – semakin kuat, mereka dengan ketidakstabilan usia muda, memproklamirkan cinta mereka,

“Katakanlah jika aku Israel kau Palestina; jika aku Amerika, kau seluruh dunia; jika aku miskin kau negara; jika aku mati kau kematian lainnya”.

Pada lagu itu bukan hanya musiknya yang begitu menghentak bersemangat, tapi liriknya begitu kuat, bagaimana mereka membuat metafor pasang-pasangan dalam skala yang luas, menyasar konflik timur tengah, yang seolah jika Joni Palestina maka Susi adalah Israel, jika  Joni Amerika maka Susi adalah seluruh dunia yang terdikotomi secara otomatis, jika Joni Miskin maka Susi adalah Negara (negara yang ikut “memelihara” kemiskinan). Ada gugatan yang disampaikan.  

Joni dan Susi ingin melakukan semuanya berdua, memupuk harapan berdua, dan mengisi dunia mereka berdua. Pada semesta mereka ingin selama-lamanya berdua. Begitulah cinta membawa mereka. Melancholic bitch begitu apik dan piawai mengemas perjalanan mereka, musik yang mereka besut pun begitu rancak, energik sampai irama dangdut remix pinggiran.

Resistensi kembali dilakukan Melbi dalam Balada Joni dan Susi lewat lagu ‘Mars Penyembah Berhala’, mereka mengkampanyekan imajinasi yang tidak hidup dari budaya masyarakat kita yang nyandu menonton televisi, hingga daya jelajah otak kita untuk melakukan hal kreatif menjadi mandeg karena diserap tayangan televisi, siaran yang hanya bermodal rating dan pemasaran iklan. Siaran yang oh mendidik? Budaya pasif konsumtif kita begitu memprihatinkan, sampai-sampai segalanya ada di tivi dan identitas kita dibentuk oleh televisi.

Pada akhirnya kisah Cinta Joni dan Susi adalah kisah cinta yang mengharukan sekaligus mengkhawatirkan karena realitas yang diangkat berdasar dari kondisi sosial masyarakat kita, kala pelarian mereka ternyata menempuh kemiskinan dan lapar mendera, tak ada cara lain yang harus diupayakan Joni selain mencuri, ini betul romantis karena Joni melakukannya untuk Susi atas nama cinta, Susi yang demam dan terbaring gemetar, Joni yang tak berputus asa.  Joni yang lantas dicekal pundaknya, dibanting punggungnya ke aspal, dihantamkan hukuman Tuhan di wajahnya, Joni yang memperjuangkan dirinya untuk bisa menahan rasa sakit dan lapar Susi dengan sepotong roti atau sebuah apel. Tapi Supermarket dan orang-orang lantas memerangkapnya.  Joni pun akhirnya masuk televisi, sebagai pesakitan ia kukuhkan cintanya yang nyata, sementara itu, “Di jalan tertulis jejak luka, pemerintah tak bisa membacanya. Susi ajarkanlah pada mereka bagaimana caranya mengeja.” Pemerintah alpa, selalu bolos masuk pelajaran membaca Susi, dari hari ke hari, semakin alpa, persis hari ini saat di beberapa titik daerah terjadi pergolakan, gesekan antara pemodal yang dibeking aparatur negara melawan warga, perampasan tanah rakyat di Rembang-Karawang adalah yang paling mutakhir dan ya akan sangat mungkin ditemui kisah cinta Joni dan Susi di sekeliling kita.

 Gramsci menuturkan bahwa perjuangan melawan ketidakadilan kapitalisme dan menuju jalan pembebasan bukan hanya milik buruh dan partai pelopor, lewat intelektual organik, siapapun bisa join memposisikan dirinya dalam barisan perjuangan. Guru, wartawan, dokter, siapapun, juga seniman dan lain sebagainya.  Sementara itu hari ini kita seringnya lupa, bahwa hidup yang semakin hari dijalani sebenarnya menyimpan ancaman yang laten, kesibukan kerja harian dan hedonisme akhir pekan membutakan alam bawah sadar kita bahwa dunia berjalan dengan tidak baik-baik saja, tapi siapa yang masih akan perduli?


Hidup yang Harus Dijalani Meski Sendiri
Dalam hidup tak selamanya apa yang kita mau bisa kita dapatkan dengan mudahnya, seringnya kita harus berusaha, alim ulama menganjurkan untuk berdoa, sehingga ikhtiar dan doa menggenapi apa yang kita inginkan. Tapi ketika ikhtiar dan doa sudah kita lakukan sebaik-baiknya, namun asa belum juga sampai, bagaimana harus menyikapinya? Saya kembali diingatkan bahwa hal itu betul akan –pernah - mungkin terjadi pada kondisi psikologi kita, Melbi sepertinya menuangkan realitas hidup semacam ini dalam Debu Hologram, “yang kau inginkan tak kan kau dapatkan; takkah kau merasa didera mual? Tak kah kau merasa di dera muak? Lepas segala yang kau inginkan; lepas segala yang kau dapatkan”  hidup yang akan sangat mungkin kita habiskan hanya untuk bermimpi dan kita perlahan enggan, enggan bermimpi, kita ingin sekedar sendiri, karena di luar segala telah riuh dan kita ingin sunyi. Sendiri. Hidup menawarkan realitas yang tidak semuanya bisa diukur. Dan kita ingin bebas. Ikhlas.

Hidup pun terus berlanjut, hidup yang kita jalani sejak usia dini, meski orang tua, guru, dan para bijak telah mengingatkan prihal ini dan itu, toh pengalaman-pengalaman  juga yang membuat kita memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Pengalaman kita yang bersendiri. Kita mengalami hal-hal yang semu, menyakitkan, luka, pahit getir, seolah-olah kita dipaksa menjadi batu  - kebal  dan menyimpan perasaan-perasaan itu dalam tubuh kita sendiri. Melbi menuangkannya dalam Kita Adalah Batu,

di luar hidup sialmu, di luar sisi tubuhmu; di luar yang kausentuh, di luar hanya sepi, membisu. di luar kisah sedihmu; di luar sesak napasmu; di luar yang kau buru; di luar igau mimpi burukmu
bernapas di celah waktu dan ruang yang mencekikmu: kita adalah batu
setiap awal musim kita siapkan segelas rasa sakit dan kehilangan
;kita siapkan semangkuk rasa perih dengan kebencian
;kita kan terjaga selamanya.”

Adakah kemudian kita betul telah menjalani hidup yang lengkap? Saya pikir iya, kita sudah menjalani hidup yang lengkap, diri kita menerima segala yang hadir dalam kehidupan ini melalui proses, meski bersendiri, dan itu adalah waktu saat kita berkontemplasi. Lalu menuangkan lagi segala apa yang sudah ‘diterima’ dalam pemikiran baru atau sebagai daya kreatif. [rsk]  



























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar